High Risk Low Battery, History

Celoteh tentang zamhigh risk2an-zaman SMA sepertinya sangat menarik untuk diangkat ke permukaan kembali. Kalau di buat komparasi, zaman SMA sepertinya akan lebih unggul dibanding dengan zaman lain. Lihat saja zaman prasejarah dengan berjuta kejadian di dalamnya. Ane rasa hanya menarik untuk para arkeolog. Kehidupan dan peninggalan manusia purba akan menjadi obyek yang menarik bagi para arkeolog. Mungkin tidak hanya arkeolog, anak sekolah juga tertarik dengan zaman prasejarah. Namun ketertarikan itu cuma modus untuk mendapatkan nilai bagus dalam mapel sejarah.

Ada lagi yang namanya zaman penjajahan. Zaman di mana negeri kita tercinta di injak-injak oleh para penjajah dari Belanda, Jepang, Portugis, dan negara lain.  Kisah-kisah pahit di masa lalu memang menyisakan luka dan kesedihan yang mendalam melebihi dalamnya sumur di daerah perbukitan. Luka dan kesedihan itu ane rasa juga merupakan alasan yang tidak cukup baik untuk menjadikannya sebagai cerita yang menarik karena di dalamnya terdapat seonggok rasa dendam yang membara. Padahal sesama manusia tak boleh menyimpan dendam. Janganlah ada perdendaman diantara kita!!!!

Masa SMA tidak akan menarik tanpa adanya berjuta kisah unik nan ciamik serta menggelitik yang seringkali membuat panik. Kisah persahabatan dan percintaan maupun persilangan antara keduanya ( sahabat jadi cinta atau cinta jadi sahabat ) menyajikan alur yang menarik untuk diikuti. Mulai dari cerita sedih, duka, lara, gembira, senang, sampai girang ada di zaman unyu2nya muka ane itu. wuuueeeeek. Cerita manis, asam, asin yang rame rasanya itu terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.  Ada banyak intrik di masa itu, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan dan sebagainya yang diselenggarakan dengan djara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja. 😀

Masa-masa itu amat langka bray. Iya, kayak satwa-satwa yang dilindungi itu, langka. Tak semua orang bisa merasakan atmosfer masa SMA. Hanya orang yang beruntung yang bisa merasakan zaman itu. Banyak di sekitar kita yang kurang beruntung untuk dapat menikmati masa SMA. Coba tanya pada nenek atau kakekmu kalau tidak ayah atau ibumu atau teman-temanmu. Pasti ada yang tidak bisa menikmati atau bahkan sekedar mencicipi masa itu. Bersyukur itu yang perlu dilakukan oleh kita yang diberi kesempatan menikmatinya.

Zaman SMA begitu berwarna-warni bak pelangi di langit yang biru bukan di bola matamu. Ada skandal yang dicuci bersih sebersih singlet. Ada pula yang tak terungkap seperti kekasih gelap….oh sephiaaaaa -_-. Tiga tahun yang penuh dengan cerita dan peristiwa. Bukan sembarang peristiwa. Ini peristiwa yang tidak bisa dilupakan begitu saja walau dengan mantra obliviate!!! Harry Potter sekalipun.

Kala itu ane masih kelas 2 SMA. Saat-saat ketika gejolak kawula muda menggebu-gebu. saat raut wajah semakin unyu. Suatu masa ketika seseorang mencari sesuatu. Apakah sesuatu itu?ada yang tau?atau ada yang malu?kalau malu jangan di situ. Jangan pula bersedih seperti itu. Pergi sanah makan tahu. Tapi jangan bilang ibu. Nanti dikutuk jadi batu. Mengertikah kamu? Okelah kalau begitu. Karena separuh aku dirimu, tetap di ranking satuuuu, pinter gak tu,,, 😀

Kelas 2 SMA merupakan saat ketika dilakukan penjurusan program studi. Di SMA ane ada tiga jurusan yakni IPA, IPS, dan Bahasa. Dari ketiga jurusan itu IPA menjadi idola. Ane juga hanyut ke dalam mainstream itu dengan harapan tidak bertemu dengan salah satu mapel IPS yang cukup menghantui pikiran ane. Apaan tuh bray? sejarah sob. gak tau kenapa susah sekali untuk mencerna mapel itu. Kayak makanan aja dicerna. hehe. Hafalan angka tahun terjadinya suatu peristiwa mungkin salah satu yang menjadi penyebabnya. Angka kok dihafal ya? angka itu buat dihitung, hahaha

Seperti penerawangan yang telah dilakukan sebelumnya, ane masuk ke IPA tuh. Sesuai dengan harapan yang didambakan orang tua juga ini. Maklum, di zaman itu PHP belum lahir ke dunia. Kalau sudah lahir, akan lain lagi alur ceritanya. Jadwal mapel sudah terpasang di papan pengumuman. Ane lihat dengan djara saksama. Matematika, biologi,,, yah sambil merem lah, kimia,,, boleh juga, fisika,,, lumayan, b. Inggris , b. indonesia,,, sikaaat habis. Belum sempat berkedip, di depan mata yang telanjang ga pake baju itu ujug-ujug mak bedhundhuk muncul tulisan SEJARAH. Are u kidding me?wuuuuuaaaaatttt…macem betul aja ini?seakan-akan mendapat durian rumah runtuh. Ya sudahlah mau gimana lagi. The show must go on…

Setengah semester berlalu……

Singkat kata singkat cerita, tibalah saatnya UTS ( Ujian Tidak Serius) di semester janggal. Sebagai salah seorang pria punya selera yang menduduki papan atas klasemen sementara, ane menjadi salah satu andalan ketika kawan2 mentok dan kepepet. Bukan buat ngutangin duit ya. Tempat yang salah jika pemikiran seperti itu ditujukan kepada kere hore seperti ane. Ane tak jarang jadi benteng terakhir untuk menerawang jawaban. ehem2…benerin kerah baju.Hal itu tidak masalah untuk mapel biologi dan matematika, hehe. sombong bener bray!!!Tapi untuk sejarah mending lambaikan tangan ke kamera deh ane.

UTS diselenggarakan dengan hikmad. Ane waktu itu mendapat kehormatan untuk duduk di pojok paling depan sebelah kanan ruang ujian. Sedikit tidak beruntung memang jika dibandingkan kawan-kawan yang ada di belakang, tempat yang begitu strategis. Namun bersyukur ketika melihat kawan yang ada di bangku paling depan persis di depan pengawas. Pembunuhan karakter itu namanya. haha.

Tiap sebelum  masuk ruang ujian pasti kami menyusun strategi dahulu. Pengawas ujian waktu itu seperti dementor yang menjaga azkaban. Mau tak mau ane harus belajar mantra Expecto Patronum dulu agar bisa menaklukannya. Tolah-toleh,  tengak-tengok, ketap-ketip, tak terbantahkan waktu itu dan beban berat tentu ada di pundak ane sebagai tempat mengadu dan tumpuan hidup. Alhasil ane selalu keluar terakhir setiap ujian. Ini semata-mata dilakukan demi kemaslahatan umat. Bahasamu bray!!!!

Beberapa ujian sudah dilalui dengan cukup gemilang. Tibalah saat yang tidak begitu diharapkan. Kalau bisa di skip aja lah itu. Yap, it’s one and only. Ujian sejarah yang begitu susah. Ketidaksenangan di masa lalu membuat ane seperti hape yang hampir habis batere. Belajar semalam sebelum ujian waktu itu sungguh tak bergairah. Buku dibaca sekilas saja dengan teknik skiping. Tentu saja tidak masuk ke otak. Tapi masuk ke situ…ke hati kamuh

Seperti biasa, penyusunan strategi dimulai sebelum ujian. Ada sedikit perubahan strategi kali ini. Ane tidak sanggup untuk mapel yang satu ini. Ane serahkan ke masing-masing untuk dapat berimprovisasi menciptakan jalan untuk mendapatkan jawaban. Risiko harus segera diambil dengan harapan ada pengembalian yang sepadan. Waktu itu dengan sangat terpaksa ane bersama beberapa kawan yang lain membawa beberapa catatan ke dalam ruangan. bukan catatan harian di diary lho. Ditaruhlah senjata pamungkas itu di dalam laci meja. Para dementor dengan muka kejamnya mengawasi ujian dengan sikap yang dingin.

Waktu tinggal setengah jam tetapi lembar jawab masih bolong-bolong bak gigi ompong. Tindakan penanganan harus segera diambil sebelum terlambat. Memang ini mempunyai risiko yang sangat tinggi, namun mau tak mau harus segera dilakukan. Ane putuskan untuk mengambil risiko itu. Perlahan dikeluarkanlah senjata pamungkas itu dari tempat persembunyiannya. sret..sret…kresek….kresek tangan memegang kertas itu. Dimulailah olahraga mata itu dengan teknik melirik disertai ekspresi raut muka datar. Tentunya sambil mengawasi kemana pengawas pergi. Pengawas kok diawasi. hahaha

Beberapa pertanyaan telah dijawab namun menyisakan beberapa pertanyaan lain. Repeat mode on lah itu. Mungkin karena terlalu bosan memandangi muka kami yang memuakan, salah satu pengawas berjalan mengelilingi ruang ujian itu. Berhentilah ia di pojok belakang sebelah kiri ruang ujian. Sambil mesam-mesem ia melihat ke arah ane yang coba mengeluarkan mantra expecto patronum. Namun kali ini mantra itu tidak berhasil. Dementor itu menghampiri ane.

“Sudah selesai mas?”
– Belum pak, dikit lagi
“Itu yang ada dilaci apa mas?”
– Mana pak? gak ada apa2? (sambil mengangkat kedua tangan berasa model iklan deodorant)
“Ambil aja mas, gak usah malu2 daripada tak sobek lembar jawabmu”
– Mati lah ane…(dalam hati) 😮

Pengawas  mengambil kertas itu dan menyitanya sambil cengegesan. Seisi ruangan itu tertawa bray. Pak SBY dan pak JK yang ikut nangkring di tembok ruang ujian juga seakan akan menertawakan ane.  Wah mau ditaruh mana muka unyu ane ini bray. Sekujur tubuh ane mendadak lunglai berkeringat tak berdaya akibat peristiwa memalukan itu. Seperti hape yang kehabisan batere, lobet. Beberapa saat setelah hujan tertawa reda ane putuskan untuk mengarang bebas jawaban. Tidak seperti biasanya, ane keluar lebih cepat. Tidak betah diruangan itu, tekanan batin. Bener2 bukan hari ane saat itu.

Begitulah kiranya sekelebat pengalaman memalukan ane waktu SMA. Ane tidak bermaksud untuk mengajak kawan-kawan semua untuk mencotek saat ujian. Mencontek itu dosa lho. Kisah ini semata-mata ditulis untuk menjadikannya pengajaran yang baik bagi para generasi penerus sekaligus pelurus. Harus dipilah-pilah mana yang positif dan mana yang negatif serta mana yang netral, hehe. Buat adek-adek di rumah jangan ditiru yah kelakuan sembrono kakak ini. Adegan ini memang kisah nyata tapi properti yang digunakan tidak berbahaya.

Ketika melakukan sesuatu, pertimbangkanlah risiko yang akan terjadi. Risiko yang tinggi boleh diambil ketika tingkat pengembalian yang akan didapat melebihi tingginya risiko tersebut. Risiko harus dikelola sedemikian rupa sehingga hasil yang didapat mencapai tingkat yang optimal. Oleh karena itu, manajemen risiko yang baik perlu dilakukan untuk menentukan  apakah sesuatu harus dilakukan atau tidak.

Sekian dan terima kasih….. 🙂

Tidak diperkenankan mengambil risiko yang besar apabila return (pengembalian) yang diinginkan tidak lebih besar dari risiko tersebut.

– The risk-return trade off (high risk high return theory) –
[Aksioma Manajemen Keuangan No.1]

Advertisements

6 thoughts on “High Risk Low Battery, History

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s