Akhir Pencarianku di Penghujung Sore Itu

Melihat kondisi ibukota kemaren, sungguh sangat memprihatinkan. Di samping prihatin dengan penduduk di sana, ane juga prihatin dengan nasib para pawang hujan. Pekerjaan mereka mau tak mau harus hanyut bersama banjir. Mau dikasih makan apa anak istri mereka. Tiap hari hujan seperti itu mana laku jasa mereka. Hanya pawang hujan yang berjiwa ksatria baja hitam yang mau menjalankan pekerjaan itu. Iya yang mau bertaruh nyawa karna akan banyak yang mem-bully.

Memang di ibukota sana cuaca tak begitu bersahabat. Tetapi kondisi berbeda terjadi kemaren pagi di kota tempat ane tinggal. Walaupun tak cerah ceria tetapi hangatnya sang surya masih terasa. Lumayanlah buat jemur cucian kemaren sama handuk yang agak basah. Memang harus membiasakan diri menghadapi musim hujan di awal tahun seperti ini. Satu lagi, kota ane sejauh ini bebas dari banjir lho.

Rutinitas dilakukan secara rutin tiap hari. Ya iyalah rutin, namanya saja rutinitas bray. Kalo rutanitas itu di penjara bray. Sadar atau tidak apa yang kita lakukan di suatu hari sama dengan hari-hari sebelumnya dan akan berpotensi mengalami pengulangan di hari-hari berikutnya. Makan, tidur, makan, tidur, makan, tidur, dst. Enak bener hidupmu bray cuma makan tidur doang?eh jangan salah ya proses untuk bisa makan dan tidur itu suatu yang luar biasa. Kita makan tentunya kalau ada makanan. Makanan ada karena dibeli pake uang. Uang ada karena kita banting tulang belulang bekerja. Setelah lelah bekerja tidur deh. Kalo ntar laper makan lagi. Tapi itu tak sesimple yang dibayangkan karena Mr. simple hanya milik super junior.

Nge-PES adalah opsi yang ane pilih buat ngisi rutinitas siang kemaren bray. Kebetulan ane masih merayakan libur musim hujan nih bray. Lah mana ada libur musim hujan?yang ada tuh libur musim panas atau dingin. Emang negara tempat anda sekarang berdiri dimana sob?mana ada musim dingin. Masih mending musim hujan daripada ane bilang libur musim durian, rambutan atau bahkan libur musim kawin. Itu lebih gak lucu lagi kayaknya.

Siang kemaren ane buka laptop buat nge-PES tuh. Mayan buat olahraga jari. Maennya lawan komputer tuh bray, bayangin deh betapa hebatnya ane. Perasaan nglawan orang lebih susah ketimbang lawan komputer deh. Sejam berlalu dan ane tak terkalahkan di semua exibhition. Hebat gak tuh. Tapi bentar ane cek dulu level gamenya. Wah ternyata beginner bray pantesan barca ane bantai 10-1. Ane ganti levelnya jadi top player, yang susah tuh. Babak pertama berjalan 20 menit tiba-tiba dari kejauhan

Ibu ane bilang,”Nang(panggilan utk anak lelaki)…ayo beli stik”.

Dalam batin wah ibu memang tau apa yang anaknya butuhkan sekarang, yeah stik baru… 😀

“Ayo, dimana bu?” jawab ane dengan penuh semangat.

“Ya di toko musik lah”.

Yah kirain stik buat nge-game, ternyata stik drum bray. Adek ane kebetulan lagi ikut drum band di sekolahnya. Dia masih TK lho. Stiknya putus beberapa hari yang lalu gara2 buat mukul anak orang.

“Sekalian beli sate ya ntar buat lauk”, tambah Ibu.

Ya sudah, sebagai anak yang berbakti kepada ortu, ane harus mematuhinya. Lagian si Torres udah di kartu merah itu jadi kalau dilanjutkan kemungkinan menangya kecil. hehe

Selepas Solat asar ane berangkat boncengan bareng Ibu. Berharap nanti tak terjadi wet race. Memang sore itu cukup cerah. Ane tancap gas si matic itu tanpa warm up lap dahulu. Namun di tengah jalan ternyata rintik hujan jatuh bebas dari langit yang sekejap menjadi lebih gelap. Mau tak mau harus ke pit stop dulu ini. Ane bareng ibu ane pakai jas hujan yang ada di dalam jok motor tuh dan bersiap untuk wet race. Sepanjang jalan ane membayangkan naik motor berasa di moto GP. Ya,Valentino Rossi dengan tunggangannya. haha. Di setiap tikungan ane miringkan kepala membayangkan saat Rossi di tikungan memiringkan badan bareng motornya, ya cuma kepala saja. Sampe2 ane di toyor dari belakang oleh Ibu ane. hahaha

Setelah 15 menit berkendara dengan kecepatan siput akhirnya sampailah di toko musik yang dimaksud. Ibu ane langsung masuk tanpa ketok pintu dulu. Gila aja masuk toko ketok pintu dulu kayak mau bertamu aja. Lagian tokonya pake rolling door bray masa mau narik dulu si rolling door terus gedor-gedor gitu, ibu ane malah dikira preman ntar. Dengan kepercayaan diri yang maksimal ibu masuk ke toko musik itu dengan jas hujan yang masih dipakainya. Tentu saja beliau meninggalkan tetesan2 air di sepanjang lantai yang dilewatinya. Biarkanlah itu terjadi, katanya pembeli adalah raja. Jadi apapun harus dilakukan si penjual demi kenyamanan pembeli termasuk harus mengepel lantai nanti. Percayalah, semua pekerjaan pasti ada konsekuensinya.

Stik drum sudah didapat, tujuan selanjutnya adalah berburu sate. Ibu ingin menikmati lezatnya sate khas Pemalang. Namanya sate Loso…
“Nang, beli sate yok buat buka ntar”.

oke, berangkat kita. Tapi dimana mom?

“ga tau.”

Heh?Lah gimana mau beli wong ga tau tempatnya?

“Udah jalan aja entar juga ketemu”.

De javu ini, mau menuju ke suatu tempat tapi tidak tahu dimana tempat itu berada. Ya sudahlah, jalan dulu baru mikir. Rintik hujan saat itu begitu konstan, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil seperti laju motor ane konstan pada 30 km/jam. Jalanan kota kami telusuri dengan begitu tekun. Air hujan membasahi kaca helm ane. Sesekali ane usap dengan tangan. Kalau saja ada wipernya di helm itu ga perlu repot2 ane usap itu kaca helm. Tapi lucu juga jika dibayangkan, ada helm dengan teknologi wiper seperti itu. Tapi bukan tak mungkin kalo beberapa tahun mendatang produk helm berwiper akan membanjiri pasar dalam negeri. Sebuah inovasi yang cemerlang.

Jalan pasar anyar kami telusuri dengan percaya diri. Jalannya nampak lengang karena hujan mungkin. Orang-orang lebih memilih tinggal di rumah dengan genteng bocornya dibanding harus keluar hujan-hujanan. Air hujan ternyata mengandung zat yang dapat memecah ikatan aspal yang menyusun jalan. Baru tiga hari gak naik motor, jalan2 sudah berlubang seperti itu. Banyak lubang-lubang yang tak terduga yang ane belum hafal letaknya. Jadi harus benar-benar extra hati-hati dan sabar dalam berkendara tentunya dengan kecepatan siput.

Sudah beberapa menit berlalu tapi tak nampak juga itu si penjual sate loso. Apa mungkin tutup ya gara2 hujan?Ane memutuskan untuk menelusuri Jalan Urip Sumoharjo. Feeling ane akan ada banyak penjual sate loso di jalan itu. Hujan saat itu sudah agak reda tapi masih gerimis disko. Ane kurangi lagi angka di spidometer motor ane. Orang-orang di tepi jalan yang berteduh dari rintik hujan memandangi kami. Mungkin mereka kira kami sedang mencari rumah seseorang gitu. Keliatan dari muka mereka yang seolah-olah ingin mengatakan’”tanyain kita dong!”. Tapi pandangan mereka ane anggap seperti pandangan para wanita yang kagum atas ketampanan Nabi Yusuf AS. Mimpi kali yeee….

Beberapa meter sudah dilalui feeling ane berbuah durian. Ada penjual sate loso di sebelah kiri jalan. Ane nol kan spidometer beberapa meter di sebelah kiri tempat yang dimaksud. Ibu turun, ane di motor. Namun baru beberapa langkah ibu ngerem mendadak, seeeet. Balik kanan grak!ibu ane kembali ke arah ane lagi.

“kenapa balik bu?”

“Tempatnya sepi, mencurigakan. Ibu tidak yakin. Cari yang lain saja”.

Sepertinya Ibu ane kebanyakan nonton reportase investigasi di TV. Tapi memang sih lebih baik kita cari tempat yang lebih rame. Semakin rame tempatnya sepertinya makanannya semakin enak dan meyakinkan. Kalau ada apa-apanya juga tidak sendirian. Kalau kena tipu, kena tipu bareng. Kalau keracunan, keracunan bareng. Kalau ternyata meninggal, jangan bareng2. Setidaknya bisa mengumpulkan massa kalau ada apa-apa nantinya.

Pencarian ane alihkan ke Jalan Ahmad Yani, sekalian pulang deh itu.  Di sebelah kanan jalan ternyata ada yang jualan sate loso bray. Kayaknya lebih rame dari tempat yang tadi. Tanpa banyak penjabaran, ane langsung parkirkan motor persis di depan tempat penjual sate loso itu. Tempatnya tak terlalu luas tapi laris banget. Tak salah lagi ini tempatnya. Sate Loso Pak No!

Mas, satenya ya 200 tusuk, makan di sini!

Bentar ya saya bakarin dulu. duduk dulu….

Cepetan, maaas!biarin! mentah juga enak mas. tak borong satemu. hihihihihihi
[ABAIKAN] 😀

Ibu langsung pesen beberapa tusuk sate di tempat itu. Dengan cekatannya mas penjual sate itu mengambilkan beberapa tusuk sate yang telah dibumbui. Arang kayu sudah berwarna kemerahan. Sebelumnya sudah dipake buat mbakar sih. Di taruhlah tusuk2 sate itu di atas arang yang panas itu. Berjajar rapi kaya lagi upacara. Dengan kipas ilirnya mas penjual memberikan kibasan-kibasan penuh semangat pada sate yang sedang dibakar.

Sambil menunggu pesanan jadi, ane duduk tepat di belakang mas penjual itu. Di tempat makan itu, ane lihat ada sepasang suami istri yang sedang berduaan makan sate. Wah romantis bray. Tapi kok si suami mirip ane ya mukanya. Nah loh, si istri juga mirip seseorang yang ane kenal yang ada jauh di sana. Tak salah lagi ini FTV yang ane bintangi bray.

Tiba-tiba ada hentakan benda tumpul di telapak tangan ane. Hentakan itu membuat muka si suami dan istri sekejap berubah menjadi agak tua dan tak mirip lagi sama ane dan temen ane. Wah ternyata cuma fikif belaka ini. Setelah tersadar ane lihat di tangan ane sudah ada dompet. Lho ini dompet siapa?Jangan2…wah bukan ane pencurinya pak…!!!

Ternyata dompet itu milik ibu ane. Dia titip sebentar mau ke belakang katanya. Belum ada semenit Ibu kembali lagi dengan muka yang kayaknya menahan sesuatu. Ibu ane lupa mencopot jas hujannya. hahaha. Bayangkanlah ketika tiba masanya engkau ingin mengeluarkan sesuatu dari perut, namun ada penghalang yang mempersulitnya apa yang akan terjadi?padahal ia sudah berada di ujung tanduk. Bakalan repot banget itu.

Tak berapa lama Ibu ane kembali dengan muka yang penuh dengan keikhlasan. Satenya juga sepertinya sudah siap di bawa pulang. Dengan mengeluarkan beberapa uang di dompetnya, Ibu menebus sebungkus sate loso yang akan menjadi hidangan yang laziiiisss. Serah terima sate loso dari penjual ke tangan Ibu ane sudah dilakukan. Saatnya pulang….

Adzan maghrib telah berkumandang. Mulailah dengan yang manis. Lihat cermin dulu bray, hehehe. Teh manis hangat di seruput. Setelah solat maghrib ane langsung menyantap si sate loso hasil pencarian kami sore tadi. Pencarian yang telah dilakukan selama sesorean tadi ternyata tak sia-sia. Lima potong daging sapi muda yang bersatu dalam sebuah tusukan bambu yang dibakar dengan penuh kasih sayang sungguh membuat menyesal para vegetarian. Siraman bumbu kacang yang begitu manis semanis wajah orang yang memakannya menambah lezatnya sate loso khas Pemalang bray. Tak ada duanya ini lah. Kalian harus mencoba kelezatan sate loso itu. Kalau suatu waktu mampir ke kota ane tak ada salahnya mencoba hidangan kuliner yang satu ini.

Pokoke mak jleb!!!! 😀

loso

 

Advertisements

2 thoughts on “Akhir Pencarianku di Penghujung Sore Itu

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s