The Power of “dah makan belum?”

Makan merupakan suatu kebutuhan dasar setiap makhluk yang ingin bertahan hidup. Kebutuhan pokok yang mau tak mau harus dipenuhi. Lihat saja, hewan tanpa disuruh akan dengan penuh semangat mencari makan untuk dapat hidup. Tumbuhan yang sejak lahir selalu istiqomah di satu tempat tanpa tergoda untuk beranjak dari singgasananya, juga butuh makan. Tak terkecuali dengan manusia. Sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk-makhlukNya manusia dianugerahi suatu kebutuhan makan yang pokok untuk dipenuhi.

Pada umumnya di Indonesia orang makan tiga kali sehari. Makan pagi/sarapan, makan siang, dan makan malam. Tapi bagi yang berkebutuhan khusus bisa saja lebih dari itu, bisa berkali-kali dan bertubi-tubi. Biasanya penambahan intensitas terjadi saat malam tiba. Apalagi saat-saat seperti sekarang ini ketika hawa dingin menyelimuti seluruh penjuru nusantara. Hawa dingin memang menyebabkan seseorang cepat lapar yang niscaya akan terkapar ketika sesuap nasi tak dikejar. Entah kenapa penyebabnya. Ane belum mendapatkan penerawangan mengenai korelasi antara hawa dingin dan lapar.

Ketidakmampuan manusia untuk memproduksi sendiri zat-zat yang berguna dari dalam tubuh manusia adalah suatu alasan yang bijaksana kenapa manusia butuh makan. Karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan zat lain akan didapatkan dalam suatu makanan yang kita makan. Zat-zat itu penting bagi metabolisme tubuh. Asupan gizi yang cukup adalah dambaan setiap insan yang ingin merasakan nikmatnya sehat. Ya, mereka yang tak ingin dikejar kucing gara2 deretan tulang rusuknya terpampang begitu jelas.

Namun yang menjadi pertanyaan apakah anda tidak bosan tiap hari makan? Tiap hari anda mengambil piring. Memegang centhong nasi. Mengambil beberapa centhong nasi dan meletakkannya di atas piring. Memandikan si nasi dengan guyuran sayur-mayur. Membiarkan lauk-pauk berbecek-becekan di atas guyuran-guyuran tersebut. Mengisi sendok makan dengan kombinasi mereka. Memasukkan sendok yang sudah terisi ke dalam mulut. Membuat potongan-potongan yang begitu halus dengan deretan gigi anda. Mengolahnya dengan lidah sebagai pengaduknya. Sampai akhirnya menelan hasil pengolahan itu ke dalam saluran pencernaan. Apa tak bosan bray? berulang-ulang dilakukan tiap hari.

Sebagian besar mungkin akan menjawab tidak. Gila aja bosan makan. Bosan hidup apa?padahal gitu-gitu aja tapi kok gak bosan ya. Memang mengherankan ketika hal yang berulang-ulang kita lakukan setiap hari tidak membuat kita bosan. Rasa lapar mungkin yang membuat manusia tak bosan-bosannya makan. hehe

Tetapi sejenak coba kau tengoklah itu si pendemo yang melakukan aksi mogok makan. Mereka rela berlapar-laparan. Mereka bak korban penculikan dengan mulut berlakban. Ada juga yang berperan seperti tukang jahit. iya, tukang jahit yang stress gara-gara gak ada kain yang bisa dijahit. Pelampiasanpun mereka lakukan dengan menjahit bibir mereka. hiii ngilu ngliatnya bray. Pas sunatan dulu aja gak berani ngliat jahitan hasil karya dokter sunat ane. Lha ini bibir ditusuk-tusuk begitu saja. Ini bukan seni tindik menindik, bukan juga terapi akupuntur bray.

Apakah mereka melakukan itu semua karena bosan makan?Ane rasa tidak. Sebenarnya di dalam lubuk hati mereka yang terdalam mereka tak akan menolak ketika ada ajakan traktiran makan2 temen mereka yang ulang tahun. Gila lu ndro nolak traktiran. Jarang ada yang gratis sekarang bray. Mereka cuma mencari sensasi agar bisa mendongkrak namanya. Lumayan kan kalo ada sutradara film horor lewat. Mereka bisa direkrut jadi pemain film Hantu Mulut Bisu Penasaran. Cari uang kok gini2 amat ya. Haaaah betapa somplaknya dunia ini. Hidup ini keras bray!

Begitu vital memang, kebutuhan manusia untuk makan. Masih ingatkah ketika ibu anda menyuapi anda sewaktu kecil dulu. Bukan suap uang lho ya. Dengan gaya pesawat-pesawatan ibu berusaha untuk mengelabui anda. Sesendok nasi diibaratkan seperti pesawat yang sedang terbang di udara. Dengan kata-kata penuh motivasi ibu berusaha agar anaknya makan. “Wah lihat nak ada pesawat, wuzz…wuzz…wuzz ( sambil memainkan sendok berisi nasi). Eh…pesawatnya mau mendarat nak, ak…ak…ak…aeeemmmm”. Masuk deh sesendok nasi ke dalam mulut anda. Itu semata-mata ibu anda lakukan agar anda bergairah makan. Makannya jangan heran kalau anda sekarang bawaannya pengen makan kalau ada pesawat beneran lagi terbang. Saya lapar…saya lapar…ayo landing cepetan…saya lapar (sambil buka mulut ngliat pesawat yang lagi terbang).

Anda tentu ingat ketika penyuapan oleh ibu sudah tak berlaku lagi seiring perkembangan anda yang begitu pesat. Penghentian penyuapan itu dilakukan agar anda tidak di cap sebagai anak mama di sekolahan. Padahal sesekali masih saja disuapi kalau makan, bagi anda yang menjalankannya. Pulang sekolah dengan rasa lapar yang merajalela itu suatu hal yang dilalui tiap harinya, kecuali hari minggu dan hari-hari besar tutup. Dengan wajah bermandikan keringat, anda pulang dengan langkah gontai. Semerbak aroma yang tercium dari seragam sekolah yang anda pakai menambah semangat cacing-cacing diperut bermain musik keroncong.

Ketika masuk ke rumah, anda disambut dengan sebuah suara yang terlantun begitu merdunya. Sumber suara itu berasal dari pita suara ibu anda. Dari mulutnya terdengar sebuah kalimat penuh makna. Sebuah kalimat yang tak asing lagi di telinga bray. Kalimat yang terlantun itu adalah “dah makan belum, nak?” Terdengar retoris memang. Melihat kondisi anda yang begitu lusuh tak bergairah yang akan melayang tertiup angin, pastinya itu menandakan anda belum makan dari kemaren, hahaha. Kasian amat hidupmu bray. Kalimat itu memang merupakan kalimat tanya. Tetapi sadarkah bahwa di balik pertanyaan itu ada sebuah makna persuasif yang tersirat di dalamnya. Ibu anda ingin agar anda segera makan selagi makanan tersedia.

Yang perlu anda khawatirkan adalah ketika membuka tudung saji dan anda harus menerima kenyataan bahwa hanya ada nasi di dalamnya. Itu tandanya anda disuruh untuk membelikan lauk di warung makan nun jauh di pengkolan sana. Semua pasti ada hikmahnya bray. Ada hikmah dibalik peristiwa.

Di samping itu, kalimat yang ibu anda lontarkan itu mengandung makna lain yang begitu mengharukan. Bersyukurlah anda ketika anda masih mendengar kalimat yang terucap dari seorang ibu itu. Kalimat itu menunjukkan perhatian seorang ibu terhadap anaknya. Anda tak perlu caper2 di depan ibu anda saat kalimat itu masih anda dengarkan tiap harinya. Ini menunjukkan kasih sayang seorang ibu terhadap buah hatinya.

Itu semua terjadi ketika anda masih tinggal satu atap dengan ibu anda. Apakah yang akan terjadi jika tiba suatu masa ketika anda harus terpisah, tak tinggal satu atap lagi dengan orang tua anda? Anda tinggal di sini sedangkan ibu anda jauh di sana. Tak mungkin lagi bray mendengar kalimat “dah makan belum?” tiap hari dari ibu anda. Bahkan mungkin hanya seminggu sekali tergantung pulsa yang anda miliki.

Teman anda pun sangat tidak mungkin menanyakan “dah makan belum?” secara tiba-tiba. Ane berani ditraktir deh kalau ada teman anda yang sehari tiga kali melontarkan pertanyaan itu kepada anda dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Satu yang paling mungkin melakukan itu adalah teman istimewa. Istimewa di hatimu bray. 😀

Awal masa PDKT dengan teman istimewa adalah waktu yang tepat untuk mencurahkan perhatian, katanya. Hal ini dimulai dengan pengubahan nama sang pujaan hati sesuka hati tanpa dislameti dulu. Apalah arti sebuah nama, kata mereka. Ada banyak kegelian yang terkandung dalam sebuah nama yang mereka berikan. Ada yang ayah-bundaan, pipi-mimian, yang-yangan(karena kepalanya peyang), ada pula yang ndut-ndutan(padahal gak gendut2 amat). Geli sendiri ane dengernya bray.

Curahan perhatian sang pujaan hati sangat kentara ketika kalimat “dah makan belum?” terucap. Saat telpon atau SMS si doi pasti ada kata itu bray, bener nggak?Yang mengucapkan itu baik dari si cowok ataupun si cewek ingin memberitai bahwa ia sangat perhatian kepada teman istimewanya itu. Tentunya lebih perhatian dari SMS operator yang menganjurkan untuk segera isi pulsa sebanyak nominal tertentu untuk mendapatkan hadiah yang begitu menjanjikan, yang rentan untuk diingkari. Oh pantesan temen ane yang baru jadian badannya agak gemukan. Ternyata gegara kalimat yang bertubi-tubi ia dengarkan itu tho. Tiap ia denger atau baca kalimat itu dari seseorang bawaannya pengin makan aja katanya. Walaupun ia gak lapar bray, wow luar biasa energi dari kalimat itu.

Teknik ini diterapkan dengan melihat manfaatnya yang begitu luar biasa ketika itu diucapkan oleh seorang Ibu. Memang Ibu adalah sosok inspiratif. Kalimat itu memang cocok bagi anda yang sedang menjalani program penggemukan badan. Tapi syaratnya ada orang yang memperhatikan anda. Begitu luar biasanya kalimat itu bagi mereka. Kalimat itu menjadi semacam penyemangat bagi mereka yang kurang nafsu makan dan ketika syndrome akhir bulan mulai menyerang. Bagi anda yang ingin merasakan the power of “dah makan belum?” dianjurkan untuk segera melakukan gerilya mencari orang yang bisa memberi perhatian lebih kepada anda. Orang yang tepat serta tak sesat.

Siapakah dia?hanya anda dan tuhan yang tahu 🙂

Advertisements

4 thoughts on “The Power of “dah makan belum?”

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s