Pasukan Tak Bertuan

Akhir-akhir ini ane begitu terganggu disebabkan ulah satu peleton pasukan di markas ane. Semenjak kehadiran mereka ane gak bisa menikmati ketenangan dan ketenteraman dambaan para penghuni kota sana. Padahal markas tempat ane berteduh cukup jauh dari hingar bingar kebisingan khas perkotaan. Tak lama memang untuk dapat sampai ke pusat kebisingan. Tak perlu menunggu seluruh kelopak bunga mawar jatuh berguguran dari tangkainya. Namun ketika kedua kaki yang begitu kokoh melangkah menempuh jalan untuk mencapainya, niscaya kunang-kunang akan muncul lebih dini sebelum malam tiba tepat di depan mata. Seharusnya dambaan para penghuni kota itu ada di markas ane. Namun ketenangan tak kunjung hadir menyapa sejuknya oksigen yang begitu melimpah ketika pagi tiba.

Wajar jika terbersit di pikiran anda sekalian bahwasanya pasukan itu adalah prajurit TNI dengan baju loreng2nya. Mungkin juga ada yang mengilustrasikannya sebagai pasukan densus 88 yang sedang mengintai tempat persembunyian gembong teroris. Bahkan mungkin ada yang membayangkannya seperti tim dari BNN yang mencium peredaran narkoba di rumah artis. Tapi ane bukan artis bray. Muka sih mirip-miriplah. Tapi relatif sih sebenernya, tergantung sudut pandang masing-masing. Kalau dilihat pake mikroskop ya perbedaannya hanya sehelai rambut amoeba. Kalau dilihat pake sedotan ya ibarat pinang dibelah duren di malam hari bray.

Jadi begini ceritanya…

Setelah Rumanah dan Robi menikah, sikap Haji Muhidin tak banyak berubah terhadap menantunya itu. Ada perasaan tak senang setiap kali ia bertemu dengannya. Entah kenapa sebabnya, yang jelas Madun tak begitu saja menyerah saat timnya tertinggal. Ia memotivasi teman satu timnya agar tetap semangat dan berdoa kepada Allah. Akhirnya dengan tendangan halilintar, ia berhasil memasukkan bola ke gawangnya sendiri. Pahit memang, tapi ini semata-mata dilakukan agar dapat meluluhkan hati Haji Muhidin. Diwawancarai di tempat terpisah, H. Rhoma menuturkan bahwa ia melakukannya karena dukungan dari para ulama yang begitu besar sehingga ia tak dapat menolak untuk maju pada tahun 2014 mendatang.

Kembali ke pasukan, jadi sebenarnya pasukan yang ane maksud adalah sekelompok kucing yang ada di rumah ane bray. Pasukan itu beranggotakan 6 ekor kucing. Tentunya pasukan ini tak pakai seragam layaknya pasukan pada umumnya. Corak bajunya bervariasi. Mereka senang memakai motif bulu yang memang cocok dipakai saat udara dingin seperti sekarang ini. Ada yang loreng hitam putih (kucing apa zebra?). Ada yang menyerupai tumpahan cat yang sangat artistik. Ada juga yang pake motif polkadot dengan tiga warna. Baju mereka didesain eksklusif oleh Yang Maha Kuasa.

Inilah penampakan mereka

kucing

Kucing ane rasa hewan paling populer di dunia saat ini, sepertinya. Ketenaran itu tak diraih begitu saja tentunya. Mereka pun pernah merasakan pahitnya kehidupan. Mereka pernah mengorek-ngorek sampah sisa-sisa makanan manusia hanya untuk dapat makan. Ada banyak pengalaman yang menyakitkan sebelum mereka meraih kepopuleran saat ini. Jatuh bangun mengejarmu pernah mereka rasakan, namun dirimu tak mau mengerti.

Youtube adalah salah satu yang membuat karir mereka melonjak. Dengan menjadi artis youtube mereka berhasil merebut perhatian penonton lewat aksinya yang mengundang decak kagum.Video mereka berhasil mengalahkan video Norman Kamaru, Sinta-Jojo, Udin Sedunia atau Justin Bieber sekalipun. Tak tanggung2 acara TV semacam On The Spot harus menayangkan berkali-kali beberapa kategori terkait dengan aksi kucing yang begitu memikat. Jadi kalau pengen booming aktinglah bersama kucing.

Di samping itu, kucing juga menjadi hewan yang banyak dipelihara. Tapi apa ya alasannya manusia suka kucing?Menurut salah seorang penggemar kucing yang ane temui, ia suka kucing karena lucu getoh. Ane baru tau ada kucing yang bisa nglawak bray. Ya bukan gitu maksudnya. Lucu itu maksudnya ya imut-imut gitu lah, mukanya ngegemesin. Ga kayak mukamu bray, nyolot. Bawaannya pengen berantem aja kalau ngliat tampangmu itu.

Kucing juga baik dan suka menolong. Gak percaya? Coba lihat Doraemon. Nobita yang tiap hari penuh masalah, ditolong oleh Doraemon dengan kantong ajaibnya. Sosok Doraemon yang suka menolong itu berhasil mendapat tempat di hati anak-anak. Kebaikan sosok kucing tertanam sejak dini karena setiap minggu Doraemon hadir menyapa anak-anak. Ada juga yang suka kucing karena jalannya yang begitu lemah gemulai. Ini mengapa di dunia modelling diabadikan sebagai Catwalk, tempat model berlenggak lenggok layaknya kucing.

Ane dulu juga pernah miara kucing. Ya, memang keunyuannya lah yang berhasil memikat hati ane untuk dapat memeliharanya. Walaupun dilahirkan sudah berkumis tapi justru kumis itulah yang menambah imut si kucing. Memang sih kumisnya tak seunyu kumis milik Hitler. Tetapi kumisnya bisa menjadi obat alami yang sangat berkhasiat bagi kesehatan manusia. Bandingkan jika manusia dilahirkan berkumis bray. Keunyuan yang melekat pada bayi akan sirna seketika.

kucing

Kesukaan ane pada kucing akhirnya terkikis setelah memahami sifatnya sekian lama. Ia telah menghianati ane dengan perbuatan yang ia lakukan. Ia pup di sembarang tempat termasuk di baju kesayangan ane. Nyesek banget bray dikhianati seperti itu. Kasih sayang yang ane berikan seolah-olah dibalas dengan tamparan yang begitu menohok. kalau diibaratkan seperti kena wing chun  ip man bertubi-tubi bray. Semenjak saat itu, ane tak lagi merawat kucing sampai waktu yang tak bisa ditentukan.

Sekarang ane direpotkan lagi dengan ulah kucing. Bukan cuma satu bray. Ada 6 kucing yang mengusik ketenangan ane. Persekongkolan itu mirip dengan pembullyan anak-anak sekolah jaman sekarang. Lah katanya dah gak miara kucing? iya, ane gak miara kucing kok. Kucing-kucing itu bukan milik ane. Tak tau lah punya siapa itu si kucing. Tiba-tiba saja mereka hadir di tengah keluarga ane.

Memang sih, mereka sehari-hari makan dari sisa makanan yang ada di keluarga ane. Kebetulan keluarga ane adalah penggemar ikan. Berbagai macam jenis ikan selalu tersaji tiap harinya di meja makan. Tiada hari tanpa ikan pokoknya. Wah keluarga ikan dong yah. Keluarga ane percaya bahwa ikan bisa bikin pinter. Ah masa? emang dia ngajar dimana bray? kebetulan ane lagi cari guru privat nih. Kalau memang berminat, datang langsung aja ke kediamannya. Datang langsung aja ke laut bray, nyelem deh tuh. Anda akan menikmati panorama bawah laut yang begitu indah. Tapi jangan kelamaan yah nyelemnya, oksigen yang tersedia terbatas. Nanti yang ada dikira apaan gitu,dengan baju kuning yang anda kenakan mengambang gitu aja di air.

Kucing-kucing di rumah ane itu kepo banget. Dia tau aja kapan jam sarapan, makan siang, jam makan malam, kapan waktunya bersantai, dan kapan waktunya tidur. Tiap jam makan siang misalnya, mereka selalu berkumpul di depan ane yang lagi makan. Kalau diam sih tak apalah, tapi ini ane berasa ibu yang punya bayi kembar 6 dan semuanya menangis. Tak jarang ane terpaksa mengelabui mereka dengan menggiringnya keluar rumah seolah-olah ingin ngasih makan dan dengan liciknya ane tutup pintu rumah. Kasihan sebenernya mendengar ngeongan mereka, tapi hidup adalah pilihan. Saat kami tidurpun dimanfaatkan dengan efisien oleh mereka. Mereka dengan lihainya membuka tudung saji di meja makan. Tak jarang makanan yang dibuat dengan keringat yang berlinang, begitu saja diambil oleh mereka dengan muka innocence.

Saat-saat musim kawin mungkin merupakan sesuatu begitu membahagiakan bagi para kucing. Ini adalah momen yang ditunggu mereka. Harusnya orang-orang ikut bahagia akan momen itu tapi kebahagiaan itu hanyalah wacana yang tak ada realisasinya. Saat musim kawin yang paling mengganggu adalah suaranya yang tidak lagi mencerminkan seekor kucing. Di tengah malam yang sunyi suara mereka begitu membahana sampai ke angkasa bray. Tentunya kehadiran suara itu tidak diharapkan kehadirannya oleh umat manusia yang membutuhkan istirahat di malam hari. Apalagi jika lokasi perkawinannya digelar di atas genteng rumah. Kemampuanmu sebagai seorang pria akan diuji karena harus memperbaiki genteng yang berserakan akibat perbuatan mereka.

Satu yang tak bisa dikendalikan dengan mudah adalah saat mereka buang air kecil. Tak jarang saat anda duduk santai di sofa mencium bau yang memusingkan kepala. Itu bukan bau obat bius. Bisa jadi itu adalah aroma ketiak anda yang belum mandi dari kemaren. Namun kemungkinan besar itu adalah bau air kencing si kucing. Selain untuk mengeluarkan cairan yang tak berguna bagi tubuhnya, kucing buang air kecil untuk menandai wilayah teritorialnya. Itu mengapa sebelum melakukannya, mereka terlebih dahulu mengendus-endus tempat yang dimaksud.

Sebenarnya kebiasaan-kebiasaan kucing yang menurut manusia merugikan bisa diatasi dengan upaya manusia sendiri. Mereka tak perlu dibawa ke pusat rehabilitasi untuk menghilangkan kebiasaan itu. Anda juga tak perlu menjemur mereka di bawah tiang bendera dengan posisi berdiri satu kaki dan tangan kanan menjewer telinga kiri. Anda juga tak perlu memberikan hukuman mengepel seluruh rumah untuk membuat mereka jera karena ane sangat yakin mereka akan membayar tukang pel untuk melakukannya.

Yang perlu dilakukan adalah memberikan teladan dalam bentuk perbuatan. Anda harus melakukan pendekatan baik jasmani maupun rohani kepada kucing anda. Tata cara makan yang baik dan sopan harus ditanamkan sejak dini kepada mereka. Ketika tidur juga begitu bray. Peragakan bagaimana posisi tidur yang baik kepada mereka. Gosok gigi dan cuci kaki sebelum tidur. Tak terkecuali saat buang air, ajarkan bagaimana adab buang air besar dan air kecil yang baik. Ini semua dilakukan demi ketenteraman hidup anda. Tapi sejauh ini ane sih belum bisa melakukan itu semua bray. Memberikan teladan perbuatan lebih susah daripada harus menghafalkan teori dan membalikkan telapak tangan.

Bagi anda yang berminat dan cukup kuat untuk melakukannya selamat mencoba 🙂
Semoga beruntung 😀

Advertisements

4 thoughts on “Pasukan Tak Bertuan

  1. waradhika says:

    mbokan pasukan pol pp bal.nggoleki awakmu gr2 mangkal ning terminal.
    sekolahke sek bos kucinge.hehehe
    nek bapakku g benci karo kucing bae mungkin wis tak gawa balik siji.nggo mengurangi penderitaanmu.hahaha

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s