Toleransi Antarumat Berkendara

Populasi manusia kian hari kian bertambah dan melimpah ruah mengisi tiap ruang kosong yang terdapat di setiap penjuru bumi. Tidak mengherankan karena manusia diciptakan tuhan berapasang-pasangan. Dari setiap pasangan menghasilkan keturunan yang akan melestarikan eksistensi manusia di dunia. Keturunan yang dihasilkan beraneka ragam jumlahnya tergantung kemauan dan kemampuan masing-masing. Satu boleh, dua ayo, tiga berangkat, selebihnya terserah kebijakan perusahaan.

Merangkak naiknya populasi manusia berbanding lurus dengan kadar mobilitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pergerakan manusia di seluruh dunia dari satu tempat ke tempat lain sudah tidak bisa di hitung lagi dengan jari-jari manusia sendiri. Mobilisasi itu tak ubahnya sebuah cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Padahal setiap manusia punya keinginan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sekalipun sama, cara yang digunakan untuk mencapainya berbeda tergantung kreatifitas yang dimiliki.

Manusia dituntut aktif seiring perkembangan zaman yang pesat ibarat kilat. Pengelolaan dan pemanfaatan masa aktif itu tentunya harus dilakukan seefektif mungkin selagi mampu. Masa aktif itu akan terus diperpanjang secara otomatis selagi kita bisa mengisinya dengan hal-hal positif dan bermanfaat dengan penuh semangat. Saat masa tenggang tiba, perlu diambil langkah yang dapat mengembalikan keaktifan yang telah habis. Aktivasi harus dilakukan sebelum akhirnya expired dengan sia-sia.

Untuk mengakomodasi kegiatan manusia yang begitu aktif kesana kemari membawa alamat, maka ada berbagai pilihan sarana yang bisa diandalkan. Sarana itu berupa alat transportasi yang akan menghantarkan manusia ke depan pintu gerbang kehidupan yang sejahtera dan berkeadilan sosial. Di darat, air, dan udara sudah tersedia angkatan dan angkutan yang siap membantu mobilisasi setiap orang.

Perlu dilakukan analisis cost-benefit secara mendalam jika yang dipilih adalah transportasi darat. Tanya kenapa? Karena anda tak cocok kerja di air apalagi di udara, begitu kata ki joko peโ€™a. Namun ane rasa itu bukan alasan yang cukup baik. Akal sehat sebaiknya dapat menerima suatu alasan yang dirasa baik untuk mendukung sebuah jawaban, bukan menantinya karena itu lagu padi. Diperlukan perhatian lebih, dalam memilih transportasi darat karena jenisnya begitu beragam dengan keramaian rasa yang menyertainya.

Ada berbagai jenis alat transportasi darat yang bisa kita pilih sebelum menggunakannya. Sepeda adalah yang paling sederhana diantara semuanya. Naik kelas sedikit ada sepeda juga, tapi yang pake motor. Berlanjut ke tahta berikutnya adalah mobil dengan empat roda yang menyokongya. Itu diperuntukkan bagi yang menginginkan kendaraan pribadi. Bagi mereka yang suka sama yang umum-umum ada juga beberapa pilihan. Kenyamanan becak ane rasa paling langka. Bajaj mungkin bisa masuk daftar pilihan. Bis-bis dan berbagai jenis angkutan kota dan desa dapat juga menjadi pilihan utama. Diantara anda mungkin juga ada yang menomorsatukan kereta sebagai transportasi darat.

Menimbang dan memilih dalam menggunakan transportasi itu penting, melebihi pentingya pilihan lurah. Namun yang terpenting di atas itu semua adalah bagaimana memperhatikan etika dalam memanfaatkan alat transportasi, apapun jenisnya. Berkendara sesuai aturan yang berlaku ane rasa sudah mondar-mandir, bolak-balik, ngalor-ngidul didengar dan ditangkap oleh kedua telinga yang kita miliki. Pengimplementasiannya yang lagi-lagi harus menjadi sesuatu yang susah dilakukan.

Yang ane lihat sehari-hari di jalan, begitu banyak yang berkendara sesuka hatinya. Padahal hatinya belum tentu disukai orang lain. Memang hak setiap insan untuk menyukai dan disukai namun bagaimana jika kesukaan tersebut berbenturan dengan rasa suka orang lain. Kesukaan ane belum tentu disukai kamu. Kesukaan kamu belum tentu disukai dia. Bisa jadi kamu suka dia tapi dia tidak suka kamu. Semua akan baik-baik saja ketika kamu dan dia sama-sama suka.:D

Pengendara mobil seringkali dibuat mangkel dengan ulah para pengendara motor. Si pengendara motor dengan enaknya menyerobot jalan dengan tengilnya. Woy ini jalan mbahmu apa…Tak jarang jalur yang diperuntukkan untuk roda empat dipakai begitu saja oleh mereka.

macet

Macet adalah saat-saat dimana amarah sangat mudah merasuk ke dalam sukma dan menguasai relung jiwa para pengendara. Bunyi klakson-klakson ibarat terompet yang ditiup sebelum perang dimulai. Prasangka buruk sekejap sudah ada dalam hati para pengendara. Yang naik mobil kesal dengan ulah para pengendara motor. Dengan tidak beraturan mereka bersliweran di samping, depan dan belakang mobil. Dengan semena-mena tanpa memahami artinya toleransi, mereka mengambil jalan yang bukan seharusnya dilalui motor. Celah sekecil apapun dilewati, trotoar pun jadi yang penting cepet sampe tujuan. Tak peduli pengendara lain dirugikan dengan ulahnya. Si sopir mobil menganggap itu semua ibarat lagi jalan di Taman Safari aja dengan menyebutkan satu per satu binatang yang ada diluar sana. Yang numpang mobil cuma bisa mengelus dada, gak tau dada siapa. hah?

Lantas apa yang dirasakan si pengendara motor?Mereka tak lantas bahagia dengan kondisi ini. Hal senada dan serhoma irama dirasakan mereka para pengguna roda dua ini. Woy, ini jalan macet gara-gara lu pada yang pake mobil. Udah makan tempat, jalannya lelet lagi. Coba gak ada loe2 pada, pasti gak gini jadinya. Akhirnya merembetlah ke topik kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin deh itu. Biar kami cuma pake motor butut gini tapi kami peroleh dari uang halal, gak kayak anda-anda semua. Naudzubillah…jangan sampai deh kita berkata seperti itu. Belum tentu diri kita lebih baik dari orang lain. Betul? ๐Ÿ™‚

Kenyataan yang kita lihat sehari-hari memang tak semanis kamu, eh.. madu. Toleransi yang diajarkan guru selama kita sekolah seakan-akan hilang ditelan bumi. Tak ada yang dipedulikan ketika emosi telah menguasai jiwa dan raga. Begitu beragamnya kepentingan orang yang tentunya berbeda dengan kepentingan orang lain. Seringkali kita harus menerima bahwa kenginan kita harus dibatasi oleh keinginan orang lain. Itu karena kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Tak jarang harus menunda tercapainya keinginan yang telah diidamkan, demi kebaikan orang lain.

Merasakan apa yang dirasakan orang lain disaat yang sama merupakan hal yang harus terus digali dan dilatih agar kepekaan terhadap keadaan orang lain tetap terjaga. Saat orang lain sedang sakit misalnya, kita perlu memposisikan diri menjadi dirinya saat itu juga. Ini berguna jika kita ada dalam posisi mereka. Dengan merasakan apa yang orang lain rasakan juga akan bisa membuat suatu langkah yang begitu berarti untuk dapat membantu mereka keluar dari masalah mereka. “Jika aku jadi kamu sekarang, aku akan…”

Mungkin itu yang harus terus menerus ditanamkan mulai dari diri kita saat berkendara di jalan. Toleransi tentunya harus diutamakan dalam berkendara baik itu pake sepeda, becak, bis, motor, mobil, apapun itu. Saling menghormati antar pengguna jalan adalah sesuatu yang patut kita lakukan demi terciptanya kenyamanan dalam berkendara. Merasakan apa yang dirasakan pengendara lain ketika berada dalam kondisi yang sama ane kira akan mengikis keegoisan dan kesemena-menaan dalam berkendara. Kebahagiaan hakiki sebagai pengguna jalan Insya Allah akan tercipta. Dengan begitu ketertiban lalulintas akan terwujud. Ini semua demi terciptanya suatu kenyamanan bersama. Demi kemaslahatan umat berkendara ๐Ÿ˜€

Berkendaralah dengan rileks dan lebih mengedepankan โ€œMonggo..โ€ daripada โ€œPermisi!โ€
-Hanip –

Gambar diculik dari : http://images.detik.com/content/2013/03/13/10/macet.jpg

Advertisements

19 thoughts on “Toleransi Antarumat Berkendara

  1. nengwie says:

    Waktu pulang tahun kemaren, kaget bangeeet Bandung ko muaceeet pisaaan ๐Ÿ˜ฆ
    Kayanya ngga bakalan sanggup deh nyetir di Bandung, sudah mah macet, semua ngga sabaran, yg ada kayanya mah Teteh bakalan begini nih, mobilnya minggir, turun, tinggalin trs naek angkot/beca deeh ๐Ÿ˜€

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s