Sepagi Subuh Sesore Maghrib

Pagi dan sore merupakan dua bagian waktu yang bahu membahu menyusun terciptanya suatu hari. Mereka ditakdirkan untuk saling terpisahkan satu sama lain. Keduanya tidak akan dipertemukan secara langsung dalam suatu waktu yang sama di sebuah tempat yang sama pula. Jika terdapat kesamaan waktu, dan tempat, itu hanya cerita fiktif belaka dan ditujukan untuk hiburan semata.

Saat pagi menyapa dunia dengan cahaya penuh semangat yang bergelora, tak muncul sedikitpun wajah sore di tempat itu dalam waktu yang bersamaan. Entah dimana dia berada kala itu. Sibuk kah? Ah, itu alasan klise. Terkadang pagi begitu muram dengan balutan mendung tebal di langit. Tak jarang pula harus meluapkan kerinduan dengan jatuhnya tetesan-tetesan air yang membasahi muka bumi. Berharap melihat sosok sore walaupun hanya selayang pandang. Tapi itu hanya angan-angan belaka, sama seperti hari-hari kemarin. Yang bisa dilakukan hanyalah menitipkan rasa itu kepada sang siang.

Semburat kejinggaan yang mewarnai langit di ufuk barat hadir lagi. Sore hari yang selalu dinanti tiba. Kehadirannya itu menjadi bukti bahwa ia masih ada untuk sebuah kerinduan. Kerinduan akan sapaan pagi. Tak muncul sosok pagi yang ia dambakan setiap kali saat dirinya hadir. Batang hidungnya pun gak keliatan, apalagi menatap wajahnya saat itu. Ia hanya menerima titipan salam-salam kerinduan yang disampaikan oleh sang siang. Hanya itu yang ia bisa rasakan, berulang-ulang tiap hari. Hal yang sama dilakukan sore sebagai balasan atas salam-salam itu. Ya, dengan menitipkannya pada sang malam.

Perjumpaan yang begitu mustahil itu gak menyurutkan kerja mereka untuk mengisi hari-hari manusia. Kehadiran mereka tiap harinya mengukuhkan ketegaran yang ada dalam tiap hembusan udara yang kita hirup. Kehadiran mereka krusial tiap harinya. Peran mereka begitu penting dalam kehidupan manusia. Kenapa? Karena manusia memerlukan sebuah transisi.

Kegelapan yang berbaur dengan nuansa dingin merupakan ciri khas sang malam. Terangnya cahaya matahari yang bersinergi dengan hawa panas bisa dikatakan keadaan endemik siang hari. Apa yang terjadi saat malam bertemu siang secara seketika?Bagaimana rasanya saat dingin berganti panas begitu cepatnya?lalu bagaimana pula jika sebaliknya terjadi? Panas yang begitu terik tiba-tiba berganti hawa dingin yang menusuk tulang.

Seperti yang ane katakan tadi, manusia memerlukan sebuah transisi. Sebuah kondisi yang memungkinkan manusia untuk dapat menerima secara perlahan pergantian satu situasi ke situasi yang lain dimana keduanya memiliki perbedaan yang mencolok. Masing-masing situasi memiliki karakteristik dan ciri yang sama sekali berbeda. Untuk dapat menerima masing-masing situasi tersebut dengan baik, tentunya diperlukan suatu masa yang secara perlahan menghilangkan satu per satu perbedaan itu menuju ke suatu kondisi tertentu.

Ane rasa tubuh manusia tidak mutlak di setting untuk dapat menerima kondisi ekstrim yang datang dengan tiba-tiba. Walaupun kadang itu harus terjadi, ane yakin manusia memerlukan penyesuaian sebelum menerimanya. Perlu semacam pencocokan antara kondisi yang ada dalam diri manusia, baik itu jasmani atau rohani dengan kondisi dari luar tubuh manusia.

Sangat tidak lucu ketika seorang anak secara seketika berubah menjadi sosok bapak-bapak/ibu-ibu. Keduanya perlu dihubungkan oleh suatu masa transisi yaitu dengan menjadi remaja. Sifat anak-anak yang sudah sejak lama tertanam dalam diri perlahan mulai berganti dengan sifat yang lebih dewasa. Begitu pula dengan bentuk fisiknya. Ada kalanya seorang remaja harus menjalani kehidupan dengan begitu tidak jelasnya. Kesana kemari mencari jati diri dengan sikap yang terkadang abstrak. Alay itu adalah masa transisi menuju kematangan berpikir dan bertindak. Jadi, saat dirasa pikiran dan tindakan sudah matang namun masih saja alay maka itu adalah masa transisi menuju kebusukan. 😆

Itu pula perlunya ada musim pancaroba di tengah musim hujan dan kemarau. Pergantian musim hujan ke kemarau atau sebaliknya tidak serta merta terjadi begitu saja tanpa ada penyesuaian terlebih dahulu. Kehadiran perantara yang bisa memperhalus perpindahan keduanya menjadi hal yang penting. Efek kejut bisa dikurangi dengan adanya pancaroba. Itu semua dikendalikan dan di atur oleh Yang Maha Kuasa.

Entah bagaimana hakikat pagi dan sore diciptakan, yang jelas keduanya merupakan masa transisi yang sangat diperlukan oleh manusia. Gelapnya malam perlahan digantikan oleh fajar yang menyingsing di ufuk timur sana. Langit yang hitam kelam dihapus dengan gradasi cahaya kejinggaan. Diikuti dengan peralihan nuansa dingin yang menusuk tulang menuju udara segar yang menyejukkan kalbu. Perlahan sang surya muncul membawa berkas-berkas cahaya yang menerangi permukaan bumi. Kemudian kehangatan menyelimuti jiwa-jiwa manusia di dunia.

Panasnya matahari di siang hari secara perlahan mengalami penurunan suhu seiring hadirnya sore. Cahaya yang terang benderang kembali menjadi kejinggaan di ufuk barat sana. Perlahan sang surya kembali ke peraduannya, tenggelam, dan kemudian hilang. Langit yang kejinggaan perlahan hilang dan gelapnya malam menggantikan kedudukannya di langit. Hembusan angin di malam hari membuat suhu udara semakin dingin. Sebelum kemudian pagi datang lagi menyapa manusia membawa kesejukan.

Pagi dan sore yang diciptakan oleh Tuhan merupakan nikmat yang patut disyukuri manusia. Bahkan tak hanya disyukuri, dengan segala akal dan pikiran yang dimiliki, manusia seharusnya dapat memanfaatkan nikmat itu dengan sebaik-baiknya. Kalau bisa memberi manfaat lebih kenapa dianggurin gitu aja. Sudah sepatutnya kita bisa melakukan hal sekecil apapun untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Bekerja keras sudah tentu harus dilakukan untuk dapat bertahan hidup di dunia ini. Dengan udara pagi yang begitu sejuk manusia memulai segala aktivitasnya untuk mencari nafkah atau hal lain yang bermanfaat. Dibangunkan dari tidur oleh adzan subuh adalah nikmat yang luar biasa. Beranjak dari tempat tidur kemudian mensucikan diri dengan air wudlu berulang-ulang dilakukan oleh muslim, yang menjalankannya. Kewajiban melaksanakan salat subuh harus dipenuhi. Tidak hentinya doa yang terlantun  menandakan kebesaran Sang Maha Pencipta segala yang ada di langit dan di bumi.

Bertebaran di muka bumi untuk mencari nafkah atau hal yang bermanfaat dilakukan oleh manusia sepagi mungkin. Itu cara memanfaatkan nikmat pagi yang diberikan Tuhan. Meskipun macet adalah alasannya namun itu menjadi semacam pelecut untuk bekerja keras. Memang, kerja efektif tidak dimulai sepagi itu tetapi setidaknya ada alasan untuk tidak terlambat menunaikan tugas. Kebanggaan patut dikedepankan saat tiba di tempat kerja sebelum  pekerjaan dimulai. Ya setidaknya memiliki lebih banyak persiapan untuk melakukan pekerjaan di hari itu.

Segala potensi dikeluarkan untuk melakukan segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kemampuan yang dimiliki digunakan untuk menyelesaikan segala tugas yang diberikan. Semangat dan sebuah kesungguhan merupakan amunisi yang siap dilepaskan ke target yang ada di depan mata. Itu semua dilakukan untuk menghidupi diri dan keluarga.

Rasa lelah pasti ada, keluh pun terkadang muncul. Wajar jika itu semua ada sebagai akibat dari beban kerja yang berat. Tapi apakah rasa itu dibiarkan merajalela begitu saja menguasai diri? Tentunya rasa itu harus dikelola sebaik mungkin dengan suatu sikap yang bijaksana. Pengendalian diri menjadi sangat penting sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Kembali lagi merenung untuk apa tujuan kerja keras yang telah dilakukan, ane kira akan dapat meredam  rasa itu.

Tatkala sore tiba, semua pekerjaan hari itu sudah diselesaikan maka istirahat adalah suatu proses yang wajib dilakukan. Namun seringkali pekerjaan belum selesai seluruhnya. Hari yang begitu melelahkan kala itu. Sudah seharian dilakukan dengan sungguh-sungguh tapi masih aja ada yang belum tersentuh. Mau tak mau harus segera dikerjakan juga lah itu. Gak mau menambah pekerjaan di hari berikutnya dengan menyisakan pekerjaan di hari ini. Walaupun sore sudah menjelang tapi tetap saja semangat mengerjakan sesuatu. Akhirnya adzan maghriblah yang menghentikan seluruh pekerjaannya di hari itu. Batas akhir suatu sore yang ditandai dengan panggilan untuk beribadah salat.

Keberkahan dari Tuhan merupakan harapan dari hasil pekerjaan di hari itu. Sedikit tapi berkah lebih baik untuk dibawa pulang daripada banyak tapi minim keberkahan. Tetapi banyak dan berkah ane rasa paling baik untuk dibawa dalam perjalanan hidup kita. Itu semua tentunya dapat dicapai dengan usaha yang sungguh-sungguh yang bersinergi dengan doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Allah swt. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Sepagi Subuh Sesore Maghrib

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s