White Lion dan Tangisan Misterius

Hari minggu kemaren ane bersama dua sohib ane mencoba merealisasikan apa yang telah kami rencanakan. Rencana itu sudah kami susun jauh-jauh hari sebelum harga bawang putih kembali normal. Sebelum para ibu rumah tangga terbebas dari cekikannya. Sebelum eyang menjadi sesubur dan setenar sekarang sekarang. Melalui sebuah perundingan yang pelik dalam sebuah konferensi, kami sepakat dan sepaham untuk menghadiri acara itu. Kami mufakat untuk pergi ke acara yang bertajuk “Pameran Buku Murah” suatu hari nanti.

Oiya, ijinkan ane untuk memperkenalkan dua sohib ane itu terlebih dahulu. Yang pertama namanya Irkham. Nama samarannya I’am (bukan Ai em). Yang satunya lagi namanya Waradhika dengan nama samaran Warok. hah?Ini kenapa pake nama samaran bray? Nama samaran kan sengaja dibikin biar orang lain gak tau nama aslinya. Lah ini udah tau nama aslinya kenapa pake nama samaran segala. Apa modus operandi anda menggunakan nama samaran itu? entahlah, ane juga bingung. Biar sedikit lebih komersil mungkin kayak nama artis getoh…:D

Seperti yang sudah kami rencanakan kami akan mengunjungi pameran buku murah di suatu hari. Kapan lagi bray ada event ginian. Jarang banget bersua dengan even semacam ini di kota kecil tempat ane tinggal sekarang. Mumpung masih dalam nuansa liburan juga. Kami putuskan untuk pergi ke acara itu hari minggu. Sebenernya penentuan kapan waktunya sangat mendadak bray. H-1 jam kayaknya kami putuskan buat pergi ke acara itu. Itu pun atas inisiatif Mas I’am. Sebagai teman yang dituakan beliau didaulat sebagai pengambil keputusan. Kami gak akan pergi sebelum beliau mengetok palu.

Ya udah deh karna sudah diputusin mau gak mau berangkatlah kita. Sebenernya ane lagi gak punya duit waktu itu bray. Ane gak terlalu berharap mendapatkan buku yang mungkin ane cari sejak lama. Semurah dan semeriah apapun itu buku ane rasa gak akan menguras sedikitpun isi dompet ane. Ya eyalah, gak ada isinya gitu apa yang mau dikuras coba. Kuras kolam aja sanah. Mas I’am juga senada sama ane. Bahkan ia gak malu mengakui bahwasanya dompetnya hanya dihuni oleh selembar kertas bergambar Tuanku Imam Bonjol. Huh, dasar manusia-manusia tak bermodal.

Selepas salat dzuhur kami bertiga pergi ke sana dengan harapan yang gak terlalu besar untuk dapat membeli buku. eh, yang gak terlalu berharap cuma ane deng. Gak tau mereka berdua gimana. Sekarang rawan sama PHP bray. Pemalsuan harapan sekarang telah beredar luas di pasaran dalam negeri dan ekspansinya begitu pesat. Gini aja deh, gak usah muluk-muluk pengen manjat kalau ternyata takut jatuh. aseeek….:)

Setelah memarkirkan motor, kami langsung menuju ke tempat kejadian perkara. Acara itu diadakan di sebuah gedung olahraga bernama GOR Kridanggo. Dengan langkah mantap layaknya Paskibra yang membawa bendera pusaka kami bertiga masuk ke gedung itu. Welcome to the jungle!

Cukup banyak juga yang datang ke acara itu. Entah karena hari libur sehingga banyak yang nganggur atau karena banyak yang kurang terhibur gara-gara kelamaan nganggur, yang jelas antusias penonton sangat luar biasa hari itu. Banyaknya orang yang ada di dalam membuat suasana semakin hot. Oh men… Ane gak tahan untuk memenuhi hasrat ane untuk membuka jaket krem yang ane kenakan sedari dulu sebelum kemerdekaan. Nampaklah otot-otot lengan ane yang begitu atletis dibasahi keringat yang semakin membuatnya eksotis. Tapi jangan percaya, itu pembohongan publik. Hehe 😆

Wah kami terjerembab di dalam efek rumah kaca yang sungguh membuat kami menggeliat gak jelas di dalamnya. “The hot is not public”, panase ora umum. Pantesan panas banget lha wong gak ada satupun AC yang terpasang di gedung itu bray. Yang menjadi penolong hanyalah beberapa kipas angin yang terpasang di pojok setiap stand. Tentu saja anginnya gak sekenceng angin laut atau angin-angin yang membawa berjuta kerinduan. Gak proporsional kipas angin sekecil gitu untuk sebuah GOR dengan banyaknya pengunjung di dalam. Oksigen yang terbatas diperebutkan sekian banyak orang bray. Air mana air…

Baiklah ane umpamakan  saja kayak lagi menikmati sauna dengan uap-uap di dalamnya. Satu per satu stand kami kunjungi tanpa terlewati sedikitpun. Semua buku rasanya tak luput dari sentuhan kami. Tiap ada buku yang tak berbungkus plastik kami buka dengan teknik scaning. Judul demi judul kami baca dengan begitu tekun. Sesekali kami membahasnya dengan sedikit gurauan dan lelucon garing dan renyah serta gurih dengan sedikit aroma semerbak keringat kami dan pengunjung yang ada di situ.

Setelah kurang lebih satu jam berkeliling kami memutuskan untuk memutus mata rantai panas ini dengan keluar dari gedung. Seperti yang telah ane ramalkan ane gak beli satu pun buku, begitu juga dengan Warok. Mas I’am yang memang sangat antusias sejak menapakkan kaki untuk pertama kalinya dalam acara itu tadi, mendapatkan apa yang menjadi incarannya. Ia kayaknya beli Al Quran dan terjemahannya waktu itu. Wah dengan hanya berbekal selembar kertas yang tertinggal di dompetnya ia bisa mendapatkan incarannya itu. Ajaib bukan? Inilah gunanya sahabat bray, ada ketika dibutuhkan. #ifyouknowwhatimean

Sambil berjalan menuju pintu keluar yang juga merangkap sebagai pintu masuk sayup-sayup terdengar dari pengeras suara. “Perlu kami informasikan bagi para pengunjung bahwa sebentar lagi akan diadakan lomba baca puisi yang akan diadakan di panggung di bagian depan gedung ini. Bagi yang sudah mendaftar harap segera bersiap”. Wah ada lomba puisi nih bray. Apa yang ane pikirkan saat itu sepertinya sama dengan apa yang ada di otak kedua temen ane. Mampir sebentar nonton lomba baca puisi itu boleh kali ya. Ane rasa terlalu dini buat pulang ke rumah saat itu. Itung-itung sambil nunggu nasi di rumah matang deh. Mari kita lakukan!

Di depan panggung tempat lomba itu akan dilaksanakan, sudah ditata dengan rapi -serapi barisan gigi ane- kursi-kursi plastik tempat penonton dan peserta duduk nanti. Sebuah standmicrophone sudah berdiri kokoh tak tertandingi di atas panggung sana. Siap untuk membantu para peserta mengeluarkan suara penuh makna nanti. Mas-mas operator soundsystem juga sudah stand by di samping kiri panggung. Kami bertiga duduk dengan begitu percaya diri di kursi plastik berwarna hijau yang telah disediakan panitia. Agak dibelakang dikit lah biar peserta yang maju ke atas panggung nanti gak terganggu dengan muka kami yang penuh nestapa.

Sambil menunggu peserta datang, mas operator memainkan lagu dari music playernya. Biar agak ramean dikit lah bray. Selera lagu mas operator kali ini cukup bagus dengan memutar lagu-lagu barat yang akrab di telinga kami bertiga. Biasanya tau sendiri lah apa yang menjadi idola para operator soundsystem. Ya tidak lain tidak bukan adalah ndangdut koplo bray. Memang bikin semangat sih, tapi kadang illfeel sendiri dengernya. Suara musik sedikit membuat kami harus melakukan usaha lebih untuk bisa mengeluarkan suara dari pita suara agar bisa didenger yang lain.

Satu per satu peserta mulai berdatangan ke lokasi dengan pendamping yang setia menemaninya. Di dadanya tersemat suatu nomor yang ditulis diatas kertas dengan spidol menandakan nomor urut majunya peserta. Gak ketinggalan beberapa lembar kertas berisikan puisi dalam genggaman tangan mereka yang siap dibacakan di atas panggung nanti. Namun mata kami bertiga tertuju pada seorang peserta yang duduk persis di depan ane. Ada yang janggal dengan peserta yang satu ini. Anak laki-laki yang kayaknya masih SD duduk sendirian di tengah hingar bingar keramaian kala itu. Berbeda dengan peserta lain yang didampingi ayah, ibu, teman, guru bahkan penggemar fanatiknya.

Awalnya kami gak peduli dengan apa yang ada di depan kami saat itu. Kami asik menikmati alunan musik yang diputar. Sesekali membahas lagu itu, tau lah bray di tengah-tengah kami ada seorang gitaris handal. Dia adalah mas I’am. Selain sebagai sosok yang dituakan ia juga seorang gitaris yang patut diperhitungkan dalam blantika musik tanah air. Siapa yang kenal coba. Ane rasa gak ada yang kenal sosok beliau ini. Kemampuannya memainkan melodi sudah gak bisa didefinisikan lagi.

Wah waktu itu playlist mas operator memainkan lagu When the Children Cry. Tau kan lagu siapa itu? Yak betul sekali, lagu ini dipopulerkan oleh White Lion. Sebuah band yang cukup fenomenal. Tau Mike Tramp kan? suaminya Ayu Azhari itu lho. Dia itu vokalisnya bray. Wah kami hanyut bersama alunan lagu itu di tengah suasana yang mulai semakin ramai. Bagi yang belum tau ada videonya tuh di bawah

Entah kenapa saat mendengar lagu itu perhatian ane semakin tertuju pada bocah SD di depan ane. Ia masih aja sendirian duduk sambil membolak balik kertas berisi puisi yang akan dibawakan nanti.

“mas, itu kok adeknya didiemin gitu sih. Ajak ngobrol kek”, canda ane pada Mas I’am
“Coba, tanyain deh mas”, lanjut warok.
“kalian aja yang tanya coba”.
“wah kalo entar nangis gimana”, Jawab ane.

Kami lanjut menikmati lagu White Lion itu. Wah saatnya solo guitar mas. Dengan mengumpamakan kayak lagi di atas panggung Mas I’am memainkan jarinya kayak lagi memainkan gitar melodinya. Namun suara gitar ini di ganti dengan suara dari mulutnya. Kebayang kan? Hehe.
Setelah lagu itu berakhir perhatian kami tertuju pada si bocah lagi. Rambutnya yang klimis semakin menegaskan pola sapuan sisir ke arah pinggir. Mas I’am lalu mendekat ke arahnya. Dengan spontan ternyata Mas I’am bener-bener tanya sama si bocah. Padahal ane cuma bercandaan tadi. Eh, dianya bener-bener tanya.

“Dek, ikut baca puisi yah?”. (Yak iyalah masa baca novel)
“Iya”, jawabnya lirih sambil mengangguk.
“Sendirian aja dek?”
Dia mengangguk lagi tanpa suara.
“Kesini disuruh ikut apa emang pengin sendiri?”
“Pengin sendiri” (kayak wartawan aja sih kakak tanya2 terus, kepo deh…)
“Emang Bapak sama Ibunya gak ikut?”
“Di rumah”, sambil menggelengkan kepala.
“Kesini naik apa?”
Dia cuma diam, mulai curiga mungkin.
“Rumahnya dimana dek?”, lanjut Warok
“Di Pelutan”
“Tuh mas contoh anak yang mandiri”, potong ane.
Tiba-tiba tebersit ide nyleneh ane,”sssst…gimana kalo kita culik dia”, bisik canda ane ke kedua sohib ane.
“wahahaha…huzzz aja-aja ada”,  Warok menjawab.
“Ide brilian. Lumayan kan bisa minta ditebus sama mie ayam. Kebetulan belum makan nih”, tambah Mas I’am dengan somplaknya.
“Buahahaha…” 😆 😆 😆

Tapi sejenak dunia seakan senyap dan waktu berhenti berputar. Ane melihat si bocah meneteskan air mata bray. Duh, maskara ane luntur nih. Kenapa ya ini anak? Berkali kali ia usap air mata yang berlinang dengan tangannya  sambil sesekali berusaha menghindari keluarnya cairan bening dari dalam hidungnya…sroooot nyaring bunyinya.

Tuh kan perasaan ane bener kalo ditanya entar nangis. Tapi apa dia denger perbincangan kami tadi yak? Menyangka bahwa kita adalah komplotan yang suka menculik anak-anak kecil. Kayaknya nggak deh. Kan kecil banget suara kami tadi apalagi tersamarkan dengan suara lagu yang di putar. Mungkin dia kelilipan debu gitu kali yah. Tapi kok ga berhenti2 air matanya. Oh ane tau, Ia mungkin teringat akan wajah seniornya waktu ditanya Mas I’am tadi. Pernah dipalakin mungkin. Memang sih wajahnya gak terlalu mencerminkan umurnya tapi aura senioritas begitu terasa ketika memandang Mas I’am. Tapi kok sampai segitu nangisnya. Duh kami tambah bingung bray. Mana perut udah keroncongan gitu. Kalo gak diem2 lama2 tak makan juga itu bocah. Weits sabar bray…

Gak lama datang seorang wanita dengan seorang bocah SD lain. Kalo diliat2 dia adalah gurunya. Kedatangan sang guru bersama temannya ternyata semakin menambah deras air mata bocah itu. Waduh, ini anak kesurupan kali yak? Ya udah daripada terjadi hal yang diinginkan lebih baik kita makan dulu deh. Yak, tujuan kami adalah mie ayam di seberang sana.

Kami pun berunding sambil menikmati lezatnya mie ayam favorit kami itu. Sebenernya apa penyebab tangisan itu. Kami menyimpulkan bahwasanya si bocah itu teringat akan bapak ibunya di rumah. Gimana sih rasanya saat anak-anak yang lain ditemani bapak sama ibu mereka ternyata ia cuma sendirian tanpa kehadiran mereka. Mungkin itulah yang menjadi penyebab itu semua. Setelah makan kami kembali ke tempat tadi, di belakang bocah tadi lagi. Peserta demi peserta sudah maju ke atas panggung dengan penampilan masing-masing. Kami sebenernya nungguin si bocah tadi maju.
“Dek, nomer berapa?”, Mas I’am tanya.
“Nomer 33”.
Duh lama bener bray padahal yang maju baru urutan nomer 7. Bisa2 sampai subuh majunya itu bocah. Beberapa saat kemudian terdengar adzan asar. Kami segera bergegas menuju masjid. Setelah salat kami memutuskan untuk pulang. Sebenernya pengen liat si bocah itu baca puisi. Pasti nangis2 dia di atas panggung karena penghayatannya. Belum maju aja udah nangis gitu bray. Sebelum pulang Mas I’am dan Warok berpamitan sama si bocah sementara ane langsung menuju parkiran. Mereka minta maaf gak bisa nemenin. Hanya kata-kata motivasi yang bisa diberikan. Yang ane heran kenapa ya setelah lagu When the Children Cry berkumandang tadi si bocah nangis. Pas banget gitu bray sama judul lagunya. Apakah ada hubungan sebab akibat diantara keduanya? Apa si bocah menghayati lagu itu ya? Entahlah… Silakan tanyakan pada si anak niscaya air matanya akan kembali berlinang. Sungguh tangisan yang misterius.

NB : percakapan kami bertiga dan anak di atas merupakan hasil terjemahan dari bahasa jawa dengan sedikit improvisasi dari sang penerjemah.

Advertisements

13 thoughts on “White Lion dan Tangisan Misterius

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s