Nyeri, Pedih, Perih, Rame Rasanya

Dibilang sakit…

Gak ada ritual 3x sehari setelah makan

Dibilang sehat…

Tapi kok mengenaskan

Berjalan terlunta-lunta

Waktu seperti berputar ke belakang

Berhenti di suatu masa

Saat ane dikhitan dulu, persis seperti itu

Gak ada jumpalitan atau pecicilan

Gak ada salto, koprol atau kayang

Cuma duduk manis dan rebahan

Sesekali melata ke kamar mandi

Ngesot ke ruang makan

Lalu duduk manis lagi, rebahan lagi

Cicak di kamar seakan mengejek,” Loe laki?laki kok gitu?”

Pengen ane tembak mereka pake AK-47

Tapi cuma pistol air mainan yang berbicara “crut…crut…”

Pengen ane timpuk pake batu

Tapi cuma hape butut yang ada, sayang…

Biarkan kafilah berlalu begitu saja

Kapankah ini akan berakhir?

Apakah harus sabar menunggu?

Ataukah tindakan radikal perlu?

Yang jelas keberadaannya sangat mengganggu

Selalu membuat orang lebih antagonis

Selalu muncul di tempat yang gak diharapkan

Panggil saja dia…bisul…

Menyebalkan…

Menjengkelkan…

Enyahlah secepatnya!!!

Doakan.

Advertisements

21 thoughts on “Nyeri, Pedih, Perih, Rame Rasanya

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s