Datang, Kerjakan, dan Lupakan

Itulah tiga pilar utama yang menjadi pedoman ane dalam melalui tiga kali Ujian Nasional, “datang, kerjakan, dan lupakan”. Agak dikit terdengar brutal mungkin tapi itulah yang membuat ane kuat dan tegar dalam melalui setiap kali Ujian Nasional. Tiga kali ujian nasional dalam tiga jenjang pendidikan yang berbeda, tiga kali pula ane diberi kesempatan untuk mendapat pernyataan lulus. Tiga kali berturut-turut. Kurang hebat apa coba. Terharu ane bray. Padahal yang lain biasa aja sih.

Bangga rasanya bisa menaklukan ujian nasional yang digadang-gadang menjadi momok dunia pendidikan Indonesia itu. Lihat aja sekarang tuh bray ada aja masalah-masalah ujian nasional. Dikupas secara tuntas…tas….tas…tasss…Masalah itu muncul bukan sekarang aja sih, dari tahun-tahun sebelumnya juga sudah ada. Ada yang cuma diulang-ulang kayak tahun sebelumnya, ada yang berimprovisasi sedikit, dan ada juga yang hadir dengan inovasi yang sama sekali baru, tentunya dengan rasa yang beragam.

Yang lagi hot-hotnya tuh masalah tidak serempaknya ujian nasional buat SMA. Yang namanya ujian nasional harusnya kan berbarengan seluruh Indonesia yak. Lah ini kok ada yang ketinggalan gitu. Padahal tadi udah diinget-inget sebelum berangkat mau bawa apa aja. Kok bisa ada yang ketinggalan ya?Maklumin deh amnesia nih. Masih muda kok udah amnesia gimana masa tuamu kelak nak. Entahlah, tanyakan saja pada waktu dan mbah google. Hanya mereka yang bisa menjawab.

Penjelasan yang lebih dapat diterima sih sebenernya gini. Gak serempaknya ujian nasional itu disebabkan oleh naskah ujian yang masih belum selesai dalam percetakan. Pemenang tender pembuat naskah ujian nasional gak sanggup menyelesaikan pekerjaan mereka sesuai deadline yang diberikan. Belum rampungnya pengerjaan ini berefek pada penundaan ujian nasional di 11 provinsi. Entah apa yang jadi penyebab ketidaksanggupan itu. Karyawannya demo mungkin. Minta gajinya dinaikin, terus ngambek, mogok kerja deh. Tapi bisa jadi perusahaan itu dilema akan gerakan “go green” yang sedang gencar-gencarnya dilakukan. Berapa banyak pohon yang ditebang untuk memproduksi kertas-kertas ujian nasional itu. Haruskah mereka mencanangkan kegiatan go green itu, sementara anak istri di rumah menanti sesuap nasi. Butuh waktu untuk dapat memutuskannya. Terlambatlah pengadaan naskah ujian itu. Kayaknya sih gitu 😆

Tapi biar lah mereka-mereka yang berwenang yang mengatasinya. Masalah ini gak boleh dibiarkan berlarut-larut dan terbengkalai seperti pup yang lupa disiram. Terombang-ambing tak tentu arah. Bila perlu, tindakan tegas diberikan kepada pihak-pihak yang terbukti melakukan kesalahan. Supaya gak terulang lagi di tahun depan. Jangan sampai nyungsep di selokan yang sama, kata pepatah.

Alhamdulillah ane selama tiga kali ujian nasional gak mengalami masalah yang kayak gituan. Ujian ditunda gara-gara soal belum jadi.  Padahal jawabannya sih udah jadi. Hah? Jaman ane lancar-lancar aja tuh bray, gak ada suatu halangan apapun sehingga bisa mengerjakan soal dengan selamat dan sentosa menghantarkan segenap siswa dan seluruh tumpah darah Indonesia menuju gerbang kelulusan.

Kelulusan dalam ujian nasional itu seperti yang udah ane katakan di atas gak lepas dari peran tiga kata yang brutal itu, “datang, kerjakan, dan lupakan”. Dengan berpijak pada kata itu ane seakan menikmati ujian yang katanya menyeramkan bagi banyak siswa itu. Ada yang sependapat sama ane tapi ada juga yang kurang setuju. Ya masing-masing kan punya pedoman bertindak dalam melakukan sesuatu, termasuk mengerjakan ujian nasional. Masing-masing pasti punya kata atau kalimat jitu yang bisa memberikan semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Gini nih contohnya...

Gini nih contohnya…

Datang dalam kondisi siap tempur ane rasa merupakan sebuah keharusan. Belajar berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menghadapi ujian nasional ane rasa suatu persiapan yang luar biasa. Tapi entah kenapa kok ane kalo belajar jauh-jauh waktu sebelum ujian malah lupa pas hari H ya. Itulah kenapa ane menyiasatinya dengan SKS (Sistem Kebut Semalem).  Besoknya ujian, malemnya baru belajar. Sampe larut tuh bray, perjuangan banget lah masa-masa SKS itu. Gak baik sih sebenernya buat kesehatan. Diforsir semalem suntuk gitu. Ya apa boleh buat, di tengah kesibukan ane syuting sinetron stripping belum lagi jadwal pemotretan yang begitu padat ane gak sempet belajar dong. Mau gak mau ane harus belajar dengan SKS. Ternyata sistem ini pun dianut oleh temen-temen ane. You’ll Never Walk Alone!!!

Paginya, dengan otak yang sudah penuh akan materi yang dipelajari semaleman berangkatlah ane ke tempat perhelatan akbar bernama Ujian Nasional itu. Dengan semangat yang menggebu-gebu ditandai dengan mata sayu yang agak memerah hasil perjuangan belajar semalem, ane melangkah dengan begitu mantapnya. Datang minimal 30 menit sebelum ujian dimulai akan memberikan ketenangan tersendiri. Seenggaknya akan membuat stabil detak jantung sebelum ujian dimulai. Beda dengan yang datangnya mepet banget bray. Lari-lari berpacu dengan waktu untuk sampai di tempat ujian. Jantungnya berdisko ria dong ya, trus napasnya terengah-engah, otomatis gak tenang dong pas ujian. Konsentrasi sedikit banyak bakalan terganggu.

Tapi ane takjub campur heran sama temen ane. Dia selalu datang terlambat waktu ujian. Entah disengaja atau tidak dia datang setelah temen-temen sudah duduk di kursi masing-masing. Yang membikin takjub adalah dia begitu tenang, santai, damai, gak ada tampang-tampang maling yang habis dikejar warga. Entah karena sudah terbiasa atau gimana ane gak tau. Sebenernya hatinya gak tenang juga ane gak tau.

Ane akan lebih tenang saat sudah datang sebelum bel. Tapi jangan terlalu kepagian bray. Kelamaan nunggu bisa-bisa jadi bad mood. Menunggu memang menyebalkan bray apalagi menunggu ketidakpastian…beh…

Setelah bel berbunyi tibalah saatnya mengerjakan soal-soal. Sebaiknya jangan mulai ujian dengan kekonyolan. Gak bawa pensil adalah kekonyolan yang sangat fatal. Masih untung kalo ada temen yang bawa pensil lebih dan mau meminjamkannya. Kalo enggak gimana? Harus ijin keluar terus beli dulu gitu? ingatlah time is money. hehe. Kesiapan amunisi dalam menghadapi ujian begitu penting bray. Kalo gak punya, gimana mau menaklukan ujian. Sangat mustahil mengerjakannya dengan tangan kosong.

Lembar jawab dan soal telah dibagikan saatnya melahap habis. Kertas lembar jawab yang dipake bukan sembarang kertas bungkus gorengan. Lembar Jawab Komputer (LJK) namanya. Jangan terlalu bersemangat langsung mengerjakan soal dulu. Ada identitas diri yang harus diisi tuh. Di sini bakalan kelihatan betapa berartinya nama yang diberikan oleh orang  tua kita. Bersyukurlah yang namanya pendek karena dapat memaksimalkan waktu dengan lebih banyak mengerjakan soal. Sedangkan yang namanya mengular harus lebih bersabar dan tekun dikit saat ngisi kolom identitas diri. Tenang aja belum terlambat kok.

Ujian nasional itu selain digunakan untuk menguji sejauh mana kemampuan akademis juga bisa menumbuhkan jiwa seni pesertanya. Setelah dapat menyelesaikan soal dengan memilih opsi jawaban, peserta harus memvisualiasasikannya ke dalam lingkaran-lingkaran dalam LJK. Tentunya sangat baik buat membangun jiwa seni siswa. Ya, seni melingkari LJK. Bagi anak yang kreatif ada motif tertentu yang dibentuk melalui lingkaran-lingkaran itu. Yang lagi jatuh cinta sebisa mungkin membentuk motif hati yang tertusuk panah. Yang lagi galau bikin motif mirip mendung di langit. Lah ini ujian nasional apa menggambar bebas.

Menit demi menit sudah dilalui dengan konsentrasi tinggi mengerjakan soal itu. Padangan tidak lepas sedikit pun dari soal yang ada di depan mata. Sesekali melihat ke atas mengingat-ingat dan membayangkan materi yang dibaca semalem. Ahaaa, ketemu jawabannya. Lingkaran yang putih kemudian dihitamkan dengan pensil yang semakin tumpul. Saat daya ingat tertutup oleh kabut gelap yang menggelayut, tanpa pikir panjang melewatkan soal itu begitu saja. Ahhh gampang entar lah. Yang gampang dulu yang dijawab.

Kemampuan sudah dikerahkan dengan maksimal. Cucuran keringat perlahan membasahi seragam sekolah. Lalu angin sejuk berhembus dari arah jendela secara perlahan. Angin itu seakan meninabobokan tubuh yang sudah lemas terkuras tenaganya akibat berpikir. Angin seakan berbisik” tidurlah….tidurlah….tidurlah” dengan suara lembut. Rasa kantuk akibat begadang semalem seakan terakumulasi. Perlahan tubuh mulai meluruh ke atas meja. Dan akhirnya mata terpejam. Selamat datang di dunia mimpi!!! 🙂

Beberapa menit berlalu begitu saja. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh ke lantai. Yak itu pensil yang dipegang saat terlelap tadi. Suara itu memecah keheningan yang melingkupi seluruh ruang ujian. Seakan telah sadar dari hipnotis, mata membuka dengan seketika diikuti teriakan aneh. Konsep ruang dan waktu seakan dilupakan begitu saja. “Ane lagi dimana?Ini jam berapa?”. Sebelum suara tawa seisisi ruangan menegaskan bahwasanya ujian sedang berlangsung kala itu.

Waktu tinggal 10 menit. What????
Apa yang telah ane lakukan tadi? Kenapa waktu berlalu begitu cepat?Oh no!!!

Temen-temen ane yang selama ini melalui suka duka, makan bersama, main bersama, kemana-mana bersama, kini satu per satu meninggalkan ruang ujian, meninggalkan ane seorang diri. Seakan mengucapkan kata perpisahan kepada ane. Oke fine…
Waktu tinggal dikit tapi LJK masih aja bolong-bolong kayak gigi ompong. Wah harus segera diambil tindakan ini. Baiklah!Konsentrasi!!!

Tiba-tiba dari naskah soal muncul seberkas cahaya. Ya, cahaya itu muncul dari salah satu opsi jawaban dari soal yang terlewtkan tadi. Apakah ini pertanda?Tanpa pikir panjang ane konversikan opsi jawaban yang bekilau itu ke dalam bulatan LJK. Wow, naskah soal sekejap berkilauan seperti berlian di angkasa. Karena cahaya yang dipancarkan begitu banyak, kalor yang dihasilkan juga semakin banyak. Ini membuat naskah soal menjadi semakin panas. Lalu nyala api membakarnya dan sekejap kertas soal lenyap tak bersisa. Hal ini diikuti dengan penuhnya LJK oleh lingkaran hitam tanpa ada yang terlewat satu nomer pun. Yak, selesai…bel tanda waktu ujian usai sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Trus ini kertas mau di kemanain?mumpung pengawas belum jauh kejarlah dia bray. “Kejar daku kau ku tangkap”, isyarat pengawas.

Wah perjuangan banget ujian ini. Usapan keringat gaya pebulutangkis gak bisa dihindari. fyuuuuh. Di luar ruangan saat itu ibarat pasar, berisik banget. Ada yang merayakan kemenangan karena apa yang dipelajari semalem keluar semua, ada yang mengeluh ujiannya susah, ada yang malah ngegosipin pengawasnya, ada juga yang membuka sesi pembahasan soal.

“Eh, tadi nomer itu jawabannya apa ya?aku kok A”.
“Loh, kok beda, aku C”.
“Aku kok E”. (padahal opsi cuma sampe D, jawab tanpa liat soal)
“Aku malah kosong. Ambil aman aja, takut kalo salah di kurangin nilainya.” (Benar +4, Salah -1, Kosong 0 ?ini ujian apa woy)
Sambil buka-buka buku pelajaran mereka membuktikan siapa yang benar diantara mereka.

Trus ane ditanya, “Kalo jawabanmu apa?”
“Hah? Apa ya? Ane lupa tuh. Emang ada soal yang kayak gituan?”
Kemudian mereka jatuh berjamaah. Gubraaak…

Ya begitulah kalo ane ditanya habis ujian. Soal-soal ujian yang sudah dikerjakan dalam ujian tadi ane rasa gak perlu dibahas lagi. Membahasnya hanya akan mengorek-korek luka lama yang akan membuat hati pedih gak karuan, kalo gak siap menerimanya. Melupakannya mungkin jalan terbaik untuk tetap fokus pada ujian berikutnya yang sudah menanti esok hari. Masalah salah atau benar atas jawaban soal tadi gak usah dipikirin yang penting kan kita sudah menyempurnakan usaha dan memanjatkan doa terbaik. Yang perlu dilakukan adalah tawakal dalam menerima hasil ujian nanti. Biar pun gak bagus yang penting lulus. Lulus adalah kado terindah yang patut disyukuri.

Bagi adek-adek SMA yang udah ujian jangan anarkis ya, selow aja tunggu hasilnya
Bagi adek-adek SMP dan SD yang mau ujian semangat belajar ya!
Tetap berdoa 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Datang, Kerjakan, dan Lupakan

  1. Shind says:

    Suka banget sama part yang ini: “Bisa jadi perusahaan itu dilema akan gerakan “go green” yang sedang gencar-gencarnya dilakukan. Berapa banyak pohon yang ditebang untuk memproduksi kertas-kertas ujian nasional itu. Haruskah mereka mencanangkan kegiatan go green itu, sementara anak istri di rumah menanti sesuap nasi. Butuh waktu untuk dapat memutuskannya. Terlambatlah pengadaan naskah ujian itu. Kayaknya sih gitu” wekekeke

    Ouiyahh..mirip kita yak? Ga sengaja ngelupakan sih. Tapi emang alah lupa sama sekali sama ujiannya kalo abis keluar dari ruangan mematikan itu..hhaha ga penting banget nginget2 lagi. dan kemudian, jadilah hilang ingatan soal jawaban yang sudah gak karuan itu..hhaha

    nice post 😀

    dan salam kenal 😉

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s