No Cheat No Tear !!!

Siapa yang sampe sekarang belum pernah sekalipun nyontek nih? Ayo ngacung! mana? mana? Kamu… kamu…atau kamu? Mana? Kalo gak ada berarti samaan dong kita. hahaha. Entah udah berapa kali ane nyontek. Gak terbilang lagi jumlahnya. Gak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Speechless. Kamsud loe?

Terus ane bangga gitu?
Astaghfirullah…

Sebagai makhluk sosial, manusia memang ditakdirkan hidup berdampingan dengan sesamanya, bahu membahu untuk bisa survive. Gak akan mungkin kita hidup tanpa andil orang-orang di sekeliling kita. Manusia membutuhkan bantuan manusia yang lain dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Kita tanpa mereka gak akan bisa apa-apa. Kita tanpa mereka, zaskia gotik. Hah?

Namun seringkali dan secara berkesinambungan manusia melakukan apa saja demi untuk bisa keluar dari masalah yang membelenggunya. Ketidakmampuannya dalam menyelesaikan segala urusannya secara mandiri kemudian dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara untuk menyelesaikannya dengan perbuatan yang kurang berkenan sekalipun. Mencontek adalah salah satu cara yang ditempuh ketika gak mampu menjawab sebuah soal.

Proses mencotek dan dicontek sudah gak asing lagi di Indonesia kita tercinta ini. Kebiasaan itu seakan sudah tertanam dalam diri pelajar Indonesia. Dari SD, SMP, SMA sampe perguruan tinggi pun pasti ada saja unsur mencotek didalamnya. Entah kenapa kebiasaan ini terus mengalami reinkarnasi dan regenerasi. Apa karena kurikulumnya yang terlalu susah? Siswanya yang males buat belajar mungkin? Atau memang sudah kodrat manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial sehingga selalu butuh bantuan orang lain? Lantas kenapa harus ditempuh dengan mencontek kalo minta bantuan?

Jaman sekarang orang-orang suka dengan sesuatu yang instan bray. Yang lagi ngetren adalah ingin cepet kaya dengan jalan meminta ke “guru spiritual”. Apa-apaan ini. Kalo pengen kaya ya kerja dong, cari duit kek. Minta kepada Yang Maha Kaya kek. Berhemat kek. Lupakah dengan jargon yang ada di sampul buku waktu SD dulu. “Hemat Pangkal Kaya”. Tapi ane juga suka yang instan sih bray, itu tag line blog ini “celoteh instan”. Kadang juga suka mie instan. :mrgreen:

Kesukaan terhadap yang instan itu mungkin yang menyebabkan mencontek menjadi idola di kalangan pelajar. Kamu aja deh yang ngerjain ntar ane nyontek yah. Simpel kan?

Sudah berbagai macam improvisasi yang dilakukan para pelajar kita saat mencontek. Dengan gemulainya mereka melakukan persekongkolan dalam mencontek. Tengok kanan kiri kayak mau nyebrang jalan. Lihat ke depan toleh ke belakang. Hadap kanan, hadap kiri. Balik kanan, balik kiri, lencang kanan, istirahat di tempat, hormat, mengheningkan cipta, dan sebagainya.

Ada juga yang menggunakan kode-kode tertentu untuk mengelabui pengawas saat ujian biar gak ketauan. Memainkan jemarinya yang merujuk pada kode jawaban tertentu. Anggukan kepala beberapa kali sesuai dengan jawaban yang dimaksud. Kerlingan matapun dilakukan untuk memberi isyarat jawaban. Bayangin aja bray, betapa gelinya waktu ngliat cowok sama cowok saling main mata satu sama lain gitu. Bisa-bisa berlanjut ke tahap yang lebih serius itu. hehe 😆

Ane juga gak bisa memungkiri bahwa ane juga pernah dan sering terjerembab dalam skandal percontekan itu. Malahan ane pernah ketauan pengawas waktu itu. Masih untung pengawasnya baik, gak menyeret ane ke meja hijau dan memidanakan ane. Memang ane gak cukup ahli dalam bidang percontekan itu. Jadi kalo ane nyontek ya yang seperlunya aja gak usah banyak-banyak. hehe :mrgreen:

Aksi contek-mencontek seringkali dikait-kaitkan sama rasa setia kawan antar pelajar. Ada perasaan gak enak ketika temen nanya jawaban sebuah soal dan kita gak ngasih tau jawabannya. Wah gak setia kawan loe bray. Kamu gak tau betapa temenmu sedang mengalami kesulitan. Tapi apa itu emang ngrusak rasa setia kawan? trus waktu kita memutuskan ngasih tau jawaban itu kepada temen kita, apakah itu bentuk kesetiakawanan yang baik? Itu tergantung bagaimana sudut pandang masing-masing dalam menanggapinya.

Untuk bisa lepas terhadap suatu kebiasaan yang sudah melekat sejak lama memang tidak mudah. Tentunya gak semudah menyalin contekan. Kadang perlu sebuah aturan yang memaksa agar kebiasaan itu benar-benar hilang. Kebiasaan mencontek di masa-masa terdahulu sulit sekali dihilangkan.

Entah sudah mencapai tingkat apa kadar mencontek ane kalo gak kuliah di kampus ane dulu. Kebiasaan mencontek di zaman batu dahulu memang membawa candu yang cukup mengganggu. Kenapa mengganggu? Kampus ane yang notabene kampus berplat merah itu menyajikan pemandangan berbeda yang belum pernah ane lihat sebelumnya. Mencontek seakan menjadi dosa terbesar yang gak termaafkan di kampus ane itu. Perlu adaptasi yang sangat cepat dong tentunya, secara kebiasaan di zaman jahiliyah itu begitu melekat dalam diri ane.

Di kampus penuh teka-teki itu ancaman Drop Out (DO) menjadi monster yang sangat menakutkan di kalangan mahasiswa. Sebisa mungkin jangan sampai melakukan hal-hal yang bisa memicu kata DO itu muncul. Salah satuya yang sangat sulit dilakukan adalah dilarang mencontek. Bukan sekedar ucapan doang bray, tapi memang bener-bener gak boleh nyontek di sana itu apalagi pas ujian. Bisa aja sih nyontek, tapi ane gak bisa jamin di akhir semester ente masih ada di kampus itu sebagai mahasiswa.

Cerita-cerita dari kakak kelas yang begitu menakutkan tentang DO itu begitu banyak bray. Katanya ada seorang mahasiswa yang waktu ujian ketauan nyontek. Tanpa basa-basi dia langsung di DO.  Entah mereka mengada-ada, didramatisasi, atau kejadian itu memang bener-bener terjadi seperti itu, yang jelas cukup membuat nyali kami sedikit ciut untuk melakukan percontekan. Jelas aja bray nyontek yang dilakukan semau kita sendiri waktu jaman sekolah dulu harus dihilangkan dalam sekejap.

Ujian pertama yang ane alami di kampus itu menjadi sesuatu yang sangat berat tentunya. Gak ada tengak-tengok, lirak-lirik, tolah-toleh apalagi bisik-bisik. Yang ada adalah sebuah keheningan dan keseriusan. Suara kentut berdesir dan sehalus apapun akan kedengeran saat ujian udah mulai. Jadi ini bener-bener yang namanya ujian. Sebenernya bisa aja sih nyoba-nyoba tengak-tengok, tapi ane gak tanggung jawab kalo nama kamu diam-diam di catat oleh pengawas di berita acara pelaksanaan ujian dan siap-siap untuk dipanggil yang punya kampus untuk segera berkemas meninggalkan kampus.

Waktu kuliah sih biasa-biasa aja bray, nyantai. Bawa bantal juga boleh buat tiduran di kelas. Tapi tau-tau DO ya ane gak tau yah. Ya silakan bersantai-santai saat kuliah yang penting kalo ada tugas bisa ngerjain dan waktu ujian juga bisa. Dengan satu catatan dilarang mencontek.

Larangan mencontek itulah yang membuat waktu-waktu menjelang ujian menjadi sangat berharga. Merugilah mahasiswa yang melewatkan waktu itu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Biasanya sih mereka akan lebih banyak bersemedi di kosan bila saat itu tiba. Ngapain? Bakar buku kuliah terus dicampurin sama air, diminum. Gak deng…Yang dilakukan adalah belajar bray. Rajin kan?

Gila aja gak belajar. Ini gak bisa nyontek sama sekali waktu ujian. Gak bisa mengandalkan rasa kesetiakawanan saat ujian. Gak ada yang akan datang membawa cahaya terang berupa contekan. Ancaman DO melambai-lambai di depan mata. Gak ada yang bisa membantu kecuali diri sendiri dan Tuhan. Belajar dan berdoa menjadi harga mati.

Bukan cuma ada larangan mencontek waktu ujian di sana bray. Pengawasnya juga serem-serem. Belum pernah diawasi sama tentara kan? Di kampus ini ane pernah diawasi sama tentara yang kebetulan markasnya deket sama kampus ane itu. Bayangin bray ujian diawasin sama tentara yang mukanya aja bikin rontok nyali. Dikit aja ada gelagat yang mencurigakan, senjata berbicara. Tapi gak segitunya sih sebenernya. Tentara yang jadi pengawas ya berpakaian layaknya pengawas ujian biasa. Gak pake baju seragam loreng-loreng itu lho ya. Apalagi bawa senjata ke dalam ruang ujian. Bisa-bisa pingsan duluan sebelum ujian bray kalo gitu.

Yang membuat nyali sedikit ciut adalah saat rombongan pengawas yang notabene tentara itu datang dari markasnya masuk ke kampus. Gila bray, mereka datang naik truk yang biasa buat  ngangkut tentara yang gede gitu. Beh…ini ujian kayak mau perang aja. Belum lagi suara sirine yang mengiringinya buat menghalau kemacetan di jalan. Berasa di  medan perang. Kami yang datang dari kosan pun sudah siap dengan ikat kepala yang sudah melingkar erat di dahi kami seakan-akan mau melawan penjajah di depan sana.

Ya semenjak itu ane berangsur-angsur mulai meninggalkan dunia percontekan. Walaupun masih sedikit bersisa tapi seenggaknya ane bisa mengurangi ketergantungan mencontek. Memang susah memberantas virus yang satu itu. Harus dilakukan sedini mungkin kalo pengin mencegahnya sebelum semakin parah. Mencegah lebih baik daripada mengobati. 🙂

Seringkali diperlukan sebuah ancaman yang menakutkan untuk menghilangkan sebuah kebiasaan buruk yang udah melekat begitu lama. Kayak kampus ane tuh, ancaman DO sangat efektif untuk memberantas secara perlahan praktek-praktek percontekan di dalam ujian. Ya, semoga dunia pendidikan di negara kita menjadi semakin baik dari tahun ke tahun dengan menghilangkan unsur percontekan dan segala bentuk kecurangan lainnya yang membuat kualitas pendidikan menurun. Jangan sampai mengatasnamakan rasa kesetiakawanan untuk berbuat kecurangan. Jangan sampai akhlak bangsa tercoreng hanya karena kegiatan mencontek. 🙂

No Cheat No Tear!!! 😀

Advertisements

3 thoughts on “No Cheat No Tear !!!

  1. Waradhika says:

    Posisi menentukan prestasi wis g berlaku ning kampus plat abang iku.isone mung posisi menentukan relaksasi.hehehe

  2. fasyaulia says:

    Kalau saya sih, selagi bisa ya dikerjain sendiri. Kalau gabisa ya nyontek tanya kanan kiri. Itupun tergantung pengawas. tapi rata-rata sih susah buat nyontek dan dikelas ada cctv -__-

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s