Jangan Ada Dusta Diantara “wkwkwk”

Pada hakikatnya gak ada orang di belahan bumi manapun yang gak suka tertawa. Sebagian besar mereka suka melakukannya. Karena apa? Karena semua orang mendambakan kebahagiaan. Dan tertawa itu adalah salah satu indikasi jauhnya kemuramdurjaan dari dalam diri yang berimplikasi pada rasa bahagia. Namun itu gak lantas menjadikan tertawa sebuah hobi yang ditekuni secara mendalam yang dengan melakukannya bisa mendapat kepuasan dan kebahagiaan layaknya mancing, main musik, ngegame, maen bola, dll

Aneh saat menjadikan tertawa sebuah hobi. Gak lucu kan kalo mencantumkan tertawa sebagai hobi. Nama : Toyib, Umur : 17 tahun, Hobi : tertawa. Gak pa2 sih sebenernya. Gokiiiil. Visioner banget malah. Tapi kekhawatiran akan muncul ketika kegokilan itu menjadi-jadi dan menuju ke jenjang yang lebih serius, tertawa tanpa sebab. Sekelilingpun akan prihatin.

Setiap orang mempunyai gaya sendiri saat tertawa. Beda-beda, tergantung ciri khas dan potensi yang dimiliki tiap individu. hah? Lihatlah spongebob. Ketawanya yang kaya gitu malah menjadi trademark yang menjadikannya semakin terkenal. Dia memiliki semacam faktor X dalam tertawa. Tahu tokoh Sasha di acara komedi situasi “OB”? Aneh banget kan ketawanya. Makhluk mana yang bisa ketawa seperti itu. Ane belum pernah lihat sebelumnya. Kayaknya perlu latihan khusus untuk bisa melakukannya. Lagi-lagi itu menjadi ciri khas dia. Tapi ane resep banget kalo ada orang yang ketawanya renyah. Renyah? Cem mana tuh? Kayak gorengan aja bray. Dona Agnesia kenal? Atau kalo gak Rossa? Belum pernah kenalan sih bray tapi tau lah. Yang sering nongol di tipi kan? Iya, nah mereka itu contoh orang yang ketawanya renyah bray. Gak tau kenapa seneng aja ngliat mereka ketawa. Sedep! Kayak gak ada beban.

Jaman sekarang ekspresi tertawa gak hanya dilihat dari bagaimana raut wajah, bentuk mulut, atau intonasi suara aja. Tulisan juga bisa digunakan untuk menunjukkan: ini lho ane lagi ketawa. Agak aneh juga sih kalo tulisan itu dibaca dan dipraktekkan. Saat melafalkan tulisan “LOL” gak selucu saat membayangkannya. Kita tahu bahwa yang menulis berusaha menunjukkan dirinya lagi ketawa. Tapi ane rasa itu gak cukup ekspresif untuk melambangkan tawa. Sama aja kalo kita komen status FB temen yang dianggap lucu dengan “ckckck”. Coba lafalkan dan ekspresikan kata itu. Ane udah coba sih tapi kok malah kayak cicak ya. Yang paling sering sih “wkwkwk” bray. Tujuannya sih biar si pembaca tau bahwa kita lagi ngakak, tapi kalo kita amati dan dicoba untuk dilafalkan malah terdengar absurd yak. Yang paling dapat diterima logika dan paling realistis sih “hahaha” menurut ane. Seenggaknya saat dilafalkan masih bisa lah dianggap sebagai sebuah tawa. Coba deh…

Tentunya menyenangkan ketika melihat orang tertawa. Seolah-olah gak ada masalah hidup. Tapi apakah tawa mereka memang bener-bener tawa?Kamsud loe? Maksud ane apa mereka bener-bener lagi tertawa? Apaan sih? Maksudnya tawa yang mereka keluarkan itu apa memang tulus. Gak pura-pura tanpa paksaan. Jauh dari kebohongan?

Soalnya ane pernah ngalamin bray. Kan ane sama temen-temen ane waktu itu menghadiri undangan acara komedi di salah satu stasiun TV swasta. Emang lucu sih acaranya. Tapi kok ane sama temen-temen ane waktu sebelum mulai acaranya disuruh ketawa dulu beberapa menit buat diambil gambarnya. Ini apaan coba? Kita dipaksa buat ketawa bray. Kekerasan dalam tawa ini. Ya gitu deh hasilnya, aneh.

Kalo kita ketawa karena memang ada hal yang menyebabkan kita melakukan itu tanpa intervensi atau paksaan untuk melakukannya sih gak masalah. Dengan kita tertawa tentunya bukan hanya kita yang terhibur tetapi si pembuat tawa juga akan merasa senang dan puas. Namun saat suatu tawa dilakukan hanya karena iba kepada orang yang berusaha membuat kita tertawa itu apa namanya? ”Ah, kasian deh daripada gak ada yang ketawa, ane ketawa aja. wkwkwk…”

Tapi apakah itu namanya kejujuran?Sesungguhnya kita udah melakukan sebuah kebohongan. Bukan cuma sama dia, dengan melakukan kepura-puraan itu secara tak sadar kita juga membohongi diri kita sendiri. Lho tapi kan itu buat menghargai dia bray? Dia udah capek-capek berusaha buat kita ketawa masak kitanya gak ketawa. Manusia kan diciptakan untuk saling menghargai. Tapi ane rasa itu bukan bentuk penghargaan yang tepat deh. Dengan kita gak ketawa karena emang gak lucu rasanya akan lebih baik buat dia. Dia akan terpacu agar lebih lucu lagi dan berusaha keras untuk membuat kita tertawa. Bukan begitu? Tapi kan kasian bray. Kasian gimana? Kayaknya gak ada orang yang dipenjara gara-gara gagal membuat orang tertawa deh. Kecuali dia ngamuk-ngamuk gitu dan melakukan kekerasan membabi buta gara-gara gak pada ketawa. Laporin aja bray!

Nah, itu dilihat dari sisi kita sebagai orang yang tertawa. Gimana kalo kita yang berusaha membuat ketawa orang lain? Seneng rasanya bisa ngliat orang lain ketawa apalagi itu karena jerih payah kita menghiburnya. Ada sebuah kebanggaan tersendiri yang muncul setelahnya. Namun kembali lagi. Apakah kita sudah menyajikan sebuah kejujuran dalam melucu atau bercanda? Jangan-jangan kita bohong hanya untuk membuat mereka tertawa.

Memang bukan hal yang mudah membuat seseorang tertawa. Apalagi harus jujur melakukannya. Gak pake kata-kata yang gak sesuai dengan kenyataan. Menghalalkan segala cara gak peduli ada sebuah kedustaan didalamnya kayaknya gak baik deh meskipun itu orang lain bahagia. Sesaat. Berkata dusta untuk mendapat pengakuan bahwa kita lucu kayaknya gak lucu deh.

Terus mesti gimana?

Inilah pentingnya improvisasi dan inovasi dalam batas kejujuran. Gimana kita mengolah kata-kata dalam melucu menjadi sesuatu yang mesti diperhatikan. Kejujuran harus menjadi prioritas utama. Saat kita gak bisa melakukan improvisasi dan inovasi dengan jujur, gak usah kemudian menggantinya dengan hal-hal dusta belaka. Kalo gak bisa melucu ya gak usah bray. Daripada harus mengorbankan mulianya sebuah nilai kejujuran. Kasian mereka yang dibohongi. Mungkin mereka gembira sesaat tapi saat itu semua dusta, akan ada duri-duri tajam yang muncul sesudahnya yang tentu akan membuat sakit.

Jadi, biarkanlah kegembiraan itu muncul secara alami tanpa ada paksaan dari siapapun. Tanpa adanya sebuah kebohongan. Tanpa ada kedustaan. Membuat orang lain bahagia gak ada yang melarang namun berkata jujur harus diutamakan. Tertawa dan meluculah dengan jujur dan secukupnya sebelum setan menertawakan kita.

Jangan ada dusta diantara kita
Jangan ada dusta diantara “wkwkwk” 😀

Advertisements

13 thoughts on “Jangan Ada Dusta Diantara “wkwkwk”

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s