Jamak Rasa, Satu Air Mata

Kamu sedih dengan apa yang menimpamu sekarang. Hingga sedih itu bertambah parah dan semakin parah. Gak bisa mengatasinya dengan sesuatu yang dapat mengentaskannya dari jurang keterpurukan yang begitu dalam. Akhirnya di suatu titik kamu gak mampu lagi membendung itu semua. Air mata keluar berlinang, mengalir layaknya tetesan hujan yang merembes di sebuah dinding. Perlahan membasahi pipi sebelum kamu menyeka dengan sebuah usapan yang berusaha memperlihatkan bahwa dirimu tegar menghadapinya. Ah cengeng!

Orang gak tau persis apa yang kamu rasakan. Hanya kamu dan Tuhan yang tahu betul gimana perasaanmu saat itu, gimana alurnya, gimana detailnya. Bahkan mereka terkadang gak mau tau perasaanmu itu, gak peduli, acuh tak acuh. Siapa kamu di mata mereka? saudara? tetangga? temen deket? roommate? soulmate? atau Ismed? ah, yang mereka tau Ismed adalah tukang siomay langgananmu.

Yang terlihat dari luar gak seperti apa yang kamu harapkan. Mungkin air matamu memang menunjukkan sebuah kesedihan yang teramat sangat. Tapi apakah mereka juga berpikir demikian? Ane rasa gak gitu. Mereka bisa jadi menganggap bahwa kamu berbakat untuk menekuni dunia peran. Menangis karena skenario yang telah dibuat sutradara. Diarahkan ke kondisi tertentu sesuai keinginannya. Di depan kamera yang nyala lampunya pun semakin mempertegas air mata yang keluar. Yak, kamu berbakat melakukan itu.

Apakah kamu lupa bahwa air mata itu bukan hanya milik kamu saja?bukan hanya yang lagi sedih?yang lagi galau gulana?yang gagal rencana?

Kalo kayak gitu kamu perlu mengingat kembali ke suatu masa. Bertanya ke Ibu yang melahirkanmu ke dunia. “Ceritain dong bu, gimana sih dulu waktu nglahirin aku?”. Dengan begitu semangat beliau pasti menceritakannya. Setelah mendengarnya air matamu kembali berlinang. Ah emang cengeng kamu! gak kok, cuma terharu. Gak sedih kok. Kamu berusaha menguatkan.

Apakah tangisanmu dulu waktu pertama kalinya muncul ke dunia setelah 9 bulan berada di rahim merupakan bentuk kesedihan bray? Lalu ayah ibumu ikut menangis melihatmu hadir di dunia dan itu dianggap sebuah kesedihan? Ane rasa bukan. Itu adalah sebentuk kebahagiaan atas anugerah terindah yang diberikan Tuhan yang mengirimmu kepada mereka. Tapi gak tau juga kalau itu memang sebuah kesedihan. Kalo emang gitu kamu juga patut bersedih karena kamu tidak diharapkan kehadirannya di dunia.

Mungkin secara tak sadar kamu mengukuhkan air mata sebagai simbol kesedihan. Boleh-boleh saja. Tapi lihat dulu gimana bahagianya perasaanmu ketika memenangkan sebuah perlombaan, sebuah ajang yang begitu besar yang seluruh dunia pun mengakui keberadannya. Kamu menyisihkan lawan-lawanmu yang beribu-ribu jumlahnya. Kamu keluar sebagai seorang juara. Bangga dan bahagia tak terkira tentunya. Lalu gak sadar kamu sampai meneteskan air mata. Gak banyak memang. Cuma berlinang di lingkar mata lalu kamu menyekanya dengan jemari kemenangan. Gak dapat diingkari bahwa itu adalah air mata yang menggambarkan sebuah kebahagiaan. Itu yang nampak dari luar gak tau perasaanmu sebenarnya gimana.

Gak disangka gak dinyana saat orang melihatmu di sebuah tempat yang sunyi, duduk terkesan merenung. Benar-benar senyap. Gak ada suara kendaraan mondar-mandir bising gak karuan. Tanpa suara klakson, knalpot bodong, atau rem yang diinjak mendadak. Sungguh tempat yang sempurna untuk bertapa. Orang hanya menduga bahwa kamu sedang melakukan sebuah perenungan yang sempurna. Sebuah kontemplasi atas hingar bingar kehidupan dunia yang terlalu sulit untuk dilewatkan, terlalu rumit untuk diselesaikan.

Orang semakin yakin bahwa dugaan itu gak keliru atas dirimu. Keadaan itu dipertegas dengan air mata yang perlahan mulai bertambah volumenya. Perlahan semakin banyak hingga lubang mata tidak muat lagi menampungnya. Luber, berlinang, mengalir ke pipi. Semakin yakin bahwa kamu sedang berada dalam sebuah perenungan yang sangat dalam waktu itu. Lagi-lagi itu yang bisa dilihat dari luar.

Siapa yang menyangka sebenarnya dia sedang berada dalam kelelahan. Membutuhkan kesunyian untuk mendapatkan sebuah relaksasi. Dengan pekerjaan yang begitu banyak tapi dengan kemampuan yang terbatas manusia pasti merasa lelah.  Ya, dia lagi kelelahan. Lihatlah air mata yang disekanya tadi kemudian diikuti dengan redupnya bola mata. Sayu dan perlahan mulai menutup. Gak salah lagi dia mengantuk. Air mata yang tadi keluar adalah air mata kantuk. Siapa sangka siapa nyana?

Begitu sulitnya menilai perasaan seseorang dengan pemahaman yang kita miliki. Salah satu yang menyamarkan sebuah rasa adalah air mata. Ane bisa katakan karena air mata bersifat universal. Dimiliki setiap orang di dunia dan ada di berbagai lini rasa. Mungkin dalam satu situasi air mata hadir untuk sebuah rasa sedih. Namun dalam waktu yang bisa jadi bersamaan air mata mewakili perasaan bahagia untuk orang yang berbeda. Jangan heran kalau ada orang yang sedih melihat orang lain bahagia. Sebaliknya, ada yang bahagia melihat orang lain sedih. Tapi sebisa mungkin itu harus dihindari karena kita hidup berdampingan dengan orang lain tidak untuk saling menyakiti perasaan satu sama lain.

Bahagia, duka,  pura-pura dan seluruh rasa yang ada dalam diri manusia terkadang susah dibedakan. Itu karena semua rasa punya air mata yang sama. Dengan karakter yang sama sekali gak beda. Cair dan susah diterjemahkan.

Advertisements

4 thoughts on “Jamak Rasa, Satu Air Mata

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s