Fobia

“ ihhhh, pokoknya jangan ajak aku ke tempat yang tinggi ya. Aku fobia sama ketinggian. Aku kan gak sekuat kamuh.”
Begitu kata seorang laki-laki pada temannya. Didengar dari gaya bicaranya sudah bisa dibayangkan betapa gemulainya dia. Tangannya kemana-mana tidak mirip gurita dengan tentakel-tentakelnya yang lagi jalan di lautan. Siap merangkul apa saja yang ada didekatnya. Hey!Abaikan gaya bicara dan bahasa tubuhnya!Perhatikan substansi dari ucapannya. Dia bilang fobia sama ketinggian. Kamsudnya gimana?

Dilihat dari tata bahasa yang digunakan dia membuat semacam larangan untuk tidak melakukan suatu hal. Dia sebisa mungkin akan menghindari dan menjauhi hal tersebut karena ada kekhawatiran dalam dirinya akan terjadi hal yang buruk yang akan menimpa dirinya jika melakukan hal itu. Ada aura ketakutan yang kadarnya begitu tinggi yang tersirat. Itulah fobia.

Intinya fobia itu adalah rasa takut yang berlebihan akan suatu hal. Ada hal atau fenomena tertentu yang membuat seseorang mengalami ketakutan yang teramat. Hal yang paling lucu menurut orang, bisa jadi hal yang paling menakutkan bagi orang yang fobia. Apapun bisa menjadi sebuah ketakutan. Kadang ketakutan itu malah kembali lagi menjadi hal yang lucu bagi orang lain yang tak mengalaminya.

Sebenernya apa yang menjadi penyebab fobia? Tentunya ada alasan yang menyebabkan orang takut sama ketinggian. Kejadian buruk di masa lalu mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Yang fobia sama ketinggian mungkin waktu kecil pernah kepleset tokai terus jatuh ke jurang sampe lupa ingatan. Sebelum cerebrovort memulihkan dan memperkuat daya ingatnya kembali seperti semula. Saat berada di tempat yang tinggi dia akan mengingatnya dan ketakutan kejadian itu akan terulang lagi. Ia pun sebisa mungkin menghindari tempat yang tinggi.

Kayak ane bilang tadi fobia ada yang lucu dan aneh. Masak ada yang fobia sama ayam goreng bray. Gak malu apa mereka sama upin ipin. Daging ayam seenak itu bukannya dimakan eh malah ditakutin. Oh mungkin dia punya pengalaman yang menakutkan kali ya. Dulu mungkin dia pernah suka makan ayam goreng. Tapi kejadian itu membuyarkan semuanya. Lauk saat makan siang kala itu adalah ayam goreng favoritnya. Dengan semangatnya dia mengambil sepotong ayam goreng bagian dadanya. Dia letakkan bersama nasi dan sayur dipiringnya. Begitu dia mau makan tiba-tiba dada ayam goreng itu menjadi raksasa yang sangat menakutkan.

“Hey manusia, dimana kepala saya?dimana sayap saya?dimana kaki saya?CEPAT KEMBALIKAN…sebelum ku hancurkan dan ku musnahkan semua sanak saudaramu”.

Sontak dia sangat ketakutan melihat apa yang terjadi di depan mata kepalanya itu. Dan peristiwa itu membuat dia sampai sekarang sangat takut kalo makan ayam goreng.

Dulu ane pernah takut banget sama yang namanya ayunan. Aneh kan? Kok bisa gitu bray? Iya, jadi dulu waktu ane masih TK kan di halamannya banyak wahana mainan, salah satunya ayunan.  Karena ayunannya cuma dua dan itu sudah kepake semua ane harus nunggu giliran. Biasanya kita gantian, yang satu naik ayunan yang lainnya dorong si ayunan biar jalan. Waktu itu ane yang kebagian dorong duluan.
“Ayo, dorongnya yang kenceng ya”,

“Iya” (ane mulai dorong tuh)

“Kurang kuat bal, yang kenceng lagi”

“Iya, sabar”

“Kurang!!!”

(Ane terus dorong)

“Lebih cepet lagi!!!”

“Oke, cukup. Ini dorongan terakhir…wuzzzz”

Ane dorong ayunan sambil sedikit lari ke depan dan ane lepasin pegangan dari ayunan. Beberapa detik kemudian tiba-tiba. JEDUGGGG!!! STRIKE!

Sebuah benda keras mendarat tepat di hidung ane. Pandangan ane kabur lalu ane tersungkur di tanah. Setengah jam kemudian tiba-tiba ane udah di rumah berbaring di kasur. Dimana ini?dimana? Hidung ane kok cenat-cenut gini yak. Setelah ane ngaca, ane kaget! ini siapa? lihat ke belakang gak ada orang. Wah itu ane bray. Hidung ane mancung bener kayak habis disuntik silikon di salon “Mince”. ihhhh rempong…

Semenjak itu ane takut ke salon “Mince” eh… maksudnya takut nglihat ayunan. Tapi ketakutan itu hanya berlangsung sebentar saja sih. Mungkin ane trauma aja. Ane sekarang malah seneng banget kalau ada ayunan. Ah, masa kecil kurang bahagia. hahaha :mrgreen:

Pengalaman menakutkan di masa lalu memang menyebabkan fobia akan hal atau kejadian itu di masa sekarang. Tapi kayaknya gak cuma itu aja deh yang menyebabkan fobia. Orang-orang di sekitar kita juga ikut andil dalam memunculkan fobia. Ibu kita misalnya. Dulu waktu kecil suka nyuapin kita,

“Ayo nak, makan dulu sini”

“Nggak mau!”

“Heh, ayo makan ntar di tangkep orang gila lho!!!”  (terus menerus dilakukan)

Jangan heran kalo sudah besar anda takut sama orang gila

 

Ibu juga sering nglarang kita manjat ke tempat yang tinggi-tinggi,

“Eh nak, jangan naik ke pohon itu ya. Tinggi banget!”

“Emang kenapa bu?”

“Kalo kamu naik tinggi-tinggi ntar jatuh, bisa patah kakinya lho”

Jangan heran sekarang anda fobia sama ketinggian.

 

Bisa juga ibu nakut-nakutin biar kita gak ikut pergi mulu

“Nak, ibu mau pergi ke dokter. Di rumah aja sama kakak ya!”

“Gak mau. Ikuuuuut”

“Heh, di sana ada suntikan lho. Kamu mau disuntik sama dokter. Sakit lho!!!”

Hiii gak mau ah. Hmmm, iya deh Cuy. Aku di rumah aja.” (cuy???)

Kalo udah besar anda akan ketakutan kalo nglihat suntikan, apalagi sampe disuntik.

 

Bisa juga gini:

“Bu, ibu mau kemana?”

“Ibu mau ke pasar, nak”

“Ikuuuuut”

“eh, ibu mau beli celana dalem deng. Jangan ikut! Gak malu apa kamu? Di sana kan anak cewek semua! pokoknya jangan!!!”

Jangan heran kalo udah besar anda fobia sama….

 

Ya, sealami itulah fobia terbentuk. Siapapun bisa mengalaminya. Waspadalah!

Advertisements

5 thoughts on “Fobia

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s