Biloks Berkelok

Seketika pikiran ane terseret ke masa itu. Ketika mata, telinga dan segenap perhatian, ane tujukan ke wanita berjilbab di depan kelas sana. Menorehkan gurat-gurat tinta di atas papan putih. Berucap dengan begitu lantang mengalahkan bunyi detak jam dinding kala itu. Begitu piawainya memberi penjelasan kepada anak-anak yang duduk manis berselimutkan kain putih abu-abu berjahit di setiap bangku.

Mata mereka nanar menatap sebuah kerumitan tulisan di papan itu. Ane mulai meraba, mencerna, berusaha untuk memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang diterangkan. Rumit memang tapi perlahan ane mulai menemukan alurnya. Lalu neuron-neuron di otak ane mulai bekerja berusaha menjadikan tulisan itu sebuah memori berharga yang akan berguna kelak. Lalu sekejap pikiran ane kembali terlontar pada kalimat tanya sepupuku, “Mas nyari biloks gimana caranya?”. Daya ingat itu sekarang diuji. Pikiran ane mulai meraba, mengingat-ingat, berkelok-kelok untuk memecahkan sebuah tanya itu.

Biloks kepanjangan dari bilangan oksidasi. Trus apalagi?Itu saja?Ayolah terlalu muda untuk lupa. Terlalu kuat untuk pikun. Dan otak ane ternyata masih bisa dihandalkan. Setidaknya untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu di google. Terpecahkan.

Advertisements

4 thoughts on “Biloks Berkelok

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s