Bebilah Senyum

Diam beberapa jurus, duduk, terpaku di atas kursi rotan yang nampak tua dan reyot. Bukan tanpa tujuan. Hanya ingin menguji seberapa kuat mata ini menatap mata demi mata, wajah demi wajah yang hilir-mudik di depan sana. Mungkin cenderung ke sebuah keramahan atau malah hanya sebuah formalisasi sebagai tetangga satu RT, satu RW, satu desa yang selalu hidup berdampingan. Kamu hanya diam dan menatap? Bisa jadi. Bahkan memalingkan muka pun sangat mungkin.

Namun bagaimana menunjukkan keramahan kepada orang lain adalah penting. Ada orang lain yang selalu membantu di kala susah, menghibur di kala sedih, ikut bahagia di kala senang. Tak ada yang mengelakkan bahwasanya manusia itu makhluk sosial.  Terus kamu diam saja saat berpapasan satu sama lain? Tanpa sapaan? Tanpa senyuman? Susah memang. Tapi kenapa kamu bisa senyum-senyum dengan mudahnya ke layar HP, TV, PC? Betapa ramahnya kamu.

Senyum itu akan menjadi sangat keren saat kita memberikannya kepada orang lain. Mungkin canggung saat menyapa orang lewat depan rumah. Tapi sungguh, ada bilah-bilah senyum yang senantiasa bisa menunjukkan betapa ramahnya dirimu kepada orang lain. Ya, Meski senyum itu tak berbalas dan seringkali menjadi awkward moment. Sering… 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Bebilah Senyum

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s