Sebuah Perjalanan : Mabok? Mana Keren…!!!

Berlama-lama dalam nuansa liburan selalu membawa berbagai cerita tentang kesenangan, kemakmuran, kesuburan, dan ketenteraman baik jasmani maupun rohani. Ane meyakini kebenarannya dari berbagai sudut pandang. Jelas sekali terlihat bahwa kegemukan merupakan pengaplikasian teori makan gak pake mikir dalam masa makmur seperti yang ane alami beberapa bulan ini. Gak segemuk itu sih, cuma naik beberapa kilo aja sebenernya. Bukannya malas olahraga tapi niat untuk melakukannya selalu terhalang oleh perihal lain yang gak dapat didefinisikan dengan jelas. Ngeleeeeesss… :mrgreen:

Liburan yang gak ditentukan kapan batas waktunya merupakan hal yang langka. Liburan kok gak tentu gitu? Aneh. Lebih aneh lagi gak cuma ane yang ngalamin. Ane bersama beribu orang beruntung yang berkesempatan mendapatkan jackpot ini. Anugerah terindah yang diberikan kepada jiwa-jiwa yang selalu punya harapan. Keleluasaan ini tentunya akan menjadi hal yang sia-sia kalo gak dimanfaatkan dengan gemilang. Melancong adalah salah satu cara cemerlang untuk mengoptimalkan waktu yang begitu berlimpah ini.

Pagi yang selalu memberikan harapan baru datang lagi. Kali ini dengan binar-binar cahaya yang girang. Masuk menghujam ruang-ruang penuh harap melalui lubang-lubang jendela yang digelayuti rumbai-rumbai tempat laba-laba terdiam. Seolah mengerti bahwa ada sebuah rencana menyenangkan yang tersusun rapi. Gak sabar untuk segera dijalankan satu demi satu. Ini adalah kedua kalinya ane pergi ke Jogja setelah melepaskan status mahasiswa tahun lalu.

Sreeeet…ane tutup resleting tas ransel. Kayaknya udah masuk semuanya. Tas ane udah penuh dengan segala macam persenjataan untuk bertahan hidup nantinya. Ane kayak mau berangkat kemana…gitu. Gendong tas, kaos berjaket, celana jeans, bersandal gunung, rambut rapi, muka gak karuan. Pas-pasan. Dengan derap langkah yang mantap ane melangkah, berjalan keluar rumah dengan begitu percaya diri dan penuh tanggung jawab. Dada ane keliatan lebih busung dari biasanya bukan karena apa-apa tapi karena tas ransel yang membuatnya naik beberapa senti lebih tegak. Lebih gagah dan berkarisma. 😆

Di tepi jalan raya ane duduk mengharap belas kasihan bus untuk sekedar mengerem dan mempersilakan ane menaikinya. Kebetulan di tepi jalan itu ada tempat duduk yang sengaja dibuat untuk sekedar nongkrong atau mungkin bisa dikatakan sebagai halte swadaya hasil kreasi seseorang. Hanya berupa tumpukan bata bersemen berbentuk balok tanpa atap.

Ane memutuskan pergi ke Jogja naik bus karena moda transportasi yang satu ini selalu memberikan warna tersendiri saat memutuskan untuk bersolo traveling. Ane sendirian bray. Sebenernya bus bukan satu-satunya yang bisa mengantarkan ane menuju Jogja. Alternatif lain yang biasa dipake adalah menggunakan jasa travel. Tapi menurut ane itu kurang menantang. Cuma duduk, diam, tidur, terus sampai tujuan. Kalo lagi rame sih mending ada yang diajak ngobrol. Nah kalo lagi sepi gimana? Sepi, senyap, kuburan. Belum lagi muter-muternya, nganterin penumpang sampe depan rumah. Males…Maka dari itu ane pake bus karena selalu ada kejutan dan sensasi tersendiri saat menaikinya. Ada yang bisa diceritakan setelahnya.

Yang ditunggu akhirnya datang juga. Bus AKDP ( Antar Kota Dalam Provinsi) jurusan Pemalang-Purwokerto. Lah katanya ke Jogja bray? Kok naiknya ke Purwokerto? Ya, aturan dari sananya begitu. Aturan? Ane harus turun di Purwokerto dulu, baru naik lagi bus yang jurusan Purwokerto-Jogja. Sambung menyambung gitu lah. Gak ada yang langsung jurusan Pemalang-Jogja.

“Yaaak kerto…kerto…kerto…”, teriak kenek bus menggema.

Tanpa ragu ane langsung naik bus yang berhenti tepat di depan ane seakan paham apa yang ada di benak, mengerti kemana tujuan ane. Begitu masuk ane melihat lumayan banyak kursi yang masih kosong. Hanya beberapa saja yang terisi oleh penumpang. Mungkin masih pagi, masih sepi. Formasi tempat duduk di bus itu dua kiri-dua kanan, satu holding midfielder, dua wing back, dua striker, halah bola kaleee ah 😀 :D. Susunan kursinya dua berbanjar memanjang di samping kanan dan samping kiri. Ane segera memilah dan memilih kursi mana yang enak untuk disinggahi. Teksturnya harus diperhatikan dengan baik. Tingkat keempukan kursi harus dicermati, dengan tidak mengabaikan kebersihan dan nilai estetikanya. Jangan lupa pencahayaan juga patut diperhatikan demi terciptanya kenyamanan dalam perjalanan. Setelah menimbang lalu ane memutuskan untuk turun dari bus. Eh, nggak. hehehe 😆 . Ane milih duduk persis di belakang sopir. Biar bisa ngliat jalan di depan, seru kayaknya. Berangkaaaaaaat!!!! 😀

Di sepanjang jalan ane disuguhi pemandangan sawah yang terhampar luas. Berselang-seling dengan hutan jati yang daunnya masih rimbun. Beberapa saat nampak barisan bukit dan gunung yang memanjang dari timur ke barat, biru, bercampur dengan warna langit yang begitu bersih hari itu. Alam semesta rasanya mendukung perjalanan ane. Penumpang silih berganti datang dan pergi, naik dan turun dari bus yang kelihatan sudah senja itu. Tanpa terasa, angin yang tadinya masuk begitu leluasa mengombang-ambingkan ruang kosong di dalam bus perlahan mulai teredam. Benar saja, begitu ane tengok ke belakang ternyata bus sudah penuh dengan berbagai macam bentuk muka. Gak lama serombongan orang menyerbu ke depan berebut tempat duduk. Ane yang tadinya menaruh tas ransel di kursi kosong lalu dengan tau diri memangkunya dan bergeser ke pinggir mempersilakan siapa saja yang mau duduk. Bak gayung, ember, rantang, dan piring bersambut, seorang cewek berkacamata dengan rambut berikat kuda duduk dengan sigap di samping ane. Lumayan sih. Ibarat oase di tengah gurun pasir. Hahahaha 😆

Belum lama ane duduk berdesakan dengan memangku tas ransel, tiba-tiba pak sopir memberhentikan busnya.

“ Ya yang kerto habis…yang kerto habis…”, ceracau kenek bersambut.

“ Mas, turun purwokerto ya? Oper ke bus itu aja mas biar cepet”, lanjut kenek tanpa beban.

“ Hah? oper? Pindah bus gitu?”, terheran-heran.

“ Iya, gak usah bayar lagi”

Okelah… ane segera berdiri dengan susah payah melewati kerumunan orang yang berjubel gak beraturan dalam bus tua itu. Tanpa sengaja ane nendang kaki cewek di sebelah ane. Eh, sori2. Ane segera berlalu tanpa balasan kata dari dia. Ane melompat turun dari bus itu kemudian berlari menuju bus lain yang keliatan lebih layak yang sudah menunggu di samping. Seeet, ane melangkah begitu lihainya seperti tupai yang lincah memanjat pohon. Tapi lebih mirip atlet parkur sih. hehe :mrgreen:

Dalam hitungan detik ane sudah berada di dalam bus yang baru. Oh meeeen…. ane gak percaya dengan apa yang ada di depan ane saat itu. Lautan manusia ada di dalam bus. Berjubel. Duduk adalah khayalan. Masih untung bisa naik. Posisi ane waktu itu berdiri tepat di pintu belakang bus berdesakan sama kondekturnya. Ya sudahlah…ini jalan yang harus ditempuh.

Pemalang-Purwokerto (PP)

Pemalang-Purwokerto (PP)

Gambar diculik dari : http://www.bismania.com/

Ane gak yakin bus ini akan mampu mengangkut penumpang sebegini banyaknya. Apalagi medan yang bakal dilalui adalah wilayah perbukitan yang menanjak dan berkelok-kelok. Tapi kondisi bus yang ini lebih sehat dari bus yang ane naikin tadi. Keringat perlahan mulai keluar membasahi tubuh ane. Apalagi waktu itu ane pake jaket. Walaupun udaranya sejuk karena melewati perbukitan tapi berhimpit-himpitan membuat angin sejuk itu berubah seperti angin yang cuma berdesir hasil kibasan kertas tipis di kelas yang panas.

Keringat dingin akhirnya keluar dari tubuh ane mungkin karena lelah berdiri. Mungkin juga karena rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Jalan yang berbelok ke kanan dan ke kiri, kadang naik, kadang turun, kadang berputar naik ke atas lalu berputar turun ke bawah membuat kepala ini seakan berputar-putar tak tentu arah. Keringat begitu deras keluar dari liang-liang kulit yang sepertinya semakin lebar membuka. Pandangan udah mulai buram. Orang yang sebegitu banyaknya sekarang menjadi dua kali lipat. Ane bertambah pusing. Jalur pegunungan ini cukup mengerjai isi perut ane yang penuh terisi makanan tadi pagi. Ah, masa mabok? Dimana harga diri ane sebagai seorang lelaki? Umur segede gini masih aja mabok? Tahan….

Ciiiiittt…..bus berhenti di sebuah tempat yang ramai layaknya pasar. Sepertinya pak sopir menuruti keinginan banyak penumpang yang ingin turun. Satu per satu penumpang turun dari bus dengan berdorong-dorongan. Sekitar seperempatnya berkurang. Inilah saatnya mencari peluang untuk menemukan tempat duduk kosong. Yak, ada dua bangku kosong di jok paling belakang yang ditinggalkan ibu-ibu tadi. Ini adalah kesempatan bagus. Tapi apa yang terjadi? ane keduluan sama sepasang ayah dan anak yang dengan cekatan langsung duduk di atasnya. Engkau telah melewatkan kesempatan emas itu nak….

“Eh nak, kamu duduk sini aja sama bapak. Pangku aja sini…”, kata si bapak pada anak lelakinya.

Ayolah dek, patuhi kata bapakmu. Biar ane yang duduk disitu. plisss…, ujar ane dalam hati.

“Biar Omnya yang duduk di situ, kasihan Omnya dari tadi berdiri.”

Om? Muka ane kayak om om? Benarkah? Setua itukah saya?
Si anak kecil itu ternyata menuruti kata ayahnya. Ia segera berpindah ke pangkuan ayahnya. Oh, makasih dek, pak, kalian telah menyelamatkan hidupku. Ane menjatuhkan badan penuh peluh di jok yang kosong itu. Alhamdulillah. Rasa pusing ane berangsur-angsur mereda seiring dengan semilirnya angin yang berhembus lewat pintu belakang. Fyuuuh…

Suara bus mengerang penuh kekuatan mencoba menaiki tanjakan yang ada di depan. Asap hitam terlihat mengepul dari knalpot. Dengan susah payah bus mengangkut puluhan penumpang yang masih saja berjubel walau beberapa udah turun tadi. Laju bus perlahan mulai berkurang ketika berusaha melewati tanjakan, hampir berhenti sama sekali. Plisss jangan mogok…ayolah! ane coba bantu dengan mengeluarkan tenaga dalam. Tarik napas…haaaap keluarkan tuuuuuttt…suara angin mendesir melewati sela-sela jok yang ane duduki. beeessss…:mrgreen: :mrgreen: Kecepatan bus mulai bertambah. Yak, gak jadi mogok.

Jalan tak henti-hentinya berkelok diselingi tanjakan dan turunan. Pusing yang tadinya sudah reda sekarang datang kembali. Ane berusaha mengatur napas, menghirup udara sejuk banyak-banyak supaya oksigen di otak selalu terjaga. Anak kecil di samping ane tadi kayaknya merasakan hal yang sama. Bahkan keringat dinginnya terlihat jelas sebesar butir-butir jagung. Wajahnya pucat, terdiam, seperti menahan sesuatu dari mulutnya.

Tiba-tiba si anak itu memanggil bapaknya,”Pak…”
Sambil menarik-narik baju ayahnya yang juga udah banjir keringat. Kemudian tanpa berkata-kata ia menunjuk mulutnya sendiri dengan jarinya. Sepertiya dia mau mengeluarkan sesuatu. Oh men…Merapi mau meletus lagi!!! Siap-siap banjir lahar dingin ini. Ayolah dek, sekarang bukan waktu yang tepat. Si bapak segera mencari plastik yang ternyata sudah dipersiapkannya. Dia menyodorkan plastik putih ke mulut anaknya. Si anak mulai meludah. Pliss jangan sekarang dek…Dengan muka yang pucat si adek terus berusaha sekuat mungkin menahan biar tidak muntah. Kamu pasti bisa!

Kok gak keluar2 ya?wah sepertinya dia berhasil menaklukannya. Saluttt…
Jalan ternyata sudah mulai melandai. Pegunungan sudah dilewati. Sepertinya sudah aman. Tapi kok pusing kepala ane belum juga ilang. Ya Tuhan..jangan sampe muntah. Masa kalah sama si adek kecil itu. Apa kata dunia!!!Dada ane kembang kempis berusaha mengatur napas. Mungkin ini cara terbaik untuk bisa meredam rasa pusing itu. Oke sebentar lagi sampai, ane pasti bisa. Tahaaan!!! Sedikit lagi…

Gak lama berselang terlihat terminal Purwokerto yang berkilauan di depan mata. Yak, ane selamattt. Selamat dari tekanan mabok. Ane turun dengan terlunta-lunta sambil mengepalkan tangan, memukul-mukul angin. Tanda kemenangan atas perang gerilya itu.

Namun perjuangan belum berakhir. Ane harus lanjut naik bus lagi jurusan Jogja. Okeh atur napas dulu…

Setelah tiket didapat, ane langsung bergegas naik bus “efisiensi” patas. Busnya jauh lebih bagus dan nyaman dibandingkan bus-bus yang ane naiki tadi. Dalemnya mirip pesawat bray. Sayang gak ada pramugarinya, ngakngakngak. Yang ada mas-mas kondektur dengan wajah yang cukup nestapa, hehe. Wah beda banget joknya. Yang ini lebar, empuk, bisa di atur tingkat kemiringannya. Dan yang terpenting adalah ber AC. Sepertinya akan menyenangkan. Perjalanan dilanjut.

Patas AC Purwokerto-Jogja

Patas AC Purwokerto-Jogja

Gambar dipungut dari : http://1.bp.blogspot.com/-1F5vkGUcVik/TmVqeV7GDJI/AAAAAAAAACU/h2erXlNcc20/s1600/orange.jpg

Awal-awal perjalanan ane begitu nyaman dengan segala fasilitas yang ada dalam bus itu. Ane bisa berleha-leha sambil nonton film yang diputar. Adeeem…Berasa nonton di XXI bray. Namun kenyamanan ane harus sedikit terusik. Jalur berkelok-kelok kembali menanti di depan mata. Lah…kenapa ada jalan beginian lagi? wah alamat pusing lagi ini. Apa yang ditakutkan kembali terjadi. Kondisi bus sih gak ane ragukan lagi, tapi naik turunnya jalan kembali membuat ane gak santai. Perang dimulai lagi. Kepala ane kembali bergejolak kayak lagi naik roller coaster. Udara dingin sekejap menyelimuti tubuh ane. Mungkin dari AC yang berhembus begitu kencang. Okeh, ane tutup ACnya. Dinginnya udara ternyata gak menjamin keringat gak keluar. Keringat macam apa ini? keluar disaat udara dingin kayak gini.

Ane harus mencari akal untuk mengatasi pusing ini. Yak, Ngobrol…tapi sama siapa? ane duduk di samping bapak-bapak yang udah sepuh. Dia lagi tidur pules banget. Gak mungkin membangunkan dia buat diajak ngobrol. Ngajak ribut???

Ane terdiam menahan perut yang semakin mual saja. Ane coba alihkan perhatian dengan menonton film yang diputer. Tapi yang ada semakin bertambah pusing. Ane palingkan pandangan jauh keluar sana. Memandang apa saja yang ada di luar. Pepohonan, sawah, orang-orang, kendaraan yang bersliweran. Sesekali memejamkan mata sambil menghitung domba berharap itu dapat membuat ane terlelap. Tapi tetap tidak bisa. Sepanjang jalan ane hanya terdiam sambil komat-kamit berdoa supaya jangan sampai keluar semua isi perut ane. Mubadzir. Betapa malunya kalau sampai keluar. Mana gak ada plastik lagi. Bisa-bisa terburai kemana-mana.

Namun perlahan alur jalan sudah mulai bersahabat. Gak ada lagi tanjakan dan turunan. Gak ada lagi tikungan yang berkelok tajam. Terimakasih Tuhan sudah mengembalikan kami ke jalan yang lurus. Sebuah kemenangan atas kemabokan. Bertahan dibawah tekanan memang sangat tidak mengenakkan. Rasanya potong tumpeng pantas diadakan untuk mensyukuri kemenangan ini. hehehe 😀

Pusing berangsur-angsur mereda. Keringat sudah menguap ke udara. Wajah mulai berbinar gak hanya karena keadaan yang mulai terkendali tetapi juga karena suasana Jogja sudah mulai terasa.

16.10  mendarat di terminal giwangan Jogjah dengan lunglai 🙂

Advertisements

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s