Merah, Hijau, Biru, dan Sepaket Senyum yang Baru

Langit Jogja sore itu sungguh cerah. Sebuah sambutan yang ramah sekali untuk seorang pendatang ini. Berkas-berkas kejinggaannya berpendar ke seluruh penjuru, ke segala arah. Kulit lembab yang menyelimuti tubuh gak luput dari cengkeraman binar-binarnya. Muka nestapa ini keliatan berkilauan, bukan karena bulenya warna kulit, tetapi karena banyaknya minyak yang keluar dari ladang-ladang yang ada di kulit, terkena cahaya matahari yang sudah mulai condong ke barat. Sesampainya di sana ane kabarkan semuanya, kepada karang, kepada ombak, kepada matahari, dan tentunya kepada temen yang akan menjemput ane dari terminal itu.

Sebelumnya ane udah bikin janji sama temen SMA. Kebetulan dia masih kuliah di Jogja. Karena belum tau tempat kosnya, ane menawarkan diri untuk dijemput. Daripada nyasar di negeri orang? hehe. Temen ane ternyata menyanggupinya bray. Wah baik banget dia. Aku padamu sob. Hah?

Setelah menunggu beberapa menit di depan pintu masuk terminal, melintaslah sesosok manusia bermahkotakan helm lengkap dengan tunggangannya. Dia melambaikan tangan ke arah ane sambil membuka kaca helmnya. Kayaknya mukanya familier, pernah lihat dimana….gitu.

Kamu tau dia siapa?
Dia adalah…

Intel…

Eh bukan2…Dia temen SMA ane yang sudah ane tunggu sedari tadi. Tanpa ba.. bi… bu… ane langsung berlari ke arahnya penuh asa. Aguuus aku padamuh… :mrgreen:

Ane langsung menjabat tangannya dan menepuk-nepuk punggungnya. Badannya keliatan agak lebih tipis dari yang ane sangka. Terakhir ketemu sama dia lebaran tahun kemaren. Memang perawakannya gak memungkinkan untuk jadi gemuk kali yah. Tapi katanya dia habis sembuh dari sakit dan dia sedang berpusing-pusing dengan skripsinya. Wah pantesan kurus…

Dengan penuh semangat dia mengantarkan ane menuju ke kosannya. Sampe di kosan ane langsung menjatuhkan badan ke sebuah kasur busa yang lumayan empuk…gedabraaaah.
Di samping ane, nampak Agus yang langsung duduk manis di depan layar komputernya. Matanya nanar memandang kerjaannya yang cukup menyita waktunya akhir-akhir ini.
Scroll ke bawah, scroll ke atas,” mana lagi yang kurang ya? Kalo kalimatnya begini bener gak bal?”

“Nngggg? bentar”. Ane langsung menggelinjang.

“Kayaknya lebih bagus gini deh gus”. Sahut ane sok tau.

“Hmmm gitu ya? ntar bantuin lagi ya,”kata Agus sambil memperbaiki tulisannya.

Ane koprol di kasur. auwoooo….

Setelah solat maghrib dan mandi-mandi bebek ane diajak keluar ke lab. kampus. Dia butuh bantuan untuk melakukan sesuatu dan ane selalu siap sedia. Tenang aja gus. hehehe. Dalam sekejap tugas selesai tapi  perut yang sedari siang belum diisi nasi akhirnya mengkode minta diisi. Saatnya makan… 😀
Sebenernya ane sudah janji sama seseorang sih. Udah dirancang sedemikian rupa supaya malam ini bisa ketemu di sebuah tempat. Motor si Agus mau ane pinjam tapi kayaknya mau dipake deh, dia kan lagi sibuk gitu. Ya udin deh, ane minta Agus buat nganterin.
Trus dia mau gitu? Kamu berani bayar berapa?
Temen gak bisa dibeli bray, tsaaaah. Sebenernya bagi dia berat mungkin yah, tapi buat temen apa sih yang gak bisa. hehehe :mrgreen:

19.50. Baju udah diganti, disemprot pake minyak bumi eh minyak wangi, rambut disisir rapi, muka gak bisa diperbaiki. Kita berangkat dari kosan. Tarik maaaanngg… 😆

Sepanjang jalan ane cemas kalo2 telat dateng. Dimana tanggung jawab gue? Menepati janji aja gak bisa. Namun kegelisahan ane itu hanya khayalan semata setelah ane diyakinkan dengan kemampuan Agus berkendara. Dia menyapu jalanan begitu lihainya bak Valentino Rossi mengasapi lawan-lawannya. Dalam beberapa menit udah sampe aja di TKP. Yak, AlKid. Alun-alun Kidul. 🙂

Sesampainya di sana ane disuguhkan pemandangan yang luar biasa ramainya. Behhhh….macet!!! Mungkin karena lagi musim liburan sekolah kali yah. Kami mlipir sedikit demi sedikit menuju parkiran motor yang juga udah hampir penuh. Kami parkirkan motor tepat ke menghadap ke jalan raya.

Ternyata yang dinanti belum datang. Syukurlah ane gak telat. Kami berdua nunggu dia tepat di depan Sasana Hinggil. Kita duduk menatap lalu-lalang orang-orang dengan muka-muka ceria di depan sana. Ini mungkin tempat yang sangat menghibur bagi mereka. Setelah berlelah-lelah dengan urusan mereka masing-masing, ini saatnya melepaskan penat dengan bersenang-senang.

Muka ane mungkin tenang-tenang saja kala itu, tapi apa yang ada di dalam dada berbeda. Jantung berdebur begitu derasnya bray. Dag dig dug cesss…Gak tau kenapa semakin lama detaknya semakin cepat. Sesekali ane hela napas supaya bisa mengendalikannya. Ambil lewat hidung buang lewat bawah. Dada ane bergejolak, terombang-ambing. Ah, dasar lemah…

Di saat ane menikmati keramaian yang ada di depan mata dan terus diserang gejolak-gejolak gak jelas, sesosok gadis muncul dari balik mobil hitam yang diparkir di pinggir jalan raya di depan kami. Sambil agak memiringkan kepalanya beberapa derajat, senyum memancar dari wajahnya, dihujani cahaya lampu jalan yang semakin membuat pemandangan nampak begitu indah. Alamak jantung ini sekejap meletup-letup menyambut senyum itu. Gak salah lagi, dia yang ane tunggu. Gus, tolongin temenmu ini gus , tolonggg…

Perlahan ia mulai mendekat ke arah ane. Melangkahkan kakinya dengan gemulai. Duh, gimana ini? Sekarang dia udah benar-benar di depan ane. Trus ngapain? Yak, lagi-lagi dia melempar senyum. Kali ini agak keliatan sedikit deretan giginya. Lesung pipitnya menambah warna tersendiri pipi yang agak menyembul tertarik oleh kontraksi senyuman itu. Mukanya keliatan ceria banget waktu itu.

Ane, entah kenapa, mematung gak tau mau melakukan apa. Jantung semakin meletup-letup. Aliran darah seakan macet gak bergerak. Dia melihat ane dengan mata yang berbinar dan bertanya-tanya. Gimana gak rontok hati ini. Ane harus gimana? Okelah. Ane coba balas dengan senyuman. Tapi ane yakin senyuman ane gak simetris waktu itu. Gus, bawa ane pulang gus. Bawa pulang…jangan biarkan temenmu ini mati berdiri…

“Halooo”, dia mulai menyapa.

“Halo…”, balas ane. (kok kayak lagi telpon ya, halo…hehehe 😆 )

“Oh iya, ini temenku. Agus…”, sambung ane. Si Agus senyum-senyum gak jelas.

“Hmmm salam kenal”.

Ane langsung menyodorkan sebungkus plastik kepadanya. Isinya oleh-oleh yang udah ane janjikan. Kayaknya dia nungguin itu deh. Keliatan, dia langsung merenggut bungkusan itu dan membukanya cepat-cepat. hehehe

“Makan dulu yuk, belum makan kan?”, ajak dia.

“Udah sih sebenernya tadi, hehe. Tapi ya ayolah”.

Sebelum pergi ane menitipkan beberapa pesan ke Agus. Ane dan Agus bertatapan penuh pengertian. Kayaknya dia paham apa yang ane maksud. Sebelum akhirnya ane meninggalkannya sendirian. Sori gus. hehehe :mrgreen:

Tempat makan yang akan kami tuju ada di pinggir alun-alun sana. Kami harus menerobos jalan raya yang gak henti-hentinya dilewati kendaraan. Kalo kayak gini harus pake cara orang Jakarta waktu nyebrang jalan. Tangan kanan mengaba-aba memberhentikan kendaraan sambil perlahan memaksa menyeberang mendahului kendaraan lewat. Akhirnya kita berhasil membelah jalan dan membuka sedikit ruang yang memungkinkan kita untuk menyeberang.

Bagai kerbau dicocok hidung, ane patuh mengikuti langkahnya menuju ke tempat makan yang ada di pinggir sana. Oke, kesempatan ane terbuka lebar untuk mulai membuka pembicaraan sambil jalan ke tempat itu. Ayolah tanya apa aja yang ingin kau tanyakan bal. Kata ane dalam hati.

“Hmmm itu maenan yang kamu maksud?”, sambil nunjuk maenan ketapel dari bambu yang bisa melontarkan semacam bulu yang rangkanya terbuat juga dari bambu dan bisa memutar diudara disertai lampu kelap-kelip. Ane paksakan suara yang keluar berwibawa, tapi apa daya yang keluar hanya suara tipis dan lirih kalah oleh suara kendaraan yang begitu ramainya di sana. Ane baru saja mengeluarkan pertanyaan yang nggak mutu, hadeeeh. Tapi sayang, telat. Ia terlanjur udah denger.

“Iya. Bagus kan. Ntar kita maen itu,”jawab dia.

Gak lama kita sampe di tempat makan. Kayaknya dia udah laper banget tuh. Dengan sigapnya kita langsung memesan makanan dan minuman. Sembari nunggu pesenan, kami berkicau kesana kemari. Kain abu-abu yang menudungi kepalanya membuat bentuk muka semakin tegas membulat. Raut-raut keceriaan sangat terasa di wajahnya entah karena apa ane gak tau. Mungkin moodnya lagi bagus malam itu.

Pesanan udah dateng, kami makan di iringi dengan pengamen yang silih berganti datang dan pergi dari satu meja ke meja lain. Sambil makan ane terus mencari-cari pertanyaan yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Tapi jangan sampe deh…ane membahas masalah itu. Perihal yang bisa menyesakkan hati ane sendiri. Mungkin ane berhasil menghindarinya tapi lagi-lagi pertanyaan ane kayaknya gak mutu deh. Sudahlah spongebob, kamu sudah berusaha…hehehe 🙂

Roti bakar udah habis, minuman pun menguap entah kemana. Sekarang saatnya….kabuuur 😆
Dengan asa yang telah membumbung tinggi kami segera beranjak dari tempat makan menuju ke tengah alun-alun. Ngapain? Ibu pedagang maenan ketapel bulu adalah yang kami tuju. Dia (gadis bertudung)  udah janji ngajak ane maen itu. Wah dia girang banget. Lagi-lagi lesung pipitnya muncul menyambut senyum yang kembali merekah. Duh, tambah gak karuan ane.

“Beli bu, ketapelnya”’ kata dia pada si ibu.

“Satu lagi bu, buat saya”, sambung ane.

“Eh, mau juga ternyata”, serunya kaget.

Ane coba tuh maenannya. Ane kaitkan peluru bulunya ke ketapelnya. Ane rentangkan karetnya, tarik, dan ane lepaskan jauh ke atas. Wuzzzz…. bulu yang terbuat dari plastik dengan rangka bambu itu meluncur deras ke atas seperti pesawat ulang-alik yang meluncur ke angkasa. Beberapa saat kemudian berputar di udara di sertai dengan lampu yang terpasang di tangkainya.

Merah…

Hijau…

Biru…

Ketiga warna itu terus bergantian menyala setiap sepersekian detik. Bulunya yang terbuat dari plastik mika yang ditempeli dengan kertas berwarna menghasilkan paduan warna yang bagus. Warna itu membentuk lingkaran warna pelangi yang melayang-layang di udara. Cahaya-cahaya itu tentu akan sangat keliatan di tempat yang gelap. Itu menjadi keindahan tersendiri bagi yang melihatnya. Bagus juga ini maenan, cukup menghibur. hehehe

Aha! ane punya ide!

“Gimana kalo kita tukeran? Jadi aku ngarahin bulunya ke arahmu ntar kamu tangkap, dan sebaliknya kamu ngarahin ke aku ntar bulunya tak tangkep,”ajak ane.

“Wah…boleh2,”dia menyetujui, gak ketinggalan senyumnya yang merontokkan hati.

Okeh mulai. Ane ambil jarak beberapa meter sama dia. Ane ukur sudut elevasinya. Ane arahkan ketapelnya beberapa derajat biar jatuhnya pas ke dia. Dia juga melakukan hal yang sama. Okeh sudah siap. 1..2..3…wuzzzz

Peluru bulu yang ane lontarkan sepertinya pas mengarah ke dia. Gak terlalu tepat sih tapi gak jauh-jauh amat. Gimana dengan dia? ya punya dia malah lebih deket mengarah ke dirinya. Ane harus berlari mengambilnya terus kembali lagi ke posisi semula. Okeh, coba lagi ya..

Lontaran kedua menghasilkan:

Bulu hanya menguncup tidak mau mengembang, alhasil terlontar jauh sampai ke jalan raya. Dia harus memungutnya jauh di jalan sana. Kesian…maaf yah, hehehe

Punya dia ternyata cukup deket sama posisi ane jadi ane gak perlu jauh-jauh nangkepnya.

Lontaran ketiga:

Nyangkut di atas gerobak tukang jagung rebus.
Ane nabrak tiga mas-mas di belakang waktu ngejar punya dia.

Setelah berkali-kali percobaan kami sudah mulai menguasainya. Peluru bulu dapat dikendalikan dengan baik sesuai target. Gak henti-hentinya kami saling melontar dan bertukar maenan itu. Wah kayaknya dia girang banget bray. Sepanjang permainan ane ngliat senyumnya terus terkembang berkali-kali. Lelah yang ane rasakan sepanjang perjalanan dalam bis dari pagi sampai sore tadi serasa hilang, gak berasa, setelah ngliat dia senyum kayak gitu. Belum pernah ane ngliat dia senyum kayak gitu. Senyum yang baru. Senyum yang merontokkan hati. 🙂

Gak kerasa udah hampir jam 10 malam, waktu hampir habis. Sambil istirahat sejenak, ane ngajak dia beli es goreng di tepi jalan sana. Entah kenapa es goreng selalu memberi kenangan tersendiri. Enak juga sih rasanya, hehehe. Tadinya sih mau beli dua tapi si penjual bilang 5000 aja, tak kasih tiga mas. Ya udin, beli tiga deh. Kemudian si penjual bilang,” Terima kasih, saya doakan semoga kalian berdua langgeng”.

Kami berdua lalu mengernyitkan kening penuh tanya apa maksud doa itu. Hmmm mungkin langgeng sebagai sahabat kali yah, ujar ane dalam hati coba berbaik sangka. Ya itu yang paling memungkinkan sekarang setelah semua yang sudah terlewatkan. Amin aja deh…

Malam yang begitu menyenangkan karena bisa menghabiskan waktu maen-maen dan senang-senang. Malam yang mengenyangkan juga karena ane harus memakan satu  es goreng yang tersisa tadi padahal udah penuh banget tuh perut. Yah, semoga ini menjadi kisah yang menarik untuk masa depan. What a moment!!! Ane berharap agar bisa terus berjumpa dengan senyum itu. Jangan sampe hilang. Sepaket senyum yang baru. Senyum yang merontokkan hati. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Merah, Hijau, Biru, dan Sepaket Senyum yang Baru

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s