Menapak Negeri di Atas Awan

Hari itu rencana ane mungkin kurang tersusun dengan baik. Habis nonton konser terus ngapain? Jauh-jauh ke Jogja masak cuma nonton konser doang? lagian baru dua hari ane di sana, kurang berasa dong liburannya. Belum diusir juga sama yang punya rumah. hehehe. Okeh, daripada bingung kita memutuskan maen aja ke rumah temen. Temen yang mana lagi ini? Masih di Jogja sih rumahnya. Katanya di daerah Cangkringan deket gunung merapi.

Seperti biasa kami jalan pake motor saling berboncengan. Karena gak tau menau jalanan Jogja, ane gak menawarkan diri menyetir si bebek. Ya, ane cuma bisa membonceng tak berdaya. Kata temen ane sih medannya berat gitu. Menanjak, menurun, mendatar, bergelombang, penuh liku-liku, ada suka ada duka. Hiperbolik. Karena gak tau apa-apa ane nurut aja deh.

Jalanan pada saat itu cukup lengang. Mungkin karena harga BBM baru aja naik jadi banyak yang lebih memilih istiqomah di rumah masing-masing. Mungkin juga karena saat itu adalah hari yang panas. Cerah banget. Kayaknya ane datang di cuaca yang tepat. Mestakung! ๐Ÿ˜€

Membonceng motor sebenernya pekerjaan yang cukup membosankan. Kamu harus duduk manis di jok motor. Gak boleh banyak gerak. Kenapa? kebanyakan gerak ntar batal. Hah???
Ada kalanya kamu was-was dengan gaya berkendara temenmu. Pantat panas harus ditahan. Gak jarang muncul bayangan-bayangan gak jelas yang menguasai pikiran. Melamun. Teringat dosa-dosa di masa lalu. Lalu kamu menitikkan air mata. Hah??? Ya, kamu ngantuk. Benturan helmu dengan helm temenmu yang nyetir lalu menyadarkanmu kembali. :mrgreen:

Di tengah kebosanan itu ane menyaksikan jalan aspal tak berujung yang terhampar di depan mata. Semakin lama semakin kecil menuju ke sebuah titik jauh di depan sana. Sesekali debu menerpa wajah yang semakin lama semakin rata ๐Ÿ˜†ย  .Berkali-kali degup jantung dibuat buyar ketika motor terpaksa lewat di atas jalan berlubang penuh kejutan. Suhu jok di bawah ane semakin naik saja. Sedikit mengubah posisi duduk adalah satu-satunya cara mengusir rasa panas yang berkuasa disela-sela jok motor yang ane duduki. Ibarat burger yang diangetin lah ini. hehehe ๐Ÿ˜†

Debu yang beterbangan bukannya berkurang, semakin lama malah semakin menyerbuk. ย Gak ada masker, hanya kaca helm yang dapat mengurangi terpaan debu itu. Ini bukan debu lagi namanya, ini pasir. Ane bisa merasakan beberapa butir masuk dan mengganjal bola mata. Benar saja, banyak truk-truk pengangkut yang lalu-lalang di sekiar kami. Membawa pasir dari sebuah tempat yang kayaknya jaraknya semakin dekat. Perlahan temen ane memelankan motor penuh maksud. Ia meminggirkannya keluar dari jalan aspal lalu berhenti di pinggiran hamparan lahan yang melintang memutus jalan aspal di depan kami.

โ€œIni namanya kali gendol. Dulunya gak selebar ini tapi semenjak banjir lahar dingin merapi kayak gini kondisinya sekarang,โ€ papar temen ane.

Aliran air di kali gendol cuma dikit, mungkin belum hujan kali yah. Ane malah liat pasir-pasir yang sangat berlimpah jumlahnya, menumpuk bercampur dengan bebatuan hasil muntahan gunung merapi. Hal ini menjadi berkah tersendiri buat para penambang pasir. Di situ banyak truk-truk yang siap mengangkut pasir ke sebuah tempat yang dari situ bisa dihasilkan uang. Inilah berkah dibalik bencana merapi beberapa tahun lalu.

Pandangan ane kemudian mengerucut pada sebuah batu besar yang begitu kokoh di tengah jalan sana. Batu segede gitu bawanya pake apa ya?Darimana dapetnya? Dari jaman manusia purba kah?

โ€œBatu itu dari merapi. Banjir lahar dingin yang membawanya sampe ke sini,โ€ papar temen ane menghentikan ceracau tanya.

Wah dahsyat banget ya, batu segede gitu bisa kebawa sampe sini. Ane gak habis pikir. Begitu besar kuasa-Nya dan tak ada satu makhluk pun yang mampu menandingi-Nya. Batu itu sekarang menjadi pemandangan menarik di situ. Batu itu dijadikan semacam prasasti untuk mengenang erupsi merapi. Ia saksi bisunya.

batu kali gendol

Batu di Kali Gendol

Gambar dicomot dari : http://www.soloposfm.com/2012/04/prasasti-erupsi/

Matahari yang semakin tinggi membuat cuaca semakin panas saja. Kami bergegas melanjutkan perjalanan. Agus pasti sudah menunggu di rumahnya. Rute yang akan dilalui kayaknya akan menjadi semakin berat. Kita sudah mulai melewati tanjakan dan beberapa tikungan. Kondisi jalan sudah mulai memburuk. Shockbreaker motor yang ane tumpangi kayaknya sudah tidak berjalan optimal. Tiap kali melintasi jalan berlubang kita harus mengalami benturan yang cukup tidak mengenakkan. Cukup membuat nyeri tulang duduk.

Di samping kanan dan kiri jalan nampak pohon bambu yang tumbuh memayung. Cahaya matahari terhalang oleh rimbunnya daun-daun dari pohon bambu itu. Intensitas cahaya menurun, jalan agak menjadi gelap. Okeh, kami sedang melewati lorong waktu menuju dunia lain. Rimbunnya pepohonan membuat udara semakin terasa sejuk. Ane langsung buka kaca helm untuk merasakannya. Wah seger bener bray… ๐Ÿ™‚

Seiring dengan semilir angin yang berhembus menyapa wajah, kondisi jalan malah semakin parah saja. Belum lagi tanjakan yang sudah menantang di depan mata. Untung saja motor kami sehat, didukung dengan berat badan kami yang ideal. Walaupun agak bersusah payah tapi perlahan, satu demi satu tanjakan kami lewati dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Sesekali kami berpapasan dengan truk-truk yang menebarkan butir-butir pasir yang agak mencemari udara sejuk di sepanjang jalan.

Udah banyak banget tanjakan yang kami taklukan tapi rumah Agus kok gak muncul-muncul ya? Perasaan udah tinggi banget kita. Awan aja udah deket banget di atas kepala. Tinggal lompat kita udah bisa menyentuhnya. Jangan-jangan rumahnya di puncak merapi sana. Ngeri juga kalo emang beneran gitu bray. Misteri gunung merapi bisa jadi tayang lagi nih. Gak kebayang kalo tiba-tiba di tengah jalan nanti, kami dihadang oleh Mak Lampir bersama pengikutnya. ๐Ÿ˜†

Setelah menelusuri jalan sempit yang berliku akhirnya kami sampai di rumah Agus. Dari dalam rumah ane lihat sosok manusia gempal, tinggi berusaha membuka pintu. Yak, dia Agus. Setelah dia mempersilakan masuk, ane tanggalkan sandal dan menyambutnya dengan langkah pasti. Begitu kaki kanan menapak lantai, mata ane mengerjip-kerjip. Brrrrr…dingin banget lantainya. Ini lantai apa es batu yak? Rasa dingin lantai itu merambat begitu cepatnya sampai ke ubun-ubun. Bulu kuduk ane berdiri menyambutnya. Ane menggelinjang, melompat-lompat gak karuan. Untung disitu udah dibentangkan karpet tebal buat alas jadi dinginnya bisa sedikit diredam. Beberapa cangkir teh hangat dan makanan ringan gak lama datang seakan mengerti apa yang kami butuhkan pada saat itu. Perjalanan yang penuh perjuangan tadi lumayan menguras tenaga dan isi perut kami. Apalagi udaranya dingin begini. Perut akan cepet laper pada saat udara dingin. Baru beberapa menit teh hangat dan makanan ringan udah habis aja. Wah gak berasa. Mungkin ini yang bikin Agus gemuk kali yah ngemil terus gak kenal waktu demi mengusir dingin yang menyerang tubuh. Hmmm pantesan. hehe…pisss Gusss! hahaha ๐Ÿ˜†

Agus ngajak kami jalan ke suatu tempat di ujung desa. Yak, tempat paling ujung. Jalan kaki? Gak lah. Ini naik lagi tempatnya, perjuangan lagi. Mari memanfaatkan kemampuan sepeda motor kita. Belum lama jalan, erangan kembali terdengar dari motor yang ane naiki. Tanjakan lagi, mudah-mudahan kuat. Ane percaya padamu wahai sepeda motor! Pepohonan yang begitu hijau merupakan pemandangan yang sangat menyegarkan pikiran. Udara sejuk tak henti-hentinya menampar-nampar wajah kami. Paru-paru serasa sesak dengan udara yang begitu bersih. Di saat motor kami berusaha susah payah manaklukkan tanjakkan tiba-tiba sebuah motor butut dengan begitu cepat melesat mendahului kami. Kamu tau siapa yang menaikinya? Dia adalah anak-anak SMP. Jalan kaki gak memungkinkan mereka untuk pergi ke sekolah dengan kondisi jalan naik turun kayak gitu. Kami diasapi oleh mereka bray. Sebuah tamparan yang sangat menyakitkan. Anak sekecil itu dengan motor bututnya begitu mudahnya mengasapi kami. Pake nitro kali tu motor. Ane cuma bisa menatap nanar penghinaan ini.

Agus kemudian berbelok ke kiri keluar dari jalan aspal menuju ke jalan berkerikil. Kami mengikuti di belakangnya. Beberapa saat kemudian kami berhenti dan segera memakirkan motor. Di depan kami sekarang adalah jurang. Sama sekali gak ada pagar yang membatasi kita dengan jurang. Dari atas sini kami bisa melihat pemandangan langka di bawah sana. Ane menyaksikan sisa-sisa bencana merapi beberapa tahun lalu. Bener-bener jelas keliatan mana yang terkena mana yang tidak. Ada bagian yang gak kena karena terhalang oleh bukit yang membentenginya. Di bawah sana ane lihat truk-truk berserakan siap mengangkut pasir dari tambangya. Pasir kering yang beterbangan terlihat dengan jelas.

Mundur 3 langkah jurang menyambut

Mundur 3 langkah jurang menyambut

โ€œGimana kalo kita naik lagi?Mau?โ€, kata Agus menantang.

Hah? Mau naik kemana lagi ini? Ke atas awan?
Kami segera beranjak dari tempat itu seolah meng-iya-kan pertanyaan Agus. Seperti yang Agus bilang, kami harus naik lagi menyusuri tanjakan yang seakan gak ada habisnya. Kasian motor temen ane. Disuruh kerja rodi. hehehe.

Kayaknya didepan udah mentok deh jalannya. Kita bener-bener berada di ujung jalan sekarang. Jalan aspal berganti lagi dengan jalan kerikil. Kami berada di atas awan sekarang. Kami lalu naik ke sebuah bangunan, semacam pos pengawas. Behhh…di atas anginnya kenceng bener bray. Ane harus pegangan sama besi pembatas biar gak kebawa angin. Wah sejuk banget di atas. Dari atas, ane bisa menyaksikan beberapa bagian Jogja terhampar luas. Sesekali kabut tipis menerpa tubuh kami yang semakin lama semakin menyusut saja akibat udara yang begitu dingin. Ah, sayang sekali awan menutupi merapi waktu itu. Perlahan awan mulai menghitam. Mengumpul membentuk gumpalan-gumpalan. Kayaknya sebentar lagi mau hujan deh. Sebelum itu terjadi kami memutuskan untuk segera turun kembali ke rumah Agus.

Beda dengan waktu berangkat tadi, sekarang yang ada hanyalah jalan yang terus menurun. Tinggal nggelinding aja udah sampe rumah deh tuh. Melihat jalan yang seperti itu kami menaiki motor tanpa menghidupkan mesinnya. Selain karena kasihan sama motornya, ini juga menghemat BBM. Ane serasa naik roller coaster pada saat menuruni jalan yang terjal itu. Muka ane perlahan basah oleh gerimis yang mulai menyerbuk. Kabut tipis yang menutupi sebagian jalan seolah menurunkan suhu udara beberapa derajat. Perlahan muka kami pucat.

Dan akhirnya…
Kami sampai di rumah Agus dalam kondisi membeku.

Advertisements

12 thoughts on “Menapak Negeri di Atas Awan

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s