Puncak 3 Jilbab Ranum

Temen-temen yang kemaren kumpul bareng dan jalan bareng di Jogja, satu per satu mulai berguguran pulang ke rumah masing-masing. Tinggal ane sendirian yang tersisa yang masih numpang di tempat rumah temen ane itu. Yak, ane penghuni terakhir. Sepertinya ini sinyal-sinyal bahwa ane udah disuruh pulang ke rumah emak. Awalnya ane memutuskan untuk pulang hari itu juga, secara ane kan orang asing di rumah itu, gak enak dong. Meskipun pada dasarnya hidup di dunia ini cuma numpang tapi kalo kelamaan ya gak enak juga. Tapi tunggu sebentar, saat itu hari Jum’at, hari yang pendek. Nanggung banget kalo pulang hari itu, lagian mau shalat jumat dimana nanti? Okelah dilema ini harus segera diakhiri. Ane meminta perpanjangan waktu berlibur satu hari. Ane putuskan buat pulang besok, tok… tok…tok…

Ah, dasar tamu yang gak tau diri ane. Ya mau gimana lagi ya, itulah cara yang paling menguntungkan, hehehe 😀 . Sebenernya ane rela buat nyuci piring untuk menunjukkan kesadaran diri ane sebagai seorang tamu yang udah mendapatkan suguhan yang baik dari tuan rumah. Tapi ane gak pengen pertunjukkan kuda lumping mampir ke rumah itu gara-gara ngliat pecahan beling dari piring-piring yang ane cuci. Satu lagi, ane adalah orang yang selalu berusaha menjaga persahabatan. Jangan sampe gara-gara piring pecah persahabatan juga pecah. :mrgreen:

Liburan diperpanjang sehari dan ane gak tau mau ngapain hari itu. Ane canggung mau ngapa-ngapain di rumah itu. Mau tidur-tiduran, gak etis. Mau bantu-bantu juga bingung mau bantu apa. Mati gaya banget. Jadi patung!!! Saat ane mulai nyaman dengan kecanggungan itu temen ane mengajukan sebuah rencana.

“Kamu belum pernah ke Nglanggeran kan ya?”

“Belum kayaknya”, sahut ane sambil mematung.

“Gimana kalo kita ke sana habis shalat Jumat ntar? Kita naik gunung Purba?

Kemudian lapisan batu yang menjadikan ane patung tadi mulai retak dan hancur. Ane kembali…

“Ayooo…berangkat kita!!!”, jawab ane penuh asa.

Setelah mengisi amunisi dan istirahat beberapa jam habis shalat jumat, kita bergegas berangkat menjemput asa di depan mata. Ane segera pakai dan kencangkan sandal gunung yang sudah menjadi teman setia ane menaklukkan beberapa puncak. Perlengkapan seperlunya udah masuk tas. Poni sudah rapi. Hah??? Stamina sudah siap, begitu pula dengan tunggangan kita, saatnya meluncur…

Saat itu hari cukup mendung. Awan-awan hitam bergelayut di atas sana. Ah, mudah-mudahan gak hujan. Meskipun rencana ini tak tersusun dengan baik tapi tolonglah tuhan…wujudkan rencana hambaMu ini. Seperti biasa ketika udah masuk area perbukitan kamu akan menjumpai jalan yang berliku penuh tanjakan. Jalan raya wonosari saat itu terpantau ramai lancar didominasi truk dan bus AKAP. Pepohonan di pinggir sana menyambut dengan ramah bergoyang ke sana kemari tertiup angin penuh irama. Udara segar khas pegunungan sangat jelas terasa, berdesak-desakan masuk ke paru-paru. Inilah hal yang paling dicari saat kita menuju daerah dataran tinggi.

Tepat sesaat setelah adzan ashar berkumandang kami sampai di kaki gunung purba. Selepas shalat kami langsung memarkir motor. Pendakian dimulai…

“Target 30 menit lah ya”, kata ane tanpa otak.

Hari itu gak begitu ramai, mungkin udah sore juga kali, mungkin juga ada yang bilang bahwa Jumat hari pendek jadi gak maksimal kalo buat jalan-jalan. Dengan bismillah kami mulai memasuki area pendakian gunung api purba. Mata kami di buat terbelalak ketika melihat batu-batu besar mendominasi gunung itu. Gak kebayang kalo batu segede itu menimpa seseorang behhh…langsung pipih kali tuh orang. Kami melangkah diantara batu-batu itu dengan perasaan was-was kalo tiba-tiba batu itu menghimpit tubuh kami, jangan sampe deh.

Ragam flora yang berselang-seling dengan bebatuan di badan gunung itu tumbuh begitu rimbunnya. Kami melihat beberapa pohon yang di bawahnya berserakan buah-buah yang telah jatuh. Asing sekali buah-buah itu, kami gak berani makan lah. Kalo ada racunnya bisa repot ntar, jadi duo racun deh kita, halah 😆 . Oksigen yang diproduksi oleh tumbuh-tumbuhan itu sangat berlimpah membuat pikiran tenang dan jernih.

Jalan setapak menanjak gak ada putus-putusnya. Untung sandal gunung ane dilengkapi air suspension, jadi sedikit lebih ringan. Bisa melejit-lejit dengan begitu nyaman. Dalam beberapa menit kami sampai di pos peristirahatan pertama. Okeh, minum dulu deh sambil atur napas. Perjalanan masih jauh. Ada dua pos lagi yang harus dilewati menuju puncak asa. Hayooo jalan lagi!!!

Medan yang kami lalui semakin berat saja. Tanah basah dan licin adalah tantangan utama. Tapi ane yakin akan kemampuan sandal ane yang cukup berpengalaman menaklukkan medan seperti ini. Mode basah segera disetel, kami pun dapat melaluinya dengan cukup mudah. Tantangan lebih besar menghadang di depan. Ada sebuah jalan sempit yang di apit oleh karang yang begitu besar. Jalan itu lebarnya pas banget sama badan bahkan di salah satu bagiannya kamu harus mengubah posisi badanmu, berjalan menyamping. Kalo diibaratkan itu seperti iklan susu pelangsing tubuh saat modelnya melewati celah yang sempit. Gak sampai situ aja, kamu harus menaiki tangga yang terbuat dari kayu untuk dapat melewati batu karang yang menghadang. Dengan mantap namun perlahan, langkah demi langkah ane menyusuri bagian terberat pendakian itu.  Keringat mulai bercucuran membasahi kaos ane. Otot-otot kaki mulai  membatu sebagai akibat dari kerja kerasnya melalui medan pendakian ini.

Lorong Purba

Lorong Purba

Sampailah di pos kedua. Istirahat lagi. Pada titik ini ane bener-bener merasakan betapa payahnya stamina ane yang selama hampir 9 bulan ini meninggalkan olahraga. Napas ane terengah-engah tak mencerminkan umur. Serasa beberapa tahun lebih tua. Keringat terus keluar walaupun angin yang berhembus lumayan kencang dan sejuk. Botol kecil minuman menyisakan seperempatnya lagi. Dahaga memang tak terelakkan saat itu. Di sela-sela istirahat di pos, ane lihat sekelompok orang yang mengalihkan pandangan ane. Ane menyaksikan sebuah kelangkaan yang baru ane jumpai sekarang. Ada seseorang yang berdandan maksimal memakai jilbab putih dengan baju putih yang berkibar-kibar tertiup angin di atas gunung itu. Tau Rama Aipama? ya, kira-kira kayak gitulah. Cenderung ke Batman versi putih sih sebenernya, hehehe. Yang lainnya memegang kamera, ada juga yang membawakan perlengkapan. Ada apa ini? Kayaknya mereka lagi pemotretan deh. Ane gak kebayang gimana naiknya tadi pake baju begituan. Apa mungkin dia bisa terbang. Ah, gak mungkin. Pasti mereka membawa bajunya terus memakainya di atas. Ganti baju dimana?mana ada kamar pas di tempat kayak gini.Mungkin dia pinjem pintu kemana ajanya Doraemon buat pergi ke kamar pas ganti baju dulu terus balik lagi. Ah, entahlah. Yang jelas ane udah mulai kecapekan sekarang. Tapi ane tetep semangat, ayo dikit lagi.

Dengan terlunta-lunta ane berjalan lagi, mendaki jalan yang sudah gak seterjal tadi. Sandal gunung ane juga sudah mulai berkedip-kedip merah tanda tenaganya sudah semakin lemah. Hah? Ultramen kali ah. hehahaha 😆 . Dengan asa yang masih sangat kuat ane terus memacu langkah yang perlahan semakin gontai. Yak, akhirnya tiba di pos terakhir. Ane habiskan segala perbekalan yang ane bawa. Minuman dan jajanan ane sikat demi mengganti tenaga yang terkuras sedari tadi.

gunung purba

Di titik tertinggi

Dan akhirnya dengan sisa tenaga yang ada kami berhasil menapakkan kaki di puncak gunung api purba, Nglanggeran. Ane menyeka keringat perjuangan yang membasahi muka. Fyuuuhhh. Jauh dari target 30 menit sih tapi gak papa yang penting bisa menaklukkan puncaknya. Seneng, puas, capek menggado-gado jadi satu. Di puncak ada dua titik yang menjadi tempat yang menarik untuk melihat pemandangan ke segala penjuru.

Ketika kami menuju ke spot yang pertama ternyata kami tidak sendirian di sana. Ada 3 orang perempuan berjilbab yang sedang duduk berkerumun di spot itu. Mereka kayaknya lagi saling curhat deh. Ah, itu bukan urusan ane. Ane langsung membentangkan kedua tangan dengan begitu bebasnya menantang angin yang begitu kencangnya menerpa tubuh. Wah sejuk banget bray. Peluh yang tadi ane rasakan sepanjang jalan serasa hilang tertiup angin sejuk itu. Keringat yang tadi bercucuran menguap entah kemana. Capek berbalas. Sesekali ane lihat ketiga perempuan berjilbab menatap tingkah aneh kami penuh tanya sambil terus berkicau di titik tertinggi gunung api purba itu. Ah, cuek aja lah.

Puas di spot pertama, kami beralih di spot satunya lagi. Kami berjalan meninggalkan 3 perempuan itu di spot pertama. Di spot kedua ini ane dapat melihat semacam embung di bawah sana. Kita akan  ke sana setelah ini. Inilah yang kami selalu tungu ketika memutuskan untuk berwisata alam. Selalu ada rasa kagum atas alam semesta ciptaan Yang Maha Kuasa. Betapa besar kuasaNya menciptakan segala alam semesta beserta isinya. Gak ada yang mampu melakukan itu kecuali Dia. Rasa syukur selalu menjadi ujung dari itu semua.

semriwing!!!

semrawaaang!!!

Di saat ane merasakan angin sore yang bertiup semakin membuat badan menggigil, 3 perempuan tadi ternyata mengikuti kami menuju spot kedua itu. Ane sih gak berpikir macam-macam, mungkin mereka udah bosan di sana terus pindah ke sini. Tapi kayaknya dibalik muka-muka lusuh mereka tersembunyi sebuah tanya. Sesekali mereka mengalihkan perhatian dari kami dengan melihat pemandangan yang memang begitu indah. Sesekali juga mereka berunding dengan suara lirih membicarakan sebuah maksud yang ane gak tau. Ah, mungkin itu hanya perasaan ane aja. Matahari udah mulai menjingga kegelapan tertutup awan tipis. Sebelum tenggelam dengan sempurna kami harus sudah sampai bawah lagi untuk melanjutkan perjalanan ke embung yang nampak dari atas tadi.

Baru beberapa langkah mau turun tiba-tiba suara lembut terdengar dari belakang kami

“Mas…mas…”

Kami menoleh kaget menyambut suara yang ternyata bersumber dari 3 perempuan itu.

“Kita boleh ikut mas gak?”, salah satu dari 3 perempuan tadi bersuara

Kami langsung mengerti maksud pertanyaan mereka. Ternyata mereka itu gak tau jalur buat turunnya. Tersesat dan tak tau arah jalan pulang ceritanya, hehe. Pantesan gerak-gerik mereka canggung,  penuh tanya gitu.

“Oh ya boleh-boleh, bareng-bareng aja”, jawab temen ane.

“Ikut ke hati kita juga boleh”, Batin ane klise

Dengan bergegas temen ane mengambil alih setir di depan dan ane di belakangnya dengan dibuntuti oleh 3 perempuan berjilbab tadi. Ibarat guide temen ane menunjukkan jalan turun dengan begitu bersemangat. Sesekali ia melompat-lompat gak jelas melalui jalan yang sebenarnya bisa dilalui dengan biasa aja. Betis yang dari naik tadi udah dibuat membatu ini kembali dibuat bekerja keras. Rasanya pengen nggelinding aja ini. Ah, tapi apa kata perempuan yang ada di belakang ane. Dimana harkat dan martabat ane sebagai laki-laki? Ane terus melangkah menyusuri jalan yang turun terus menerus. Ane berusaha kuat. Jangan sampe pingsan di hadapan mereka.  Malu dong… :mrgreen:

Sampai di pos dua, mungkin istirahat sejenak baik. Ah, itu hanya khayalan semata mereka bertiga meminta terus jalan. Kita menurutinya berusaha tegar. Padahal ane melihat raut-raut kecapekan yang teramat sangat dari mereka bertiga. Usut punya usut ternyata mereka adalah anak SMK jurusan geologi yang lagi kerja praktek meneliti batuan di sebuah tempat. Pulangnya mereka jalan ke sini. Oh, masih SMK…masih ranum, hehehehe 😆

Tebing yang menjadi tantangan terberat saat naik tadi sudah kami lewati dengan korban dahi temen ane yang kejedot batu. Nah, kan kena…pake jumpalitan sih jalannya. hahaha 😀

Pos pertama pun berlalu begitu saja tanpa keinginan 3 perempuan itu singgah. Kayaknya pengen cepet sampe bawah deh mereka. Kebelet kali yak. :mrgreen:
Setelah melewati jalan yang berliku dengan segala bentuk tantangan yang menyertainya akhirnya kami sampai di bawah dalam kondisi yang mengenaskan. Nampak salah satu dari ketiga perempuan itu yang berbadan agak gemuk cukup kecapekan, mukanya memerah seperti udang yang baru saja digoreng. Ane tau perasaan kalian angels. hahaha. Pake gak mau istirahat sih tadi.

Kami  berpisah dengan mereka bertiga di parkiran. Mereka pulang dan kami masih lanjut perjalanan menuju embung, padahal hari sudah mulai gelap pada saat itu. Sepertinya akan bermalam di sana.

Advertisements

14 thoughts on “Puncak 3 Jilbab Ranum

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s