Tersangka (dan) atau Korban???

Kehidupan berkendara gak selamanya mulus. Ada kalanya kamu harus terjatuh. Lalu bangkit lagi. Tak bisa bangkit lagi? Ah, butiran debu lah kau ini. Saling menjatuhkan gak bisa dielakkan. Kalo udah ada di jalan gak ada kata lain selain terus melaju menuju garis finish. Seakan gak mau kehilangan satu poin pun demi menjaga asa menuju tangga juara. Podium telah menanti di ujung garis finish sana.

Jalan raya tak ubahnya sebuah medan yang dibuat sedemikian rupa sehingga perang sangat memungkinkan terjadi. Perang keinginan. Setiap kepala yang mana satu dengan yang lainnya memiliki keinginan yang berbeda-beda dikumpulkan jadi satu, dipertemukan dalam sebuah arena aspal tak berujung. Masing-masing pasti akan memperjuangkan terwujudnya keinginan itu. Melakukan apapun demi mencapainya. Padahal keinginannya terkadang bertentangan dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Konflik pasti ada, benturan pasti nyata.

Ketika kamu memutuskan untuk turun ke medan itu kewaspadaan menjadi sangat utama untuk dilakukan. Mawas diri menjadi sangat penting. Kita gak tau sewaktu-waktu hal buruk macam apa yang akan menghambat laju perjalanan. Saat kamu tergesa-gesa gak sabar sampai di tempat tujuan melaju dengan kecepatan gak masuk akal, jangan lupa ada orang lain pada saat yang sama dan menggunakan jalan yang sama yang berjalan lebih masuk akal dibandingkan kamu.

Ada kalanya kamu menjadi korban. Merasa tertindas setelah semua yang terjadi seketika begitu cepatnya. Tentunya itu semua gak direncanakan dan sama sekali melenceng dari tujuan awalmu berkendara. Berperan sebagai korban, itu versimu. Bisa jadi kamu malah jadi tersangka menurut versi orang yang menurutmu seharusnya jadi tersangka. Dia berpendapat dialah korbannya setelah segala kerugian yang ia alami. Mulailah dibandingkan kerugianmu dan kerugiannya. Mana yang lebih besar ruginya itulah yang jadi korban. Pemikiran keren.

Gak terima? Silakan banding. Hah???

Apa kamu lupa bahwa sesungguhnya damai itu indah? Damai mungkin gak bisa sepenuhnya menyelesaikan konflik tapi setidaknya ada alasan untuk selalu menghargai kepentingan bersama. Selagi pembicaraan secara kekeluargaan masih mungkin dilakukan, prioritas untuk melakukannya menjadi utama. Tersangka dan korban menjadi semu ketika semua diselesaikan dengan jalan damai. Itu yang ane rasakan hari kemaren kemarennya lagi.

Advertisements

6 thoughts on “Tersangka (dan) atau Korban???

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s