SKCK Ckckckck…

Masih berada dalam rangkaian acara pemberkasan CPNS. Setelah kartu kuning (AK-I), berkas yang selanjutnya harus dilengkapi adalah SKCK. Apa itu? Surat Keterangan Cinta Kamu? Hueeeeek…Busuk!!!

Pasti udah pada tau dong apa itu SKCK. Oh, ada yang belum tau? Sabar aja bray, besok lama-lama juga tau kok. hehe

SKCK merupakan kepanjangan dari Surat Keterangan Catatan Kepolisian. SKCK ini isinya menyatakan bahwa seseorang tidak memiliki catatan atau keterlibatan dalam kegiatan kriminal apapun. Sang pemberi kerja gak mau dong mengambil risiko merekrut karyawan yang pernah terlibat kasus kriminal. Tentu para pemberi kerja akan lebih memilih orang-orang yang bersih dari kasus apapun. Nah, itulah salah satu sebab mengapa SKCK ini sangat diutamakan dalam setiap perekrutan pegawai. Untuk membuktikan bahwa si pemohon kerja tidak terlibat dan bersih dari kasus kriminal.

Sebagai orang yang tidak memiliki sejarah keterlibatan dalam kegiatan kriminal, ane merasa terpanggil. Ane harus bikin tuh SKCK sebagai pembuktian jati diri ane selama hidup di dunia. Apaan sih? Gak bikin SKCK pun kayaknya udah pada tau deh. Gak ada kriminal-kriminalnya tampang ane kayaknya. Tapi ya tampang sering menipu sih. Paras rupawan hati psikopat ada. Tampang unyu hati jahanam banyak. Tampang pas-pasan hati berantakan juga lebih banyak. hah? Ya gitu deh, kulit gak selalu mencerminkan isi.

Untuk pemberkasan CPNS ane diwajibkan untuk membuat SKCK tuh. Sebenarnya ada beberapa jenis SKCK yang diterbitkan. Yang ane tau sih SKCK di tingkat Polsek sama tingkat Polres. Di tingkat polsek umumnya digunakan untuk keperluan melamar kerja saja, di swasta misalnya. Kalo untuk yang Polres umumnya digunakan untuk persyaratan penerimaanpegawai di lingkungan pemerintahan, pengangkatan CPNS misalnya. Ane bikin yang di tingkat Polres.

Berdasarkan informasi yang ane dapatkan dari beberapa narasumber, jumlah pemohon pembuatan SKCK di Polres saat-saat ini sangatlah banyak. Harus ngantri berjam-jam katanya. Okeh, berbekal info dan saran dari beberepa orang ane putuskan untuk pergi ke kantor Polres pagi-pagi. Pokoknya jam 8 pagi ane udah harus sampai di sana.

Sepertinya strategi ane sangat jitu. Ane tiba di kantor Polres sesaat setelah gerbang di buka. Bahkan para polisi belum selesai apel di halaman kantor. Keren. Tapi ane heran, gak ada sedikit pun tanda-tanda keramaian pemohon SKCK yang udah diceritakan orang sebelumnya. lah katanya berjubel?mana..mana? Apa ane datang terlalu cepat yak? Haruskah ane pulang? ngapain juga pulang. Semakin sepi yang dateng berarti semakin cepat jadinya dong.

Tentunya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan SKCK. Berikut ini ane sajiken Persyaratan penerbitan SKCK yang ane dapat dari akun official facebooknya Divisi Humas Mabes Polri.

Syarat-syarat untuk penerbitan SKCK

Membuat Baru.
1. Membawa Surat Pengantar dari RT, RW, Kelurahan yang disahkan oleh Kecamatan tempat domisili pemohon.
2. Membawa fotocopy KTP dan Kartu Keluarga sesuai dengan domisili yang tertera di Surat Pengantar dari Kantor Kelurahan.
3. Membawa Pas Foto terbaru dan berwarna ukuran 4×6 sebanyak 6 lembar.
4. Mengisi Formulir Daftar Riwayat Hidup yang telah disediakan di kantor Polisi dengan jelas dan benar.
5. Pengambilan Sidik Jari oleh petugas Identifikasi.

Memperpanjang masa berlaku SKCK.

1. Membawa lembar SKCK lama yang asli/legalisir (Maksimal habis masanya selama 6 bulan)
2. Membawa Surat Pengantar dari Kantor Kelurahan tempat domisili pemohon, apabila masa berlaku sudah lebih dari 6 bulan.
3. Membawa fotocopy KTP dan Kartu Keluarga
4. Membawa Pas Foto terbaru yang berwarna ukuran 4×6 sebanyak 4 lembar.
5. Mengisi formulir perpanjangan SKCK yang disediakan di kantor Polisi

Aturannya sih gitu. Seperti biasa ada sedikit improvisasi dalam pelaksanaannya, seperti di tempat domisili ane.Langkah pertama yang ane lakukan adalah membuat kartu sidik jari. Pagi itu yang mau bikin cuma tiga orang, termasuk ane. Wah kayaknya bakal bebas hambatan ini. Kami masuk ke ruang pelayanan pembuatan kartu sidik jari. Begitu masuk petugas langsung mengerti maksud kedatangan kami. Setelah dipersilakan duduk kami disuruh mengisi selembar kartu berisi biodata diri. Salah seorang petugas kemudian memanggil satu per satu dari kami untuk diambil sidik jarinya. Dioleskanlah semacam tinta hitam ke sebuah meja khusus, lalu ane diminta memasrahkan tangan kanan ane. Kelima jari ane ditempelkan ke tinta tersebut. Satu per satu jemari ane di capkan pada kartu yang telah diisi tadi. Selesai tangan kanan, ganti tangan kiri.

Selesai proses pencapan sidik jari, petugas mulai merekam data diri ane. Ane duduk di depan pak polisi yang sedang menghadap komputer. Ini persis kayak berita kriminal di tivi bray. Ane kayak tersangka gitu. Ane ditanyai nama, alamat, ttl, dan sebagainya.

“foto 2×3, dua lembar mas”

“oh iya pak, ada.”

“biaya administrasinya 10 ribu”

“nnggg…bentar pak. Nah, ini ada uang pas pak.”

“udah jadi mas, silakan”

Sekitar 30 menit proses pembuatan kartu sidik jari.

Ane kemudian bergegas menuju ruangan sebelah untuk mulai membuat SKCK. Ane kumpulin deh tuh syarat-syaratnya:

–          Surat pengantar dari desa

–          Kartu sidik jari

–          Fotokopi KTP

–          Foto berwarna 2×3 sebanyak dua lembar

–          Foto berwarna 4×6 sebanyak empat lembar

Ane satukan berkas-berkas itu lalu ane serahkan ke petugas. Petugas kemudian memberikan formulir Daftar Riwayat Hidup (DRH) yang harus diisi. Ini diberikan karena ane langsung ke Polres. Kebanyakan pemohon pergi ke polsek dulu. Mereka mendapatkan formulir DRH yang sama dengan yang ane dapat tadi di sana. Kemudian mereka akan mendapatkan surat pengantar untuk membuat SKCK di polres. Keluar deh 20 ribu. Nah, daripada ane bayar lagi di polsek untuk sebuah surat pengantar yang gak ditanyakan waktu pembuatan SKCK di polres, mending ane langsung aja ke polres pake surat pengantar desa. Hemat 20 ribu bray. Hidup ini penuh taktik.

Dalam mengisi DRH, ada data-data yang perlu diingat dan dipersiapkan betul. Nama, alamat, ttl, sama jenis kelamin sih gak bakalan lupa dong. Lupa?Apa kata dunia? Ada beberapa poin yang perlu mendapat perhatian. Dalam mengisi bagian riwayat pendidikan, tahun kamu lulus SD, SMP, SMA, dan atau perguruan tinggi harus diingat baik-baik. Itu akan semakin mempercepat proses. Jangan sampe keliru antara tahun masuk dan tahun lulus. Satu lagi yang penting adalah pada bagian riwayat keluarga. Kamu harus ingat umur orang tua dan saudara kandungmu beserta tempat dan tanggal lahirnya. Gak lucu dong lagi ada di kantor polisi tiba-tiba kamu nanya umur sama ibumu.

“haloooo…Bu, aku lagi ada di kantor polisi. Tolongin aku bu…!!!

“Hah??? Di kantor polisi??? Ada apa nak? Ada apa!!?? Kamu ditangkap polisi? Kamu udah nglakuin apa? ya ampun nak…huhuhu

“Bu, tenang bu. Gak ada apa-apa. Cuma mau nanya doang. Berapa umur ibu?”

….

“Bu? Halooo…BU…IBU…halooo…”

…. (si Ibu pingsan)

Nah setelah ibu pingsan..eh…setelah DRH terisi, satukanlah ia bersama syarat-syarat yang telah dibawa tadi. Berikan kepada petugas. Hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah menunggu. Ane yakin karena waktu itu masih sepi, pasti gak bakalan nunggu lama. Tapi ane mulai curiga, kok waktu-waktu yang seharusnya pada ramai ngurus SKCK kayak gini, di sini kok malah sepi untuk waktu yang sudah mulai beranjak siang? Ah, palingan mereka udah bikin semua dengan berjubel-jubel kemaren. Cerdaslah dalam bertindak nak!hahaha

Karena penasaran dan gak sabar pengen cepet jadi, ane bertanya kepada petugas

“Pak, kira-kira jadinya jam berapa ya?”

“Ya sekitar jam 11an ya mas ngambilnya. Dua hari lagi. Numpuk banget ini dari kemaren. Yang janji jadi hari ini aja belum diketik ini. Dua hari lagi ya…”

“oh…” (mematung)

Ane pulang dengan langkah gontai.

Dua hari kemudian….

“Pak, mau ngambil SKCK”

“Sebentar2, udah jadi belum ya?

“masa belum jadi pak?” (siap-siap pegang pisau, jaga-jaga kalo ternyata belum jadi)

“Emang naruh berkasnya dari kapan mas?”

“Dua hari yang lalu, pak!” (bersiap menghunuskan pisau ke perut petugas)

“Bentar…ngggg…atas nama Iqbal ya. Yak, udah jadi. Biaya 20 ribu. Nanti difotokopi lima lembar terus balik lagi ke sini ya buat dilegalisir”

“Okeh cuy” (cuy???)

Setelah fotokopi ane langsung bergegas untuk minta legalisir. Berkas distempel dan diotorisasi dalam bentuk tanda tangan oleh orang yang berwenang.

Yak, selesai (seka air mata)

Sebenernya pelayanan SKCK di tempat ane sangat inovatif. Mereka tidak mau membuat pemohon lelah mengantri seharian di kantor polisi hanya untuk menunggu SKCK jadi. Daripada capek lebih baik suruh pulang aja biar bisa leyeh-leyeh di rumah. Visioner. Tapi apa itu gak terlalu lama yak? Jumlah pemohon yang sebegitu banyaknya tidak sebanding dengan jumlah petugas yang melakukan pelayanan.Kurangnya sumber daya manusia menjadi kendala utama.

Bagi anda yang berada di daerah yang kondisinya hampir mirip dengan tempat ane mungkin ini bisa jadi gambaran untuk mempersiapkan mental anda sebelum membuat SKCK.

Selamat berjuang. Semoga menginspirasi. Hah?

 

Advertisements

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s