Amazing Supporting Unit

Dukungan dan pertolongan teman kadang muncul dari arah yang tak terduga. Seperti bisul. Mereka selalu membuat kita terkaget-kaget. Kakak bukan, adik juga bukan, tapi kok ya sampe segitunya ikhlas memberi bantuan. Ikhlas? entar dulu deh. Kalo mereka minta traktiran namanya ikhlas gak ya? gak tau deh. Yang jelas ikhlas itu dari sini, dari hati.

Yang namanya temen itu ada kapanpun dimanapun baik suka maupun duka. Itu prinsip! Sekalipun kamu kebelet buang hajat di toilet yang ternyata gak ada air dan kamu gak tau harus melakukan apa di dalam. Ada teman yang merasakan penderitaan yang sama. Senasib sepenanggungan. Itu pegangan! Aer mana aer…!!!!

Kadang kamu gak serta merta menyuruh mereka mengajukan bantuan guna menyelesaikan permasalahanmu. Mereka malah berebutan menawarkan pertolongan-pertolongan ajaib yang tak disangka. Ini benar-benar ada dan terjadi pada kebanyakan orang, termasuk ane sama temen-temen ane. Kebanyakan sih masalah utang-piutang. Tapi sering juga menyangkut hal-hal absurd menyangkut hati. Ya hati…

Hari sabtu kemaren mungkin menjadi hari bersejarah dalam kehidupan temen ane. I’am (bukan Ai em) namanya. Ya, ini masalah hati. Beberapa hari belakangan keliatan betul gelagat aneh yang tak biasanya terlihat. Tiap buka hape dan membaca pesan mukanya gak jelas gitu. Dia kayaknya mikir betul mau balas pesan dari seseorang. Usut punya usut ada rencana yagn tersusun dibalik pesan-pesan itu. Dia mau ketemuan sama seseorang yang mengisi kekosongan hatinya untuk pertama kalinya. Ya pertama kali.

Sebagai teman yang kemana-mana selalu bersama ane gak tinggal diam dong melihat dia bimbang mau ketemuan atau gak. Ane bersama temen ane yang lain memberi dorongan moril kepadanya. Kapan lagi ketemuan kalo gak sekarang. Mumpung si doi lagi kesini , lagi di Jakarta. Ternyata kata-kata busuk kami berhasil meyakinkan I’am meyakinkan hatinya untuk ketemuan esok harinya.

Malam sebelum ketemuan ane dan temen-temen yang lain berusaha mendayagunakan seluruh tenaga untuk mencari tempat janjian yang telah ditentukan. Maklum sebagai pendatang baru kami masih buta Jakarta. Tempatnya di sebuah hotel berbintang-bintang.

Kondisi malam itu benar –benar seperti sedang ada sebuah misi rahasia yang dilakukan oleh intelijen. Semua gadget canggih dikeluarkan. Laptop, smartphone dan segala alat pendeteksi lokasi dikeluarkan. Tapi ujung-ujungnya google maps juga sih. Seluruh titik-titik yang memungkinkan telah ditelusuri satu per satu. Dan akhirnya titik utama telah ditemukan. Ya disitu. Rencana-rencana busuk seketika  terangkai, bahu membahu demi mewujudkan hari esok yang cerah.

Suatu pagi yang cerah untuk memulai misi rahasia. Ini bakalan jadi hari bersejarah buat temen ane itu. Misi harus segera dijalankan, jangan sampe gagal. Kalo gagal gak tau lagi apa yang akan terjadi nanti. Seluruh isi bantal bakalan berhamburan keluar pasti. Mau dikemanakan lagi serpihan-serpihan hati itu. Tapi tenang!!! Ada kami!!! Kami akan melakukan apapun demi mereka, termasuk memberikan napas buatan. Jika itu diperlukan.

Waktu janjian kurang  5 menit sedangkan kami masih di halte busway, nunggu. I’am mulai gelisah. Terlihat betul dari wajahnya yang semakin menegang saja. Ya ane tau perasaannya. Bayangkan, ini adalah pertemuan pertama kalinya. Ketemu pertama aja udah telat apalagi berikut-berikutnya. Bisa rusak reputasinya. Gelisah banget dia. Jantungnya mungkin udah jungkir balik waktu itu.  Gak lama berselang ia nerima telepon. Mukanya keliatan gugup banget. Ya gak salah lagi, si doi udah nungguin di ujung telpon sana.

Busway mana busway!!!Cepatlah datang. Antarkan hati gundah ini.

Ciiiit!!! bunyi rem busway sedikit meredakan debur jantung. Kami berempat langsung naik tanpa ragu. Di sepanjang perjalanan, ane gak tau gimana perasaan I’am. Ia pasti deg-degan banget. Mau ngomong apa ntar pas pertama ketemu menatap si doi di depannya. Senyum kah? Ketawa kah? atau mematung saja? Ah sudahlah, jangan biarkan si doi menunggu lama di sana. Ayo meluncur.

Busway kembali berdecit berhenti di sebuah halte. Ya, halte Pecenongan. Itu pemberhentian kita. Kita pun beranjak dari duduk. Gak lupa memeriksa barang bawaaan dan kemudian hati-hati melangkah.  Ane pastikan saat itu I’am ikut turun dari busway. Gak lucu dong kalo dianya gak ikut turun. Bablas aja gitu ngikut busway ke mana-mana. Trus pulang gara-gara gak sanggup buat ketemuan.

Tujuan kami adalah sebuah hotel di seberang jalan sana. Si doi berada di sana. Kami berempat melangkah pasti menuju ke gerbang hotel. Berempat? gak deng Cuma bertiga yang melangkah mantap. I’am keliatan lemes gitu. Apa mungkin style-nya memang kayak gitu yak. Yang pasti dia deg-degan banget waktu itu. Kalo jantung bisa dititipin sih mending titipin aja sebentar ntar gampang dipasang lagi. Tapi ya itu Cuma dugaan ane sih. Dianya biasa aja ane gak tau juga.

Di depan gerbang hotel kami berempat berhenti. Sebelum meninggalkannya sendirian kita tos dulu untuk menyemangati dia. Sendirian? ya, gak mungkin dong kita berempat masuk. Ntar ganggu dong. Sebenarnya bisa aja sih masuk ke hotel, pura-pura gak kenal gitu tapi ya gak indah banget jadinya. Bisa-bisa dicurigai komplotan apaaa gitu. Kami bertiga meninggalkannya sendiri di gerbang. Kami mengintipnya dari kejauhan. Coba apa yang akan dia lakukan. Dia keliatan mematung di depan gerbang sambil sesekali memandang ke arah hotel. Mana ya si doi? Ayo dong plisss keluar….

Gak berselang lama muncul sesosok gadis dengan jilbab putih melangkah anggun keluar dari hotel. Dia menyambut seorang pria yang tak lain adalah i’am di halaman depan hotel. Senyum tipis merekah dari keduanya. Lalu samar-samar terdengar…

Aa aa…….aa…..aa……..
Tum paas aaye…,yun muskuraaye….
Tum ne najaane kya,sapne dikhaye
Tum paas aaye..,yun muskuraaye
Tum ne najaane kya sapne dikhaye
Ab to mera dil jaage na sota hai
Kya karu haai..,kuch kuch hota hai…….

 

Si doi mengajak I’am masuk ke hotel. Dan….

Sensoooor!!!!

Terus bagaimana nasib kami bertiga. Kami gak mungkin pulang meninggalkan I’am sendirian nantinya. Kasihan dong ntar nyasar kemana-mana. Bahaya lagi kalo nyasar ke hati perempuan lain. Duh…

Okeh kami memutuskan pergi ke monas. Kebetulan ada pameran alutsista dari TNI di sana. Sapa tau kalo ada apa-apa yang mengancam jiwa mereka berdua di dalam hotel kami bisa bawa tank buat melindungi mereka. Yak, ini demi perdamaian!!!

Gak papa kami harus menunggu lama yang penting keadaan mandali, aman terkendali. Kebetulan siang itu gak begitu terik jadi berapa kalipun keliling monas kami siap. Tapi gak sia-sia kita ke monas. Kami disajikan dengan pameran persenjataan milik TNI dan seluruh kendaraan yang digunakan oleh TNI untuk mengamankan wilayah NKRI dari berbagai bentuk serangan. Tadinya sih pengen naik tank, tapi kok ya banyak banget yang naik. Kami mengurungkan niat itu dan kami cuma keliling liat-liat saja.

Gak terasa waktu dhuhur telah tiba. Adzan telah berkumandang. Kami segera beringsut menuju masjid Istiqlal. Belum ada kabar apa-apa dari I’am. Ane khawatir kalo-kalo dia gak bisa menguasai keadaan terus pingsan di dalam sana. Tapi ane percaya dia adalah pria yang tangguh.

Setelah solat dhuhur dia ngasih kabar bahwa sudah selesai. Wah lega bener ane. Dia baik-baik saja. Yakin baik-baik saja? Ane sempet ragu sih. Tapi ntar lihat saja raut wajahnya. Kalo ceria berarti berhasil tapi kalo cemberut berarti ada sesuatu yang gak beres. Dia nyusul kita solat di istiqlal. Kami menunggu di luar sambil makan rujak buah seharga Rp10.000 yang cuma nylilit di gigi.

Saat rujak hampir habis, tinggal sepersekian bagian, keluarlah sosok yang kami tunggu-tunggu. Ia melangkah mantap ke arah kami. Dari kejauhan keliatan ia memukul-mukul udara melambangkan sebuah kemenangan sambil sesekali menebar senyum ke arah siapapun yang ada di sekitarnya. Yak, dia I’am. Wajahnya keliatan ceria sekali. Apakah itu pertanda bahwa misi kita berhasil? Ya berhasil. Kita berhasil menghantarkan teman kita bertemu dengan sosok yang akan menjadi masa depannya kelak. Insya Allah.

Kami pulang dengan hati yang gembira. Kami gembira apalagi I,am pasti hatinya menyerupai taman. Berbunga-bunga. Senang sekali melihat temen gembira. Kegembiraan kita bertambah setelah dipastikan paket voucher makan gratis menjadi milik kita.

Ini semua berkat persahabatan dan hal-hal absurd lainnya. 🙂

Advertisements

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s