Sarapan yang Kadaluarsa

Pagi-pagi buta sudah rapi. Ini jarang sekali untuk orang yang untuk mandipun harus melalui suatu proses perdebatan panjang, seperti ane. Saat yang lain masih tenggelam dalam bantal, ane sudah tertata rapi dengan segala hal-hal keren yang tersangkut di sekujur tubuh.

Segala barang bawaan sudah siap. Pakaian untuk seminggu ke depan dan alat-alat yang diperlukan sudah dimasukkan ke dalam tas yang diperoleh dari suatu proses peminjaman. Packing kali ini tak cukup memakan waktu lama. Tapi tetep aja sih masih ada barang-barang kecil yang ketinggalan. Ini semakin meyakinkan ane bahwa packing adalah suatu hal yang rempong. Itu terjadi sejak dulu kala.

Pagi itu ane meninggalkan kosan dengan begitu haru. Selama seminggu gak akan ketemu kasur busa tempat melepas peluh. Akan mengangenkan segala yang ada di petak derita. Dan yang jelas akan terputus sejenak dengan perdebatan pengurusan galon. Sorry guys!! Hotel sudah menanti di ujung jalan sana. Ceritanya ane disuruh ikut sebuah pelatihan.

Dua tas sudah mengerjai ane pagi-pagi buta. Tonase memang harus selalu disesuaikan dengan kemampuan angkut. Ane harus berdesakkan di dalam busway dengan menenteng tas yang berisi pernak-pernik yang akan ane pakai selama seminggu itu. Gak papa. Demi Hotel! 😆

Setelah melalui perjuangan yang tak kenal lelah, akhirnya ane sampai di tujuan. Yak, hotel bray.Sebuah senyum menyambut gurat-gurat peluh ketika mulai masuk pintu hotel. Selamat datang 🙂

Tempat pertama yang ane tuju adalah receptionist. Ane harus segera melakukan registrasi untuk memperoleh kamar. Harusnya sih hari kemarennya, tapi karena ada kesalahpahaman ane gak ikut registrasi kamar kemarin. Mudah-mudahan masih dapet kamar. Kalo gak dapet masa ya ane harus balik lagi bawa tas segede gaban itu.

“Mas, mau registrasi kamar”, Kata ane terengah-engah

“Maaf pak, kita hanya melayani check-in mulai jam 12 nanti siang pak”

“Saya salah satu peserta training mas. Harusnya sih kemaren regisnya”.

“Kalo untuk registrasi buat peserta udah selesai dilakukan kemarin mas. Kunci kamar sudah kami serahkan ke panitia. Coba hubungi panitianya dulu.”

Okeh. Ane langsung menelepon panitia. Di tengah kekhawatiran, ternyata cobaan kembali datang. Lagu lama, Pulsa habis. Fine… disini gak ada counter isi ulang pulsa. Daripada keluar, ane memilih untuk menghubungi seseorang yang akan berbaik hati mengirimkan pulsa.

Ane duduk di sofa sendirian, kayak orang ilang. Seumur hidup baru kali ini ane masuk ke hotel sebagai tamu. Ane mencoba menguasai keadaan dengan menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri. Biar agak kerenan dikit. Ane yakin dengan posisi itu, kadar keudikan ane akan tertutupi. Muka sih gak bisa dibohongi. hehe

Sembari menunggu keajaiban datang ane mengamati orang-orang yang lewat di depan ane. Kayaknya pernah liat wajah-wajah ini sebelumnya. Tapi kapan? dimana? Oh iya. Kemaren pas registrasi ane ketemu.

Mereka sepertinya mau menuju ke tempat sarapan. Wah ane ketinggalan nih. Pulsa cepatlah datang!!!!

Hape ane kemudian bergetar. Yak, pulsa masuk. Tanpa banyak penjabaran, ane langsung menelepon nomer panitia yang sudah dikasih recepti0nist tadi.

“Mas, saya mau registrasi kamar buat peserta training”

“Oh iya mas. Kuncinya nanti saya kasihkan setelah acara hari ini selesai. Mas ikut aja acaranya di lantai 3 nanti. Nanti saya umumkan diacaranya.”

“Tapi, saya sudah di hotel ini mas, sudah bawa barang-ba…..”

“tutututut….”, telpon ditutup.

Ane bingung. Pulang saja? Ah, masa gitu aja menyerah. Jalan terus lah…

Setelah ane tanya panitia yang lain ane titipkan tas ane di tempat penitipan barang. Ane langsung ikut acara tanpa mengikuti suatu prosesi sarapan sebagaimana peserta lain lakukan. Lupakan sarapan. Ane segera menuju toilet. Untuk apa? Untuk menyelaraskan baju. Ane segera ganti baju sesuai dengan seragam yang dipakai peserta lain. Repot banget yak hidup gue. Tapi gak papa. Demi Hotel.

Ane menyelinap berbaur ke dalam acara bersama peserta lain. Menyimak materi, mendengarkan ceracau penyaji, dan hal mengantukkan lainnya. Coffee break menyelamatkan ane dari rasa kantuk yang susah sekali dikendalikan. Di sela-sela Coffee break ane berinisiatif agar kunci kamar dibagikan lebih dini. Ane bilang ke panitia. Sebenernya ane was-was dengan barang yang ane titipkan tadi. Walaupun isinya hanyalah pakaian, tapi saat itu semua raib apa yang akan terjadi? masak ya seminggu gak ganti baju. Mana tahan…

Gak lama panitia keliatan membawa sebuah kartu dan sebuah kertas berlipat menuju ke ane.

“Mas, ini kuncinya dan ini ada voucher sarapan setiap harinya. Maaf ya, lama tadi”

“Oh iya mas, makasih”

Okeh. Kunci sudah didapatkan. Ini yang akan menentukan kehidupan ane seminggu ke depan. Saat ane buka kertas berlipat tadi, ternyata di dalamnya ada kupon-kupon yang sudah bertanggal dari hari ini hingga seminggu ke depan. Kupon ini adalah akses yang digunakan peserta untuk mendapatkan sarapan gratis setiap paginya dari jam 6-10 pagi. Jadi selama seminggu ane akan menikmati sarapan ala hotel. Bukan ala warteg. Kecuali untuk hari ini. Kupon sarapan telah kadaluarsa dan hanya menjadi selembar kertas yang tak bernilai. Seberharga apapun sesuatu ketika waktunya telah kadaluarsa maka tak akan bernilai apa-apa.

Maka dari itu, perhatikan dengan benar expire date sebelum anda membeli suatu produk. Itu harga mati!

Sekian.

Advertisements

One thought on “Sarapan yang Kadaluarsa

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s