Reinkarnasi Sepatu Kulit

Taman kanak-kanak mungkin salah satu bagian dari sekian hal menyenangkan yang pernah muncul di kehidupan seorang manusia. Masa itu adalah masa bermain. Masa bersenang-senang. Masa dimana seorang anak membuncahkan keceriaan melalui berbagai macam tingkah yang secara alami muncul dari dalam dirinya. Mengekspresikan segala apa yang ia mau. Lari-larian, main prosotan, ayunan, sampai guling-guling di lantai rasanya gak ada beban. Sangat menyenangkan.

Apalagi kalo dapet hadiah dari bapak/ibu, senang bukan kepalang. Dibelikan buku baru aja senengnya bukan main. Kalo dapet buku gambar baru, satu hal yang pasti ane lakukan adalah menjiplak gambar sampulnya. Jadi, sisi dalam sampul yang berwarna putih digambari dengan pensil persis seperti gambar sampul di depan. Biasanya, ane tempelkan sampul itu di jendela yang terkena sinar matahari langsung. Gambarnya dapat diterawang dengan jelas, lalu ane ikuti garis-garis yang ada dengan pensil. Hasilnya… sama persis seperti gambar yang ada di sampul depan ….tentunya dengan posisi mirror.

Itu buku gambar, kalo dapet buku tulis beda lagi. Karena ane adalah anak yang senantiasa menjaga kerapihan, tiap kali dapet buku tulis baru hal yang pertama yang harus dilakukan adalah memberinya sampul. Sampul yang ngehits banget adalah sampul warna coklat yang bagian depannya berisi slogan-slogan mengagumkan: “Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya”. Dan suatu keharusan untuk bagian belakang harus ada gambar garuda pancasila lengkap dengan bunyi sila pertama sampai sila ke-5. Bisa memasang sampul buku tulis untuk anak TK adalah suatu keterampilan yang luar biasa.

Untuk menunjang penampilan anaknya di sekolah, orang tua juga akan selalu memperbarui pakaian yang anaknya kenakan. Baju seragam yang warnanya telah pudar dibelikan dengan yang baru. Begitu pula dengan aksesoris-aksesorisnya. Yang cewek biasanya dibelikan pita atau bando. Yang cowok sih paling keren kalo dibelikan jam tangan. Pun dengan sepatu, walaupun masih layak pakai orang tua pasti ingin membuat anaknya senang dengan membelikan sepatu yang baru.

Pertama kali ane dibelikan sepatu adalah yang ada lampunya. Jadi sepatu itu dilengkapi dengan teknologi canggih berupa lampu yang akan menyala tiap kali kita memijakkan kaki di tanah. Lampunya ada di daerah sekitar tumit, warnanya merah. Ane selalu liat ke arah sepatu kalo jalan, memastikan lampu menyala dengan sempurna. Kalo belum, ane perkuat injakan ane sampe lampu benar-benar menyala. Jadi jalannya jadi aneh gitu deh. Ngliatnya ke bawah ke arah sepatu bukan ke depan dan menghentak-hentakkan kaki gak jelas gitu. Jaman segitu bisa dihitung dengan jari yang punya sepatu semacam itu. Dan ane beruntung sekali bisa memiliki sepatu dengan teknologi canggih semacam itu.

Seiring dengan berjalannya waktu nyala lampu sepatu ane perlahan meredup. Meskipun kaki dihentakkan nyala lampu tak bisa seterang dulu. Melihat penurunan performa ini, orang tua ane berpendapat bahwa sudah saatnya ane ganti sepatu. Ane sih seneng-seneng aja kalo dibelikan sepatu yang baru. Tapi entah kenapa kalo ane udah suka sama sesuatu susah sekali buat suka sama sesuatu yang lain, meskipun tampilannya lebih bagus. Ane tipe orang yang setia kali ya…

Pada suatu hari setelah libur sekolah usai ane sudah bersiap berangkat. Baju sudah rapi. Rambut klimis dengan muka-muka penuh semangat menyambut hari baru. Begitu ane mau pake sepatu, ibu ane menyodorkan sebuah kotak kardus.

“Pake yang ini aja, bal. Bagus lho. Kemaren Bapak sama Ibu yang beli. Buruan gih…”

Begitu ane buka, isinya ternyata sepasang sepatu yang keliatan baru. Itu kealiatan dari banderol harga yang masih nempel. Ini adalah kejutan. Selama liburan memang ane merengek-rengek minta dibelikan sepatu baru. Eh, ternyata mereka bener-bener membelikannya.

Sepatu kulit? Itu sepatu kulit. Warnanya coklat mengkilat terkena cahaya lampu yang masih saja belum dimatikan saat itu. Wah ini pasti harganya mahal. Tapi kenapa harus sepatu kulit?

sepatu

Sumber : http://www.modelsepatu.net/wp-content/uploads/2013/01/sepatu-anak-dr-martens.jpg

Kesalahan elementer yang seharusnya tidak terjadi adalah ane gak diajak waktu beli sepatu baru. Dan mereka gak nanya dulu model sepatu yang seperti apa yang ane mau. Ini penting, mengingat selera setiap orang berbeda. Apalagi anak-anak dengan orang yang sudah dewasa, sama sekali berbeda seleranya. Sebenernya ane pengin dibelikan sepatu yang modelnya mirip dengan model sebelumnya. Dan itu juga berlaku untuk kaos dan celana. Mungkin itu yang membuat mereka gak berniat untuk mengajak ane kemaren. Karena pasti akan susah sekali menemukan barang dengan bentuk yang hampir mirip sedangkan mode terus berkembang. Mungkin juga mereka ingin memberikan kejutan. Dan ane memang terkejut. Kenapa harus sepatu kulit?

Bukannya itu dipake sama orang-orang yang sudah dewasa, tua? Kami, anak-anak lebih senang memakai sepatu yang kami banget. Yang ada lampunya, yang bisa bunyi atau kalo cewek yang ada motif bunganya. Gak lebih kok. Itu lebih baik untuk kita. Tak mengertikah kalian wahai ayahanda, bunda?

Pagi yang seharusnya semangat, seketika menjadi gak bergairah. Bapak sama Ibu sudah berusaha keras membujuk ane supaya pake si sepatu kulit coklat itu. Tapi yang ane lakukan hanya mencobanya saja, sekedar memaastikan ukurannya pas atau tidak. Lalu melepasnya lagi. Ane kembali memakai sepatu yang lama. Meskipun sudah mengalami penurunan manfaat tapi dia lebih mewakili jiwa anak-anak.

Bagaimana nasib si sepatu kulit?

Ane membiarkannya membisu di rak sepatu. Gak sekalipun ane pakai. Lambat laun dia tertutup oleh debu membuatnya kelihatan tak berharga lagi. Ane hanya membiarkannya usang.

Mungkin bapak sama ibu kecewa sekali melihat anaknya gak sudi memakai barang yang telah mereka belikan, hasil kerja keras mereka. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka pada saat itu sehingga mereka memutuskan membelikan ane sepatu kulit. Padahal model sepatu anak-anak kan banyak sekali.

Setelah ane amati ternyata mereka ingin anaknya kelihatan seperti orang-orang gagah dengan sepatu kulit mengkilatnya. Orang-orang yang sukses. Barangkali itu harapan mereka nantinya ketika ane sudah besar.

Namun yang akan terjadi saat itu ketika ane benar-benar memutuskan untuk memakainya ane akan keliatan berpuluh-puluh tahun lebih tua. Ane akan menjadi dewasa sebelum waktunya. Belum lagi ejekan dari temen-temen. Yang lain pada pake sepatu yang lucu-lucu, imut, unyu sedangkan ane jauh dari itu semua.

Sungguh gak ada sedikit pun niat dalam hati membuat Bapak Ibu kecewa, membuat segala pemberiannya sia-sia. Padahal sudah selayaknya seorang anak membahagiakan orang tuanya.

Ane gak tau keberadaan sepatu kulit kecil itu sekarang. Kaki beruntung mana yang mengenakannya? Atau malah gak berwujud sepatu lagi? Tenggelam diantara tumpukan sampah-sampah tak berguna?

Tidak…

Sepatu kulit kecilku kini sudah menjadi besar. Setiap hari mengantar ane dari kos ke tempat kerja dan sebaliknya. Sepatu yang menyelamatkan kaki-kaki manja dari bebatuan dan kerikil-kerikil tajam.

Dan satu yang pengen ane bilang

Pak, Bu…Sepatu kulit lebih keren dari sepatu yang ada lampunya…

 

Sejauh ini hanya itu yang bisa ane lakukan. Mengenakan sepatu kulit untuk pergi kerja.

Meski telat namun mudah-mudahan ini sedikit mengobati kekecewaan di hati kalian dahulu, Pak…Bu…
Maaf…

Advertisements

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s