Wawancararakeup: from Bandung with Love

Bandung adalah kota kembang. Yang terbayang saat mendengar kota kembang adalah kota yang penuh dengan bunga. Saat masuk ke kota ini, ane akan disambut dengan berbagai jenis bunga yang mekar di sepanjang jalan. Sepertinya indah sekali. Bunga-bunga cantik dengan kupu-kupu yang hinggap  di atasnya. Lalu beterbangan menghiasi setiap sudut kota. Penuh warna.

Ya, itu mungkin cuma angan yang terbentuk dari  dugaan yang muncul seketika. Ane gak tau sebenarnya kayak apa Bandung itu. Belum pernah sekali pun ke sana. Yang terdengar selama ini hanyalah cerita-cerita mengagumkan dari orang lain. Ane cuma mendengarkan. Bandung dengan suasana sejuknya, udara dinginnya. Bandung dengan pusat perbelanjaannya, keramaiannya. Dan Bandung dengan gadis-gadisnya yang menawan, bening, dan menakjubkan. Barangkali yang terakhir itu yang menjadi daya tarik tersendiri. Barangkali itu juga yang membuat beberapa temen ane ngebet banget pengen ke sana. Menjemput cinta. Dan itu memang benar terjadi pada temen ane. Temen yang menjadi panutan karena kematangannya dalam segala hal, usia salah satunya. Ketampanannya yang gak diragukan lagi. Telah teruji secara dermatologi.

Ane sangat beruntung mendapat kesempatan untuk melakukan sebuah wawancara dengannya di tengah kesoksibukannya yang sangat menyita waktunya di dunia. Dia adalah pemuda harapan bangsa. Gak usah berlama-lama. Hadirin yang terhormat, inilah sosok yang penuh inspirasi. The one and only ….Buuuuunnnggggg I’aaaaam!!!

*lightstick seketika bersinar dari arah penonton*

CP (Cikibal Pewawancara)
IT ( I’am Terwawancara)

CP: Selamat malam , Bung!

IT: Yak, selamat malam

CP: Apa kabar? Anda kelihatan tampan sekali malam ini.

IT: Ah, biasa saja bung. Anda juga terlihat ganteng kok

CP: Bung I’am ini pintar sekali memuji. Saya gak seganteng anda bung. Anda lebih ganteng!

IT: Ah, anda yang lebih ganteng!

CP: Anda lah..

IT: Anda!

CP: Anda!!!

IT: Anda!!!!

CP: An…

IT: Stop! Anda yang lebih ganteng

CP: Gak bung. Anda saja lah yang lebih ganteng.

IT: Oke. Gak beda jauh lah kita. Sebelas dua belas lah.

CP: Sip. Anda rendah hati sekali bung.
Mari kita mulai saja wawancara kita. Silakan duduk!

IT: Terima kasih

CP: Kita mulai dari pertanyaan pertama. Sekarang sedang sibuk apa bung?

IT: Gak sibuk-sibuk amat sih. Sedang menikmati pekerjaan saja di kantor.Memang kalau pagi sampai sore saya susah ditemui. Terutama di hari kerja. Kalau mau minta foto bareng bisa di luar jam kerja atau hari libur. Itu pun kalo gak sedang lagi ada acara.

CP: Wah beruntung sekali ya saya bersama anda malam ini.

IT: Sedang ada waktu luang saja bung.

CP: Denger-denger Bung I’am minggu kemaren pergi ke Bandung ya?

IT: Iya, kok anda bisa tau?

CP:   Saya denger dari temen saya, Azam. Katanya dia jalan bareng anda ke Bandung. Saya dapet foto kalian berdua dari temen saya.

AAiam

IT:    Oh iya, kebetulan kami bareng ke sana. Dia pemuda yang luar biasa.

CP:   Kalo boleh tau Anda berdua punya  project apa di Bandung?

IT:    Kami berdua ke Bandung dengan tujuan berbeda. Dia punya acara sendiri. Begitu pula dengan saya. Kebetulan saya waktu itu sempet bingung mau ke sana dengan siapa. Saya butuh temen buat ke sana. Dan Azam menjadi jawabannya. Dia pemuda yang luar biasa.

CP:   Bisa diceritakan sedikit bung perjalanan Anda sampai ke Bandung?

IT:    Sebenernya saya gak tau mau naik apa ke sana. Ada banyak pilihan sih tapi keuangan juga harus dipertimbangkan. Dengan tekad yang bulat saya bersama Azam berangkat hari Sabtu pagi. Cukup cerah untuk sebuah perjalanan. Saya naik kereta. Saya gak bisa diceritakan gimana detilnya dalam kereta.

Entah kenapa waktu serasa berjalan begitu cepat. Baru sebentar duduk sudah sampai aja di bandung. Mungkin saya tertidur.

CP:   Sebentar bung. Pertanyaan tadi belum dijawab tuntas. Sebenernya Anda ke sana untuk tujuan apa?

IT:    Saya mau ketemu sama seseorang. Ini kelanjutan dari kisah yang sudah anda tulis sebelumnya.

CP:   Oh paham saya. Anda sangat luar biasa bung. Ini adalah perjuangan menjemput cinta. Benar begitu?

IT:    Ya, bisa jadi.

CP:   Bisa dilanjutkan ceritanya bung?

IT:    Sebenernya segalanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga saya bisa ketemu sama dia di kampusnya. Saya sudah janjian dulu sama dia buat ketemuan. Jadi tujuan utama saya hari itu adalah kampusnya. Dan yang perlu anda tau, saya gak tau jalan.

Setelah tanya kesana kemari akhirnya saya sampai di kampus. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kampus itu.

Setelah beberapa kali menghubungi, saya bertemu dengan dia. Panggil saja dia Bunga. Saya bertemu dengannya di suatu tempat di kampusnya.

CP:   Bagaimana perasaan anda saat itu bung?

IT:    Seneng tentunya. Pertemuan kali ini gak sedeg-degan pertemuan pertama waktu itu. Saya bisa menguasai keadaan dengan baik. Saya sudah mempersiapkannya.

CP: Selanjutnya apa yang kalian lakukan disana?

IT:    Saya jalan-jalan saja sama dia keliling kampus sambil ngobrol. Saya diajak lihat-lihat gedung tempatnya kuliah. Dunia ini indah.

CP: Sepertinya anda berbunga-bunga sekali bung?

IT:    Ah, biasa saja bung

CP:   Dalamnya hati siapa tau bung. hehe
Apa topik yang kalian bincangkan waktu itu?

IT:    Hmmmm. Bentar bung saya inget-inget dulu.

Ah, random sekali bung topiknya. Tentang kehidupan sehari-hari. Hanya itu yang bisa saya bilang. Detilnya gak bisa saya ceritakan.

CP:   Ah, bung I’am ini sok misterius.
Sebentar, Anda ke sana kan bareng Azam. Dia ikut jalan bareng kalian gitu?

IT:    Oh iya, Sebelumnya kami (saya dan Azam) berpisah dan janjian akan bertemu di suatu tempat nanti. Gak mungkin dong saya ngajak dia jalan bareng sama bunga. Kasihan nanti cuma jadi obat nyamuk. Tapi yang saya salut dari Azam adalah dia penuh pengertian. Dia pemuda yang luar biasa.

CP:   Berapa lama anda jalan di sana?

IT:    Nnggg. Berapa jam ya?
Gak tau persis berapa jam sih bung. Bahkan setelah sholat ashar kami lanjut makan. Dan saat itu entah kenapa gerimis turun. Saya lupa waktu itu sedang berada di Bandung. Kota yang hampir setiap hari diguyur hujan. Saya gak bawa payung. Untungnya Bunga bawa payung. Dia membentangkan payungnya ke atas. Gak lebar tapi cukup buat kami berdua berlindung dari rintik hujan yang semakin menyerbuk. Saya memegangi payungnya. Kami berjalan membelah hujan.

CP:  Wah, anda romantis sekali bung! Tujuan kalian kemana?

IT:    Kami menuju tempat makan di kampus. Hujan-hujan perut jadi cepet lapar. Kami langsung memilih menu yang pas. Saya bingung mau pilih apa. Pikiran saya agak gak fokus, karena memikirkannya mungkin. Sosok yang ada dihadapan saya saat itu.

CP:   Anda yang mentraktir makan dong ya?

IT:    Nggak. Dia yang bayarin. Sebenernya saya gak enak hati, masak cowok dibayarin cewek. Dimana harga diri saya? Tapi entah kenapa penolakan yang saya lakukan hanya menguap saja diantara rinai hujan. Dia tetep kekeuh bayarin. Katanya, “kan baru pertama ke Bandung. Biar saya saja yang traktir deh.”

CP:   Wah harusnya anda maksa buat bayar makanan itu bung. Secara anda cowok lho bung!

IT:    Sudah bung. Tapi apalah daya. Nasi sudah menjadi bubur ayam yang sayang sekali kalo gak dimakan. Heuheuheu

CP:   Ah, anda humoris sekali bung.

IT:    Anda juga bung

CP:   Wah lama juga ya anda ketemuan, dari siang sampai sore.

IT:    Gak bung, waktu serasa berjalan begitu cepat. Tapi ya saya harus mengakhiri pertemuan kami sore itu. Besok pagi saya akan berkunjung ke rumahnya.

CP: Ke rumahnya? Wah anda nekat sekali bung.

IT:    Iya, saya mau main ke rumahnya. Jangan beraninya di luar doang. Begitu disuruh main ke rumah eh mlempem. Katanya cowok!Saya sudah bertekad bung!

CP:   Anda luar biasa sekali bung.

Malam itu anda menginap di mana bung?

IT:    Sebenernya saya punya temen di Bandung yang mungkin akan mengijinkan saya untuk menginap di tempatnya. Tapi saya sedang tidak beruntung. Dia sedang ada acara kala itu. Namun Tuhan selalu membuat hambanya terkejut. Kebetulan di deket kampus ada pondok Darut Tauhid (DT) dan di situ ada masjidnya. Kebetulan malam itu sedang ada kajian. Saya sama Azam memutuskan untuk ikut kajian itu. Dan ternyata banyak diantara jamaah yang ternyata menginap disitu. Jadi disediakan tempat khusus bagi jamaah yang ingin menginap. Akhirnya kami menginap di situ. Kebetulan yang menyelamatkan.

CP:   Gak ada hotel bintang lima, hotel bintang bulan pun jadi bung. hehe

IT:    Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Keesokan paginya saya berangkat ke rumah si bunga, tentunya tanpa Azam. Anda tau saya buta jalanan Bandung. Yang dijadikan pegangan adalah alamat rumahnya di sukajadi, jalan H. Yasin. Cuma itu.

CP:   Anda naik apa ke sana?

IT:    Saya naik angkot. Saya bilang ke sopirnya turun di jalan H. Yasin. Si abang sopir mengiyakan seraya mengangguk penuh kepahaman. Hati saya agak lega.

Tapi perasaan saya semakin lama semakin gak enak. Lama banget gak sampe-sampe. Benak saya berkata ini semakin jauh dari tujuan. Benar saja, begitu saya tanya si abang sopir, ternyata sudah terlewat. Si abang sopir mengira bahwa saya sudah turun tadi. Eh ternyata sudah terlewat jauh. Saya turun dari angkot penuh kebingungan.

CP:   Anda menyerah?

IT:    Tidak bung. Saya tangguh!!Saya kembali nunggu angkot ke arah sebaliknya. Entah kenapa agak lama nunggunya. Si angkot gak muncul-muncul. Padahal kan Bandung terkenal dengan angkotnya yang banyak. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya satu angkot muncul dengan sinar yang berkilauan penuh harapan. Berhenti tepat di depan saya. Dan anda tahu gak siapa yang ada di angkot itu. Dia adalah sopir yang tadi. Ini angkot yang tadi saya naiki. Kalo jodoh tak kemana, pak. Entah karena merasa bersalah atau apa dia minta maaf kepada saya. Dia kira tadi saya sudah turun di jalan H. Yasin. Dia segera membawa angkotnya penuh tanggung jawab. Dan gak lama sampai lah saya di Jalan H. Yasin.

CP:   Anda tahu rumahnya?

IT:    Itu dia bung, saya gak tahu rumahnya seperti apa. Saya tanya-tanya ke orang-orang disitu.   Dimana rumah bapak si Bunga. Hingga saya bertanya ke seorang penjual jajanan. Dia menunjuk ke arah dekat. “Itu rumahnya”, katanya.

Di depan rumah itu nampak seorang ibu yang sedang cemas seperti sedang menanti seseorang. Tidak salah lagi, beliau adalah Ibunya si bunga.

CP:   Wah pas sekali bung. Jadi Ibunya yang menyambut anda pertama kali.

IT:    Iya bung. Beliau begitu mengkhawatirkan saya. Begitu sampai, saya langsung dipersilahkan menuju ke semacam paviliun ruang khusus untuk tamu.

CP:   Bunga di rumah?

IT:    Iyalah. Anda ini bagaimana. Masak sayanya mau berkunjung dianya gak ada. Dia langsung menyambut saya dengan senyum yang indah bung. Hati saya berbunga-bunga. Dunia ini indah.

CP:   Anda berduaan saja sama bunga?

IT :   Awalnya tidak bung. Kami ditemani ibunya. Saya ngobrol basa-basi sama beliau. Beliau punya banyak cerita. Saya sih kebanyakan mendengarkan saja bung. Sesekali memberi tanggapan penuh basa-basi. hehe. Beberapa waktu kemudian. Beliau pamit buat masak. Beliau meninggalkan kami berdua di ruangan itu.

CP:   Wah. Ini saat yang tepat bung. It’s quality time

IT:    Iya kami ngobrol banyak. Lagi-lagi topik yang random. Cuma itu yang bisa saya bilang. Saya gak bisa membaginya.

CP:   Ah, lagi-lagi anda sok misterius bung. Hmmm anda mulai lapar pasti waktu itu.

IT:    Anda tau saja bung. Saat perut mulai lapar makanan datang bung.  Saya sudah diambilkan nasi di piring. Tapi itu terlalu banyak buat saya.

CP:   Kalian makan berdua?

IT:    Tidak. Saya makan dan dia nonton saya makan. Sembari saya makan bunga menggambar sesuatu di kertas. Sepertinya dia suka menggambar.

CP: Wah sama dong kayak saya bung. Saya hobi menggambar. Waktu kecil saya suka sekali menggambar pegunungan. Saya selalu dapet nilai A untuk pelajaran menggambar.

IT:    Bung, Tolong fokus!!!

CP:   Baik. Pertanyaan selanjutnya. Anda ketemu sama Bapaknya gak?

IT:    Wah sayangnya tidak. Beliau sedang ke luar kota katanya. Saya hanya ketemu Ibu sama adik-adiknya.

CP:   Wah sayang sekali. Eh, Adiknya ada yang cewek?

IT:    Ada satu

CP:   Kenalin dong.

IT:    Bung, Tolong fokus!!!

CP:   Maaf bung. Anda di sana sampa jam berapa bung?

IT:    Sekitar jam 2-an siang bung. Saya sampai sana kan sekitar jam 11. Jadi cukup lah.

CP:   Wah cukup lama bung. Anda gak bawa semacam oleh2 gitu?

IT:    Wah gak sempet beli. Saya cuma bawa badan saya ke sana. Itu mungkin sudah cukup karena cinta cinta sudah melekat bersama badan saya.

CP:   Anda romantis sekali bung!
Bagaimana perasaan anda saat itu bung?

IT:    Tentunya bahagia, ceria, dan berbunga-bunga campur aduk bung. Saya juga punya oleh-oleh jajanan buat anda bung.

CP:   Wah banyak banget bung.Anda beli?

IT:    Gak. Itu semua pemberiannya. Penolakan saya sia-sia. Rejeki tak akan kemana.

CP:   Ini sih perampokan namanya!

IT:    Iya bung saya berhasil merampok hatinya.

CP:   Terserah anda saja. Jangan-jangan tiket pulang anda juga dibayari dia

IT:    Gak lah bung. Emang saya lelaki apakah?

Sempet sih mau dibayarin tapi waktu itu penolakan saya terlalu kuat. Saya beli tiket travel pulang pake uang sendiri. Heuheuheu

*senyum jumawa*

CP:   Anda sombong sekali bung. Ingatlah! dunia ini tidak kekal.

IT:    Maafkan perkataan saya bung.

CP:   Okelah. Bunga ikut mengantar anda pulang gak?

IT:    Iya dong. Kebetulan travelnya deket sama rumahnya. Jadi kami berdua jalan kaki ke sana. Saya diantar sampai depan mobil travel. Namun ketika  saya mau masuk ke dalam mobil dan saya tengok ke belakang dia sudah nggak ada. Dia sudah hilang dari pandangan saya.

CP:   Wahhh, jangan-jangan dia…

IT:    Ah, jangan berpikir yang macam-macam bung. Mungkin dia gak kuasa menahan kepergian saya.

CP:   Bisa jadi sih bung. Pertanyaan terakhir. Apa pesan dan kesan anda setelah pertemuan di banding itu?

IT:    Saya senang sekali bisa bertemu dengan dia. Kali ini gak hanya di dunia maya. Bukan bualan belaka. Ini pertemuan di dunia nyata dan benar-benar terjadi. Saya himbau kepada para pejuang cinta,  wanita itu butuh kepastian. Tidak perlu membuat janji-janji mengagumkan yang nyatanya cuma kosong belaka. Jika kalian memang benar-benar cinta kepada seorang wanita, jagalah kehormatannya. Datanglah ke rumahnya, temuilah keluarganya, lakukanlah pendekatan yang benar. Jadilah pejuang cinta yang baik. Dan untuk kalian para jomblo, daripada mengutuk kegelapan lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi perkembanganmu. Cinta hanya menunggu dijemput di ujung sana. Jika bukan sekarang berarti ada waktu lain yang telah Tuhan tentukan.

CP:   Wah super sekali bung i’am ini. Beruntung sekali saya bisa berbincang dengan anda. Terima kasih atas waktu yang telah anda luangkan malam ini. Semoga sukses pekerjaan, bisnis dan tentu cintanya. Oh ya sekali lagi. Anda tampan sekali malam ini.

IT:    Iya. sama-sama bung. Anda juga gak kalah ganteng.

CP:   Selamat malam, bung!

IT:    Selamat malam…

*standing ovation terlihat dari arah penonton

Dulu Bandung menjadi saksi bagaimana lautan api membakar semangat rakyat untuk mengusir para penjajah dari bumi priangan. Sekarang Bandung menjadi saksi bagaimana lautan cinta mengalir diantara dua manusia. Mengaliri setiap jiwa dengan kasih sayang. Bandung adalah kota kembang. Kembang-kembang yang bermekaran memberi warna di tiap sudut hati.

2 thoughts on “Wawancararakeup: from Bandung with Love

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s