Lantai Dua

Perjuangan mengais rejeki baru saja dimulai dan kota yang menjadi lahan adalah Jakarta. Iboekota Negara kita tertjintah. Janji-janji manis yang ia berikan membuat ane menempatkannya di posisi teratas sebagai muara para pencari kerja. Janji yang mana? Janji untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dalam hal ekonomi. Sebagian besar tetangga ane telah membuktikannya. Merantau ke Jakarta dengan bekal seadanya. Pulang membawa rejeki untuk sanak keluarganya. Beli tanah, beli sawah, bangun rumah, beli motor, beli baju dan berbagai bentuk kesejahteraan lainnya. Sedikit banyak itu memotivasi ane dalam usaha menjadikan kesejahteraan keluarga menjadi lebih baik.

Di Jakarta atau mungkin bukan hanya di kota ini saja, segalanya bisa menjadi uang. Sampah yang notabene menjadi sesuatu yang tak berguna pun bisa diuangkan. Silakan kunjungi Bantar Gebang atau tempat lain yang menyediakan tempat bagi sampah-sampah berkumpul bertumpuk-tumpuk. Ada orang-orang yang berhasil mengubah sampah -yang seolah-olah sudah tak mempunyai daya guna-  menjadi lembaran uang yang akan mengisi kantong-kantong harapannya.

Bukan mimpi mereka tinggal di tempat yang seadanya. Kebocoran di saat hujan dan tak cukup hangat berlindung di dalamnya saat dinginnya malam gak terelakkan. Siapa yang mau hidup susah? Haruskah mereka menenggelamkan diri bersama sampah-sampah tak berguna?

Susah sekali memang mencari tempat singgah di kota semenjanjikan Jakarta. Yang agak mendingan sewanya mahal. Cari yang murah, tempatnya terlalu mustahil untuk ditempati. Makanya untuk yang tidak memiliki kemampuan dalam hal sewa-menyewa tempat tinggal akan mengerahkan daya kreasinya dengan membangun rumah pake bahan-bahan mustahil. Gak etis bicara tentang kenyamanan. Yang penting bisa berteduh. Kenyamanan akan mengikuti setelahnya.

Mencari tempat singgah memang mudah, pabila untuk teman susah.

Ane beruntung banget dapet tempat kos yang lumayan nyaman. Masih baru, masih bungkusan, banderolnya belum dilepas. Ya, ane ngekos di Jakarta bareng temen seperjuangan dan seperantauan.

Memang, untuk mempunyai hunian yang nyaman harus dibayar dengan uang yang gak sedikit. Bagi yang gak punya cukup uang, maka harus jeli melihat kesempatan. Karena masih baru mungkin kosan masih nyaman. Warna temboknya masih cerah, kamar mandinya keliatan bersih, lantainya juga demikian. Entah berapa lama akan bertahan.

Sudah kira-kira tiga bulan di sini dan gejala-gejala aneh mulai nampak. Pintu kamar mandi yang gak bisa menutup dengan sempurna. Kuncinya patah. Beberapa kran air yang gak menempati posisinya. Gagangnya patah. Ane gak menyangka, dibalik wajah-wajah temen-temen ane yang masih lugu tersimpan perilaku brutal di dalamnya. Untungnya klosetnya gak bermasalah. Kalo sampai rusak gak tau deh dimana semua isi perut ane akan bermuara. Di kali? di selokan? membiarkannya terhambur bersama remah-remah khayal? ane belum siap.

Bangunan baru pasti ada cacatnya. Celah-celah di atap kamar yang masih terbuka masih ada, sehingga ketika hujan turun cukup deras, air akan merembes melewati celah itu mengalir melalui tembok. Dan itu gak terlihat. Tau-tau basah aja kasurnya. Bahkan merembes sampai ke celana. Ya, basah…bukan karena mimpi.

Entah karena bangunannya yang gak terkonstruksi dengan baik atau memang hujannya yang terlalu lebat. Memang beberapa waktu terakhir hujan turun gak mengenal waktu. Dari pagi sampai ketemu pagi lagi masih aja hujan.

The wheater is going to be crazy.

Tapi sekali lagi ane katakan ane beruntung ngekos di sini. Karena ane hanya merasakan rembesan air saja di saat orang-orang di bawah sana sibuk mengurusi genangan air hasil dari tumpahan air hujan yang begitu melimpah. Direpotkan dengan sampah yang berserakan. Ya, ane tinggal di lantai dua. Tempat yang aman. Sejauh ini.

Sebuah bangunan tentunya didesain untuk memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Dan di lantai dua lah seenggaknya ane merasa aman. Aman dari risiko pencurian. Aman dari risiko tergenang air. Itu mungkin yang menyebabkan semenjak kuliah ane memilih kamar di lantai dua.

Bisa dibilang suatu kebetulan ane dapet kos di lantai dua ini. Waktu itu sebenernya kos ini sudah di pesan sama beberapa orang dan akan segera di tempati keesokan harinya. Sudah cari kos dimana-mana keliling dari jalan ke jalan, dari gang ke gang dari pintu ke pintu, dari hati ke hati, gak ada yang cocok.

Ini mungkin yang dikatakan love at the first sight. Cinta pada pandangan pertama.

Kami sudah terlanjur kepincut. Sempet putus asa waktu itu. Sebegitu kurang ajarnya tempat ini menarik hati kami.  Dengan keberanian yang sudah terkumpul, akhirnya kami memutuskan menanyakannya kembali siapa tau orang itu gak jadi menempatinya. Dan ternyata memang jodoh tak lari kemana. Orang yang sudah pesen itu gak jadi tinggal di situ. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Kami bertujuh akhirnya memutuskan untuk tinggal di sini sampai sekarang.

Kamar ane yang ukurannya paling luas dan mungkin paling nyaman diantara yang lain menjadi tempat pelampiasan mereka untuk menumpahkan segala emosi. Bantal kemana-mana, kasur bergulung-gulung gak karuan, sampah2 berserakan, bau-bau ketek dan kentut yang menakjubkan tercampur menjadi satu muter di kamar ane. Ya, itu semua di kamar ane.

Terganggukah ane? Kalo dibilang terganggu ya mungkin dikit lah terganggu. Gimana enggak. Capek-capek pulang kerja eh tau-tau pada dateng aja memenuhi kamar ane. Waktu istirahat gak bisa dimanfaatkan sebebas seharusnya. Mau ngusir gak enak, gak ngusir ya gitu deh. Udah biarin aja deh.

Namun semua kekurangnyamanan itu terbayar dengan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Keindahan berbagi yang gak berbayar. Ketika salah satu orang membawa beberapa kelebihan makanan maka pasti ia akan membaginya ke yang lain. Taruh aja di situ. Pasti kere-kere akan menyerbunya dalam waktu sekejap. Begitu pula dengan air galon. Satu galon untuk semua. Semua akan mendapat jatah mengisinya secara berkala.

Candaan-candaan yang sangat membantu sekali membangun suasana kos menjadi lebih hidup sudah wajib ada. Dan ane yang sering jadi korban. Biarin deh yang penting kita happy. Sesimple itulah suasana itu terbentuk. Dari hal-hal kecil yang begitu sepele terangkai menjadi sebuah ikatan yang begitu indah. Ikatan yang terbentuk di lantai dua.

Di lantai dua ane belajar berbagi dan mengerti.
Di lantai dua ane bisa melihat ke bawah dan mengucap syukur.
Di lantai dua ane menyadari bahwa ada lantai tiga, empat, lima, dan seterusnya yang lebih tinggi.

Dan di lantai dua ane menulis semua ini.

Hidup gak akan seterusnya berada di lantai dua. Namun itu ada untuk menjadikan kita selalu waspada. Ada tangga-tangga yang harus kita tapaki satu persatu naik dan naik lagi hingga sampai pada titik dimana ketinggian bukanlah ukuran yang berarti. Karena dari bawahlah semuanya berawal.

Advertisements

3 thoughts on “Lantai Dua

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s