Ucuk-ucuk Sini Sama Om…

Gak punya tangan tapi bisa mencekik. Gak punya kaki tapi bisa berlari mengejar. Gak punya sayap tapi bisa terbang melayang. Gak berserbuk namun bisa terhambur. Itulah waktu. Untuk beberapa orang kantoran waktu itu terasa  sangat terbatas. 24 jam gak merepresentasikan  satu hari. Apalagi ketika izin cuti semakin sulit didapatkan. Waktu libur cuma selayang pandang. Lewat gitu aja gak kerasa. Tau-tau masuk lagi. Tau-tau Senin lagi.

Ketika tanggal merah hanya tercetak di hari minggu maka kita perlu mawas diri. Waktu yang efektif untuk berlibur hanya dua hari. Kamu perlu khawatir. Dua hari kadang tidak benar-benar mencerminkan dua hari. Bisa terasa lebih singkat. Menguap saja ke awang-awang terbawa desau angin. Bangun-bangun kamu akan berseragam lagi.

Nah, sabtu-minggu pekan lalu menjadi dua hari yang penuh tanggung jawab. Ane pulang ke rumah emak. Sebenernya rumah bapak juga sih tapi ane gak mau terkesan horor gitu. Berpulang ke rumah bapa dengan tenang.

Apa tujuan kepulangan ane kali ini?

Ane ingin bertanggung jawab.

Atas apa?

Ane merasa bertanggung jawab mendapat peran baru. Minggu kemarin kakak ane melahirkan seorang bayi.

Bayi lahir -> Ayah si bayi senang -> Ayahnya bukan ane -> Ane punya tanggung jawab -> Ane pulang

Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwasanya hubungan kekerabatan ane dengan si bayi adalah Paman-Keponakan. Dengan kata lain ane telah menjadi seorang Om-om. Ane harus pulang untuk menengoknya meski waktu libur gak cukup panjang.

Tanggung jawab pertama yang harus dipenuhi adalah kehadiran langsung untuk melihat sang bayi. Sangat sepele tapi agak berat mengingat waktu yang tersedia sangat sedikit. Ane hanya punya waktu dua hari tadi untuk pulang.

Dua hari mungkin akan berjalan sangat singkat. Perjalanan dari Jakarta ke kampung akan sangat memakan waktu. Ane naik bus. Ini merupakan moda transportasi yang paling mungkin digunakan kala itu. Maklum kepulangan ane kali ini tidak terencana dengan baik. Serba mendadak. Tiket kereta api sudah pasti habis jauh-jauh hari. Tiket pesawat? Ah, ane rasa tidak etis membicarakan harga tiket pesawat dengan ane. Lagian di kampung ane gak ada bandara. Paling deket itu di Semarang. Gak mungkin kan di tengah jalan ane bilang:

“Kiri,,,kiri ,,pak pilot. Saya turun sini aja”

Trus ane terjun dengan parasut dan segala peralatan yang sudah terpasang.

I’m not a crazy sky diver.

Maka dari itu, ane memasrahkan diri untuk naik bus.

Setibanya di rumah ane melihat kakak ane duduk di ruang tamu sambil memangku sesuatu di depannya. Sesuatu? Bukan! Itu bayi bray. Ane melihat cahaya yang gak biasa dari mata kakak ane. Terlihat kegembiraan yang terpancar dari seluruh sisi matanya. Berbinar. Mungkin itu adalah cahaya kasih sayang seorang Ibu.

“eh si Om pulang”, sambut si kakak.

Ane agak aneh ketika mendengarnya.

Om?Om siapa? Ane gitu.

”Nih Om dedek hidungnya mancung nih. Kayak si Om.”
“Eh iya, mancung banget hidungya. Wah kok ganteng gini yah, kayak Omnya.” Celetuk ane tanpa otak.

Semua lelah dan peluh seakan hilang ketika melihat wajah sang bayi. Damai banget dunia ini. Tenteram di hati.

Beberapa menit kemudian ane melihatnya terlelap secara perlahan tidur di dalam pangkuan ibunya. Wajahnya lucu. Gak ada beban. Ane pun ikut tidur bersama rasa janggal yang masih saja tersisa.

‘Om’ is the awkward pin name for a while.

Sebenarnya bukan pertama kali sih ane dipanggil Om. Anak dari kakak sepupu ane manggil ane Om. Anak-anak kecil di sekitar rumah juga ada beberapa yang memanggil ane dengan panggilan itu. Gak cuma itu, di sebuah toko sepatu juga ane pernah di panggil om. Waktu itu ane lagi berdiri di suatu rak sepatu di sebuah toko sepatu. Ane berbaju batik kala itu, baru pulang kerja. Ane sih lagi nungguin temen milih sepatu. Tiba-tiba ada seorang ibu yang menatap ane penuh pengertian. Gak lama ia menghampiri ane dan bilang “Om om ini yang nomor 40 ada gak ya”, sambil menyodorkan sepatu yang sepertinya kekecilan buat dia.

“maaf bu, saya juga pembeli,” jawab ane kesal.

“Eh salah. Maaf ya om,” jawab sang ibu

“Oh gak papa. Sering digituin sih”, jawab ane sambil nglirik ke cermin.

Ane belum setua itu kali bu. Wajah boros belum tentu Om-able kan ya.

Kali ini rasanya beda ketika dipanggil dengan kata itu. “Om” kali ini adalah benar-benar Om. Om dalam arti yang sebenarnya. Panggilan keponakan ke pamannya. Ane cukup merasa bangga menjadi om biarpun itu tidak cukup layak untuk dapat dibanggakan. Selalu ada hal baru untuk peran yang baru.

It’s first time I’ve never felt before.

Menggendong bayi dimana bayi itu adalah keponakan kandung sendiri. Keponakan kandung?hah?

Jika dilihat-lihat, bayi itu mirip sama bapaknya. Dia cowok. Ah tidak, mirip ibunya. Hidungnya mirip ibunya. Mirip banget. Hmmm gak juga sih. Ibunya kan cewek. Dia lebih mirip Omnya, yang mana Om-nya itu salah satu dalam golongan makhluk yang ganteng. Jadi bayi itu ganteng. Kira-kira begitu…

Dua hari itu mungkin belum cukup untuk meluapkan segala kebahagiaan dalam rangka dinobatkannya ane sebagai om. Namun ane sudah cukup puas, sudah bisa nggendong bayi usia kurang dari seminggu. Beberapa orang takut melakukannya. Bahkan ane bisa menidurkannya dalam gendongan. Sedangkan kebanyakan bayi baru bisa tidur setelah disusui oleh ibunya.

But I did it. Ane gak pandai menyusui lho ya. hehehe

Sepertinya ane akan menjadi Om yang baik.

Namun Om yang baik gak ada artinya tanpa tante yang baik.

Where are you?

Advertisements

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s