Dalam Naungan Sayapmu

Peralihan waktu antara hari libur dan hari kerja memang teramat berat untuk sebagian besar orang. Apalagi untuk yang menghabiskan libur dengan keluarga. Rasanya hari libur itu kurang. Padahal baru kemaren ketemu keluarga, eh udah mau berangkat lagi aja. Ya, seperti itu. Kebanyakan tidak bisa move on dari hari libur. Dan akhir dari semua itu adalah pengambinghitaman hari Senin. Banyak yang membenci hari senin. Memaki-maki hari senin.

I hate Mondays!

If Monday had a face, I would punch it.

Why is Monday so far from Friday and Friday so near to Monday?

Monday???It was friday yesterday.

Monday. You’re telling me they will happen every week?

Gak sedikit pula yang mencoba tegar. Bangkit dari keterpurukan, keputusasaan dan kenistaan dengan merangkai  kalimat-kalimat penuh motivasi, berusaha menguatkan diri.

Happy Monday! Today is beautiful day.

It’s Monday but it’s OK. This is not the end. This is the beginning.

Yesterday is history , tomorrow is mistery, but today is a gift.

Senyata apapun dan sekuat apapun kalimat motivasi itu terangkai, itu tidak akan mengembalikan hari libur kemarin.

Weekend is over!!!

Waktunya kembali bekerja.

Untuk yang menikmati liburannya dengan memutuskan pulang ke kampung halaman pastinya akan sangat berat kembali meninggalkan tanah kelahirannya. Ada sebuah rasa yang tertinggal di sana. Ada secuil ketidakrelaan untuk pergi dari sana. Betapa tidak? Itu adalah tempat dimana kita dibesarkan, tempat kita didik, ditempa dengan segala macam pemahaman yang mendewasakan. Teramat sulit melepasnya dari pelukan kita.

But life happens.

Tanah rantau sudah siap-siap menyambut dengan  segala pernak-pernik dan gemerlap yang menjanjikan kesejahteraan.

Kepulangan yang mendadak kemaren berdampak pula pada keberangkatan yang serba mengandalkan keberuntungan. Gak akan ada masalah ketika sudah ada kepastian mau naik apa ke Jakarta nanti. Tinggal bawa tiket, duduk manis, menikmati perjalanan kemudian sampai di ibukota dengan senyum bangga. Semudah itu. Itu cuma bayangan ane sebelum kenyataan membalikkan semuanya itu menjadi gak segampang yang dibayangkan. Tiket kereta sudah ane coret dari daftar perburuan. Pesawat?Kapal? Itu mustahil. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah bus.

Sore itu ane langsung ke terminal berburu tiket. Bus dengan trayek Pemalang – Jakarta tidak memungkinkan penumpangnya untuk memesan tiket jauh-jauh hari. Jadi harus langsung beli di tempat beberapa menit sebelum keberangkatan. Siapa cepat dia dapat. Kalah cepat silakan minggat.

Ane sudah memprediksi bahwa sore itu pasti akan ramai. Minggu malam selalu menjadi pilihan sebagian besar orang untuk berangkat setelah liburan usai. Itu adalah waktu yang paling mustajab untuk keberangkatan. Sebenernya berangkat minggu malam memiliki risiko yang tinggi. Besoknya senin. Kamu harus masuk kantor. Alam semesta akan berkonspirasi untuk menggagalkan semuanya dengan kejadian-kejadian gak terduga. Itu ancaman yang membuat gelisah.

Dan apa yang ane prediksi ternyata benar. Masuk ke terminal ane melihat berbagai macam manusia mencari tiket yang tentu saja begitu berharga bagi diri mereka. Ane bergegas berbaur bersama mereka. Satu tujuan yang ane cari adalah bus Pemalang – Pulogadung.

Alurnya akan seperti ini :

Trayek yang dituju sepi peminat -> naik ke bus -> beli tiket -> milih kursi -> duduk cakep -> menikmati perjalanan -> tidur pulas -> mimpi indah -> ketemu Raisa -> bangun -> sampai di Jakarta tepat waktu -> senyum bangga dapet tandatangan Raisa.

Bisa dibayangkan betapa indahnya hidup ini.

Memang berkhayal itu indah dan gratis. Semaunya saja menciptakan hal-hal yang menyenangkan dan menguntungkan bagi diri sendiri. Padahal kenyataan kadang gak sejalan. Bahkan lebih kejam.

Melihat keramaian yang ada di terminal sore itu, perasaan ane mulai menunjukkan gejala-gejala kerisauan. Ah, gak penting. Ane harus segera menemukan bus yang ane maksud, masuk ke dalamnya dan alur di atas akan berjalan sebagaimana mestinya. Ane masih yakin.

Sendirian ane mencari-cari bus bak itik kehilangan induknya. Gentayangan dengan risau yang masih saja membuat apa yang seharusnya biasa saja menjadi sesuatu yang berlebihan. Tapi ane mencoba tenang dengan berjalan perlahan sambil mengamati tulisan di bagian depan bis yang menunjukkan trayek pada masing-masing bus. Beberapa bus sudah penuh dengan penumpang. Ane tambah panik. Langkah kaki ane kemudian dipercepat beraturan karena ketidakkondusifan kala itu.

Dan akhirnya kepanikan ane berbuah hasil. Sorot mata ane mengerucut pada sebuah bus dengan kumpulan orang-orang di depannya.

Pulogadung!

Yeah I got it.

Tanpa berpikir panjang ane masuk ke dalam bus. Yang ane buru adalah kursi kosong. Area depan sampai tengah sudah penuh semua. Tinggal area menengah ke belakang. Gak kosong. Beberapa sudah ada yang mengisi. Dan pencarian pun berakhir pada 3 buah kursi yang sepertinya belum ada yang menempatinya.

Sudah ane pastikan dan memang belum ada yang menempatinya.

Ane duduk kemudian meratap.

“Kenapa bus ini tidak ber-AC???”, tanya ane dalam risau.

Sejenak kemudian ane sadar bahwa inilah satu-satunya bus yang menuju ke sana, ke Pulogadung. Bus Ekonomi nonAC dengan segala keterbatasan yang ada di dalamnya. Gak ada yang patut disesalkan. Semua telah terjadi dan hidup harus terus berjalan.

Yang paling gak ane sukai pas naik bus nonAC adalah bukan karena panas, tetapi karena adanya kebebasan merokok di dalamnya. Untuk orang-orang yang gak merokok, asap rokok menjadi hal yang paling terkutuk di dunia ini. Sepeser pun gak akan mereka biarkan terhirup masuk menodai paru- paru mereka. Sepeser?

Ane gak punya masker. Untuk mengatasai permasalahan itu ane sudah mempersiapkan segalanya. Ane sudah memakai jaket yang didesain dengan kerah berdiri. Jadi kerah tersebut akan bisa menutupi bagian leher bahkan sampai hidung. Itu akan dapat menyaring asap rokok yang beterbangan di dalam bus.

Saat mulai nyaman dengan kondisi sekitar, temen ane datang dan ia langsung duduk tepat di sebelah ane. Kamu gak akan menderita sendirian bung. Selalu ada yang merelakan diri berjuang bersama dalam penderitaan.

Tak lama kemudian abang sopir menyalakan mesin. Pertanda beberapa saat lagi akan di mulai sebuah perjalanan hebat. We were ready!

Belum sampai jam 7 malam kita sudah meninggalkan terminal dengan segala pahit manisnya kenyataan. Kami tangguh!

Perjalanan dimulai dengan begitu halus melewati jalur pantura yang cukup ramai. Sorot lampu kendaraan meramaikan malam yang penuh akan restu-restu untuk sebuah perjalanan. Perlahan angin berdesir dari lubang jendela bus yang terbuka. Gak sepenuhnya terbuka, namun itu cukup untuk membuat asap rokok bertukar dengan udara segar dari luar. Cukup meringankan kerja bulu-bulu hidung yang didesain untuk menyaring udara. Hawa pengap pun menyejuk kemudian. Sepertinya perjalanan akan menjadi seperti yang dibayangkan.

Ane tidur. Namun tidak sepenuhnya.

It’s micro-sleep. Tidur ayam.

Berkali-kali ane terjaga, bukan karena mimpi buruk. Struktur jalan pantura gak memungkinkan seseorang untuk tidur pulas. Musim hujan memang membuat kondisi jalan semakin buruk, lubang dimana-mana dan ane ditakdirkan untuk mendapatkan kursi tepat di atas roda belakang yang mana jika roda melewati konstruksi jalan yang berlubang maka dengan pasti akan menghasilkan suatu daya pantul yang akan dialami oleh segala benda yang berada di atasnya. Jadi ane terpantul-pantul gitu sepanjang jalan. Tidur-bangun-tidur lagi-bangun lagi-tidur lagi-bangun lagi-tidur lagi-bangun lagi-bunuh diri…

Jalan hidup memang tak selamanya mulus.

Dengan sedikit paksaan ane memejamkan mata kembali. Ane harus tidur…harus…!!!

Kantor bukanlah tempat tidur yang baik. Ane gak mau ketiduran di kantor gara-gara malamnya gak bisa tidur. Pokoknya ane harus tidur!!!

Gak berselang lama kondisi jalan semakin membaik. Bus memasuki jalan bebas hambatan (tol). Ane gak memantul-mantul lagi. Perlahan ane terlelap kembali lalu masuk ke dunia mimpi.

***

Pssssshhhhhh…..!!!

Suara yang cukup keras terdengar dan mengagetkan ane. Suara yang terlalu keras untuk sebuah kentut.

Bukan…bukan…!!!

Ane kira itu kentut beneran. Habis makan apa si pengentut itu sampai-sampai bisa menghasilkan kentut dengan tekanan yang begitu besar semacam itu. Ternyata ane terlalu berlebihan. Tidak…ane terlalu meremehkan.

Ternyata sumber suara itu keluar dari ban belakang bus yang ane tumpangi. Abang sopir menepikan busnya ke sisi kiri jalan tol. Ya! Masalah klasik yang sering terjadi dalam sebuah perjalanan. Ban bocor!!!

Satu demi satu konspirasi alam semesta untuk menggagalkan kenyamanan perjalanan ane sampai di Jakarta mulai terkuak.

Bus nonAC

Asap Rokok

Jalan berlubang

Kursi pas di atas ban belakang

Dan ..

Ban bocor…

Setengah jam lebih kami terjebak dalam pekatnya malam yang menistakan. Belum ada kemajuan yang berarti ataupun pergerakan yang berdaya juang. Yang terlihat hanyalah bus dan kendaraan lain yang berjalan di luar sana dengan laju kencang, mengasapi kami di pinggir jalan.Tangis anak kecil pun pecah diantara asap rokok yang semakin pekat saja. Itu menambah resah hati ane.

Ya naik..naik…naik…!!!

Perbaikan sudah selesai dilakukan dan penumpang yang tadi pada turun satu per satu mulai naik kembali menempati posisi duduk mereka masing-masing. Abang sopir menyalakan mesin dan kita jalan lagi. Ane tidur lagi..

Sepertinya alam memang sedang bersekongkol. Baru tidur sekejap, mata ane kembali terbelalak akibat bus melewati lubang yang cukup dalam. Ane kejedot pinggiran jendela. Begitu ane lihat ke arah luar jendela terlihat antrean kendaraan yang mengular. Luar biasa!

Pantura macet!!

Jalur ‘neraka’:

Cirebon-> Indramayu-> Pamanukan-> Simpang Jomin

Lepas kopling -> injak gas -> rem -> lepas kopling -> injak gas -> rem lagi -> sopir capek -> penumpang mangkel -> ngomelin sopir -> sopir banting setir ambil jalur sebelah, nglawan arus.

Ini adalah perbuatan yang gak dibenarkan. Namun untuk kondisi seperti ini segala cara harus dilakukan. Abang sopir mengambil jalur pintas nglawan arus dan menantang maut. Ane sih nyaman-nyaman aja. Daripada harus bersabar menunggu kemacetan terurai dengan sendirinya lebih baik beraksi cepat. Toh abang sopir sudah mempertimbangkan segala risiko yang akan terjadi. Aku padamu abang!!!

Meskipun sudah berusaha mengambil jalan pintas, kemacetan malam itu seakan gak ada ujungnya. Sudah nglawan arus masih aja macet. Kapan semua ini akan berakhir???

Pagi pun tiba…

Kami masih ada di jalan dengan kemacetan yang masih saja belum berakhir. Tol cikampek senin pagi terpantau padat merayap.

Ya! ini senin. Waktunya orang bekerja dan tujuan dari para pekerja berada di pusat ibukota. Jadi jalur manapun yang dilewati yang menuju ke Jakarta pasti akan padat. Ditambah lagi dengan hujan yang perlahan turun.

Gerimis…

Hampir jam 7 dan ane masih terjebak macet di Cakung. Ane harus datang di kantor sebelum jam 8. Gak mungkin dateng tepat waktu kalo kayak begini caranya. Namun jangan khawatir, ane sudah merancang segalanya.

Plan 1 :

Duduk manis -> memahami betul arti sabar -> berdoa -> kemacetan terurai -> sampai Pulogadung -> Naik Busway -> tiba di kosan -> tidur -> terlambat -> potong gaji

Plan 2:

Bolos kerja -> most wanted people over the world -> SP3 turun

Plan 3:

Bangkit dari kursi bus -> turun di jalan -> ngojek langsung ke kantor -> tiba di kantor dalam keadaan kumal -> setor jempol -> balik ke kosan -> memperganteng diri -> berangkat lagi -> tiba di kantor dengan muka penuh tanggung jawab.

Setelah diperhitungkan ane dan temen ane sepakat mengambil plan 3. Turun dan cari abang ojeg. Kebetulan di seberang sana ada pangkalan ojeg. Tanpa pikir panjang kami menyeberang jalan membelah kemacetan.

Setibanya di sana kami disambut oleh ajakan abang-abang ojeg dengan tawaran untuk  menggunakan jasanya. Mereka tau apa yang kami mau. Si abang ojeg mulai mambuka penawaran di harga 50 ribu.

“wah mahal banget! 30ribu deh bang” tawar ane sok tau.

“gak dapet mas. Macet kayak gini susah”

“Ya udah! 35 bang. Ayo jalan!”, tawar ane kuat-kuat.

“Tetep gak bisa mas.”

“Empat Puluh!”, tawar ane penuh harap.

“ Ya udah deh naik!”

Kami berdua bergegas naik ke punggung si abang. Hah?

Bukan. Kita naik motornya si abang.

Bertiga satu motor gitu?

Tidak. Kami punya abang ojeg sendiri-sendiri. Setiap manusia punya abang ojegnya masing-masing.

Kami naik dengan segera berharap segala ketakutan tentang keterlambatan akan dapat teratasi. Kami berpacu dengan waktu. Si abang tancap gas, kami was-was.

Memang kondisi saat itu macet total. Semua kendaraan roda empat hampir gak bisa bergerak. Itu memang titik yang menurut ane paling parah kemacetannya, sebuah ruas jalan dekat dengan terminal Pulogadung. Jalan itu hanya mungkin dilewati dengan baik oleh kendaraan yang ramping semacam sepeda motor.

Sepertinya keputusan kami memakai jasa abang ojeg tidak salah. Kami melewati kerumunan kendaraan dengan lihai. Celah-celah antar kendaraan dimanfaatkan dengan baik oleh si abang. Satu per satu kami lewati dengan gemilang.

Gerimis yang semula hanya menyerbuk tiba-tiba mulai membatu. Hujan mulai turun dengan deras. Ane gak bawa payung. Kalo bawa payung pun ane gak yakin akan memakainya. Memakai payung sambil naik motor bukan saran yang dianjurkan.

“Tutupin aja mas biar gak kehujanan”, kata si abang menawarkan jas hujannya ditutupkan.

“Oke bang”

Si abang kala itu memakai jas hujan “batman”. Lebih mirip sama Rama Aipama sih sebenernya. Ane langsung mengembangkan sayap jas itu menutupi seluruh bagian tubuh ane guna melindunginya dari gumpalan-gumpalan hujan yang semakin membesar saja. Ane pindahkan tas ransel ane yang tadinya ada di belakang ke bagian depan ane biar gak kebasahan.

Gelap. Begitu kondisi saat itu.

Ane hanya bisa melihat jalan dari celah kecil. Sayap itu terasa berkibar-kibar terkena hempasan angin dari arah depan. Ane dibawa terbang oleh si abang. Ane pegangi sayap jas itu agar tidak menyapu-nyapu pengendara yang lain. Meskipun cuaca waktu itu cukup dingin namun ane merasa hangat di dalam naungan sayapnya. Di dalamnya ane terus berharap semoga datang di kantor tepat waktu.

Cipratan air berkali-kali membasahi kaki ane yang gak terjangkau oleh sayapnya. Sesekali tangan ane menyenggol kendaraan lain yang melintas di samping ane. Gak keras sih, pelan saja. Celah sekecil apapun harus digunakan agar cepat sampai.

Hujan perlahan mulai reda. Namun ane gak mau membuka jas itu. Ane gak pake helm waktu itu. Kata si abang entar kalo ada polisi di jalan, tutupin aja pake jas hujan biar gak ketahuan.

Dengan gesit kami menelusuri celah-celah sempit di jalan yang padat itu. Melihat performa si abang yang mengagumkan ane yakin akan tiba di kantor pada momen yang tepat. Dia menyapu jalan dengan begitu mengagumkan.

Si abang perlahan mengurangi laju sepeda motornya. Dia menepikan kendaraannya itu ke pinggir jalan. Ane buka jaa hujannya

dannn…

taraaaaaa!!!

Ane sampai di depan gerbang kantor. Dengan segera ane keluarkan 40ribu sebagai balasan atas jasanya yang begitu mulia menghantarkan ane ke depan pintu gerbang kemerdekaan dengan selamat sentosa. Ane gak nyesel bayar mahal. Eh, segitu mahal gak ya???hehehe

Dengan sedikit berlari ane bergegas menuju ke kantor. Satu yang ane tuju waktu itu. Mesin absensi. Ane harus cepat.

07.37 WIB. Jempol ane tepat menempel di mesin absensi yang seraya mengucapkan terima kasih…terima kasih…terima kasih!

Yap! Terima kasih abang ojeg telah menjadi penyelamat dalam hidupku. Tanpa dirimu aku gak akan ada artinya. Di dalam naungan sayapmu aku berlindung dari dinginnya hujan. Sekali lagi terima kasih!

Ane pulang ke kosan dengan trofi kemenangan untuk kemudian berangkat lagi dengan wajah penuh tanggung jawab.

What a journey!!! 😀

Advertisements

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s