[Bukan] Salah Tukang Cukur : Hey Botak !!!

Setiap tukang cukur punya kapabilitas masing-masing dalam setiap mencukur rambut pelanggannya. Gak mungkin dia buka usaha pangkas rambut tanpa dibekali kemampuan mumpuni. Namun entah kenapa setiap pergi ke tukang cukur, di benak ane selalu timbul keraguan. Apakah si tukang cukur bisa menunaikan tugasnya dengan gemilang? Pertanyaan itulah yang selalu mengaung dibenak ane ketika memutuskan akan pergi ke tukang cukur. Ane selalu bertanya-tanya dalam benak mengenai kapabilitasnya dalam mencukur.


Pertanyaan itu penting mengingat potongan rambut seseorang akan mempengaruhi penampilan orang tersebut. Kadang orang tidak sadar bahwa potongan rambutnya itu tidak sesuai dengan kehidupannya. Keperluan tata rambut untuk seorang artis tentunya beda dengan seorang pelajar. Artis mungkin akan mengeksplorasi rambutnya dengan model-model yang beraneka macam itu. Gak masalah, toh dia adalah artis, yang cari makan dengan cara menjual penampilan.

Namanya pelajar ya tugasnya belajar. Dan untuk dapat belajar dengan nyaman kamu tidak perlu mendapatkan potongan rambut yang menakjubkan layaknya artis.

Namun kebanyakan pelajar takut kalo gaya rambutnya akan ketinggalan jaman. Sedangkan kiblat dari gaya rambut ada pada artis. Jadi gak heran kalo banyak pelajar yang keartis-artisan. Bahkan merambah sampai gaya hidupnya. Padahal uangpun masih minta orang tua.

Memang sih potongan rambut akan sangat berpengaruh terhadap penampilan seseorang.

Ane yang gak terlalu massive dalam merubah gaya rambut pun merasakannya. Melihat foto-foto jaman dahulu kala, mungkin bisa menjadi cerminan bahwasanya setiap masa punya potongan rambutnya masing-masing. Dahulu mungkin akan keren sekali dengan model rambut jambul atau belahan tengah. Masa akan terus berkembang dan belum tentu rambut yang dahulu keren akan tetep keren untuk beberapa masa mendatang.

Dan ane menjadi orang yang selalu gagal mengikuti perkembangan trend potongan rambut. Potongan rambut ane ya gitu-gitu aja. Bukan karena ane gak peka terhadap perubahan. Tetapi ane berpendapat bahwa setiap muka gak akan selalu cocok untuk setiap gaya rambut. Gaya rambut yang terkini belum tentu cocok dengan muka seseorang yang paling kini sekalipun. Ada potongan rambut yang keren namun raut muka tidak dapat mengimbanginya. Jadinya kebanting gitu. Jatuhnya jadi agak maksa. Katro pada akhirnya.

Dan yang perlu dijadikan bahan pertimbangan adalah setiap orang memiliki jenis rambut yang berbeda-beda. Setiap jenis rambut gak akan selalu mudah untuk dibentuk mengikuti gaya yang keren. Beberapa orang tidak menyadari hal ini dan memaksa untuk mendapatkan gaya rambut yang paling kini. Menabrak-nabrakan setiap potongan rambut dengan wajah yang seadanya. Dan hasilnya tidak memuaskan, bagi yang sadar. Ujung-ujungnya adalah pengambinghitaman tukang cukur. Salah cukur lah, gak becus mencukur lah. Padahal dia cuma menerjemahkan apa yang telah diinstruksikan.

Ane adalah salah satu orang yang tidak terlalu menuntut masalah gaya rambut. Ane bukan artis. Yang penting enak dipandang mata, itu sudah cukup. Gak perlu neko-neko.

Ketidakneko-nekoan ane tentang gaya rambut ternyata diuji. Ane diharuskan ikut acara yang diselenggarakan oleh kantor tempat ane bekerja dan  salah satu syaratnya adalah panjang rambut maksimal 2 cm. Ukuran rambut segitu itu gak panjang bung. Dengan kata lain, kami harus botak. Ane gak habis pikir gimana kalo cewek dibotakin. Ah tidak, ternyata ini khusus diberlakukan buat cowok. Okeh ane gak neko-neko dan cuek masalah potongan rambut, tapi gak botak juga kaliii.

Sejenak ane membayangkan tokoh-tokoh masyarakat dengan rambut botak seperti, Samuel Rizal, Rio Dewanto, Okan Cornelius, dan berujung pada Pak Ogah. Bayang-bayang mereka beberapa waktu terakhir menghantui ane. Nampaknya ane terlalu berlebihan.

Sehari sebelum acara dimulai ane dan temen ane memutuskan untuk pergi ke tukang cukur. Langkah kami ragu pada awalnya. Namun ini mau gak mau harus dilakukan. Beberapa kejadian gak semenakutkan seperti apa yang dibayangkan sebelum semua terjadi. Kami mulai yakin bahwa botak itu tidak salah. Kami mencoba tegar.

Beberapa menit setelah ngantre menunggu giliran untuk dicukur dalam keresahan, tibalah giliran kami. Tidak, temen ane dulu yang maju.

“Bang, 2 senti ya!”, ujar temen ane penuh keyakinan.

“Oh, iya..”, si abang mengangguk penuh pengertian.

Si abang kelihatan sedang mensetting mesin cukur, dibuat agar rambut yang dicukur persis 2 cm.  Mesin cukurpun mulai dinyalakan.

Satu sapuan yang cukup ganas untuk memulai sebuah cukuran. Ya, abang terlihat sangat brutal sekali. Hati ane mulai was-was. Ini kenapa jadi kayak balas dendam gini si abangnya. Apa keluar aja yak? Ane sempet ragu.

5 menit kemudian…

Si abang membersihkan rambut-rambut yang berjatuhan di sekitar leher temen ane. Gak lama kemudian temen ane mengeluarkan uang sebagai imbalan atas jasa si abang. Ane melihat bahwa seharusnya gak setipis itu potongannya. Dua senti gak setipis itu kayaknya. Kulit kepala temen ane sampe kelihatan, entah karena rambutnya jarang atau memang terlalu tipis potongan rambutnya yang jelas ini membuat ane semakin was-was. Malam hari bukan waktu yang dianjurkan untuk memotong rambut. Mungkin si abang tadi sudah lelah.

but life happens.                                                                                              

Ane harus maju.

Dengan keyakinan yang masih saja mencoba stabil ane duduk di kursi tempat temen ane di cukur tadi. Si abang menutupi daerah sekitar leher ane dengan kain untuk menghindari rambut hasil cukuran mengenai baju dan badan ane. Sebelum cukur ane berpesan:

“Modelnya sama yang bang, tapi agak bagusan. Agak pajang dikit!”

Si abang mengangguk penuh pengertian.

Dia mulai mencukur rambut ane dan ane merem melek. Ada monolog yang begitu ramai dalam hati ane. Ya udah sih pasrah aja. Ane pasrah gak berdaya.

Si abang ini bener-bener gak kenal ampun. Ini brutal banget nyukurnya. Namun ane cuma termenung menatap cermin di depan ane yang menjadi saksi helai demi helai rambut ane dicukur. Perlahan angin dari kipas yang berputar di ruangan itu sampai di ubun-ubun kepala ane dan menghamburkan potongan-potongan rambut ane. Sekejap, semuanya menjadi dingin dan gelap.

Seminggu setelah dibotak, ane mulai tegar.

Seminggu setelah dibotak, hidup ane menjadi lebih simple.

Karena ini semua bukan serta merta salah tukang cukur. Ini hanya masalah persepsi.

Advertisements

3 thoughts on “[Bukan] Salah Tukang Cukur : Hey Botak !!!

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s