Yang Pertama yang Bermakna

Komunikasi baik akan menghasilkan hubungan sosial yang baik. Ane belajar betul dari buku IPS bahwa ini adalah kodrat manusia sebagai makhluk sosial, berdampingan dengan manusia yang lain untuk dapat melangsungkan hidup dan menghidupi kehidupannya. Ane rasa pencipta telepon genggam memahami betul konsep dari buku IPS ini. Bahwa ada suatu sistem komunikasi yang dijalankan oleh manusia dalami kodratnya sebagai makhluk sosial. Dengan konsep komunikasi hanya dalam genggaman, ane rasa mengubah peta komunikasi antara satu orang dengan yang lain dari masa lalu. Benar saja kini hampir semua orang di dunia punya sesuatu yang ada dalam genggaman mereka. Setiap orang punya hapenya masing-masing. Kecuali yang berhalangan.

Ane adalah orang yang gak up to date untuk masalah hape. Dari dulu hape ane ya gitu-gitu aja. Tak lekang oleh waktu. Kenapa?

Satu. Karena ane gak punya uang. Heh jujur banget sih. haha.

Dua. Karena ane belum merasa butuh untuk mengganti hape.

Tiga. Karena hidup itu pilihan.

Total, ane hanya sekali mengganti hape sampai diterbitkannya tulisan ini. Sekali itu pun kerana terpaksa, ujian hidup melanda.

Pertama kali ane punya hape sendiri adalah saat ane sudah akan lulus dari SMA. Okeh. Ane harus bilang bahwa ane memiliki hape di usia yang sudah tak lagi muda. Mungkin Ane lah orang terakhir pada generasi itu yang baru mempunyai hape. Namun ane yakin, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Hape yang pertama ane miliki adalah Nokia 2310.

Nokia 2310Sumber : http://i596.photobucket.com/albums/tt43/kingkratom/DSC02113.jpg

Sebenernya sampe sekarang ane masih bingung apakah hape itu bener-bener diberikan buat ane atau bukan. Ya, hape itu adalah barang pemberian dari anaknya kakek ane yang cewek. Nah, kebetulan dia itu adalah adeknya bapak ane. Jadi bisa dikatakan hubungan kekerabatan kami adalah antara keponakan dan tantenya. Namun ane lebih sering memanggilnya bulek (panggilan untuk adeknya bapak/ibu dalam suku jawa).

Ane sempet terkejut ketika dapet kiriman dari bulek. Dia gak ngomong-ngomong dulu sebelumnya mau ngirim hape. Begitu dibuka ternyata isinya ada dua hape Nokia 2310 dengan warna yang berbeda. Yang satu biru dan yang satunya lagi hitam. Peruntukannya pun belum jelas. Kabar burung menyebutkan bahwa hape itu buat kakak sama Om (adeknya bapak lagi tapi yang cowok) ane. Berita yang lain mengabarkan bahwa hape itu buat ibu sama kakak ane. Dan ane sempat berkecil hati, kenapa gak buat ane saja.

Si Om ternyata gak mau nerima karena sudah punya hape dan merasa iba kepada keponakannya yang pada saat gemilang-gemilangnya dalam pergaulan belum punya hape. Okeh, saingan berkurang satu. Tinggal Ibu nih. heuheu

Dan ternyata ibu itu selalu menjadi peri pelindung bagi anaknya. Dia merasa belum perlu menggunakan hape. Dia pun menganjurkan kepada ane untuk memakai hape itu. Ane dapet yang hitam, kakak ane yang biru.

Ane sebenernya gak maksa-maksa amat pengen punya hape. Namun ane agak gerah juga ngliat temen-temen ane bergelimang harta. lhah? Bukan2. ..

Ane suka keringetan aja kalo temen-temen pada mainan hape waktu jam istirahat, sedangkan ane cukup nonton mereka mainan hape. Ane sempet down sebelum ane berpikir bahwasanya kosong itu adalah isi dan isi itu adalah kosong. Kondisi itu bertahan sampai ane sudah akan lulus dari SMA. Itu adalah masa vacuum of power. Masuk bagus, mau bolos ya suka-suka abang deh.

Pada masa itu lah, ane sudah punya pegangan. Gak usah mohon-mohon lagi kalau pengen nge-game uler-uleran (Snake). Gak perlu melongo lagi saat temen-temen ngeluarin hapenya.

Tindakan pertama yang ane lakukan adalah menyimpan semua nomer temen-temen ane. Ada rasa bangga ketika menjawab pertanyaan “Eh bal, nomermu berapa?”

Ane akan dengan sangat bangga menyebutkan nomer hape ane penuh kemenangan. (?)

Dulu, fitur sms itu sangatlah menjadi andalan. Satu SMS tarifnya Rp350,- kalo gak salah. Lumayan mahal untuk jaman segitu. Untuk membuat pesan yang diketik tidak terlalu panjang dan efisien maka dilakukanlah pengeliminasian huruf konsonan. Mungkin kala itu kita salah gaul dengan Skrtel (bek Liverpool) atau Szczesny (kiper Arsenal). Nama mereka memberi pengaruh besar.

Hape ane itu sudah lumayan bagus pada masa itu. Meskipun tidak dilengkapi dengan kamera, namun fitur-fiturnya sudah memberikan sumbangsih yang besar di kehidupan ane. Hape ane sudah gak hitam putih lagi. Layarnya sudah berwarna, dengan tema-tema yang enak dipandang mata. Salah satu keunggulan yang ada di hape ane dan tidak dimiliki oleh hape lain jaman itu adalah radio. Hape ane sudah dilengkapi dengan radio fm. Meskipun suaranya kemresek, tapi cukup menghibur di kala lampu di rumah padam. hahaha

Dan satu lagi yang fitur yang ane suka adalah composer. Ane suka bikin nada-nada dari lagu-lagu yang lagi ngehits kala itu. Dan hape ane mampu mengakomodasi kesukaan ane itu. Dengan fitur itu dapat dihasilkan nada-nada midi yang cukup menghibur.

Namun semua itu hanyalah sebuah kenangan yang tertinggal. Hape ane sudah berpindah ke tangan yang tidak bertanggung jawab. Ane tidak berhasil menjaganya dengan baik. Entah dimana sekarang hape pertama ane itu. Masih terus memberi manfaat kepada orang lain di luar sanakah? Atau malah menjadi remah-remah yang tececer bersama tumpukan sampah tak berguna?

Entahlah…

Semua itu sudah ada yang mengatur.

Ane berpikir bahwa kala itu ane terlambat memiliki hape namun ane berpikir bahwa sesuatu itu datang untuk suatu tujuan tertentu. Ane punya hape ketika sudah akan lulus dari SMA yang mana sebentar lagi akan berpisah dengan teman-teman SMA. Hape itu hadir untuk tetap mengikat tali silaturahim antara ane dan temen-temen ane ketika semuanya akan terpisah oleh ruang dan waktu. Tidak ada yang lebih indah melainkan menjalin dan menjaga tali silaturahim tetap erat.

Di sinilah pentingnya komunikasi.

Karena komunikasi yang baik akan menghasilkan hubungan sosial yang baik.

Semua itu berakar dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

Seperti kata buku IPS.

GATulisan ini diikutsetsertakan dalam Giveaway Cerita Hape Pertama.

Advertisements

8 thoughts on “Yang Pertama yang Bermakna

    • Iqbal says:

      wow…serius mba el? baru November kemaren? Trus sebelumnya komunikasi pake apaan? Itu seriusan gak kepake? sini buat aku aja, heuheu..

      • duniaely says:

        Ciyusss … belum pernah pakai sebelumnya, emang belum perlu, November kemarin dikasih kejutan suamiku Smartphone itu, walau aku tetep aja nggak suka, khan kami liburan ke tanah air November lalu, suamiku pengen aku masih bisa nengok blogku, nggak perlu ke warnet, jadi dibelikan, walau istrinya nggak minta dan tetep ngga minat hihihi

        Komunikasi? bicara langsung lbh oke khan? telpon dari rumah, imel, blog, hihihi … disimpan tuh Smartphone samsungnya sama suamiku, ntar dipakai lagi kalau liburan ya itu saja, cuma buat ngecek blog pas aku liburan, kalau nggak ya nggak dipakai , liburan samsungnya 😀

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s