Pre Memory : Gladi Kotor

Masih ingatkah kapan terakhir kali upacara bendera?

Hari Senin minggu lalu? Bulan lalu? 5 bulan yang lalu? Satu tahun yang lalu? sewindu yang lalu? sepuluh tahun yang lalu? satu abad yang lalu?

wow… Anda tua sekali!!! Penuh debu dan usang.

Terakhir kali ane mengikuti upacara bendera itu ketika aliran listrik belum masuk ke desa dan sumber air masih sulit. Namun sekarang semuanya telah berubah. Electricity for a better life. Sumber air pun sudekat. Hahaha tidak…tidak..

Ane lupa kapan terakhir kali ikut upacara bendera. Anggap saja pas jaman SMA deh. Ah, maafkan warga negaramu yang satu ini pak.

Ya, kalau diinget-inget terakhir kali ane ikut upacara itu pas kelas 3 SMA. Lama banget. Pas jaman kuliah kemana saja?

Silakan tanya pada mahasiswa-mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini. Mungkin mahasiswa sekarang akan melaksanakan upacara bendera 1x dalam setahun atau bahkan tidak sama sekali. Bagaimana tidak? Saat ini di Universitas tidak ada kebijakan tentang adanya upacara bendera hari senin yang biasa diadakan di jenjang sekolah terdahulunya (SD, SMP, SMA). Kalaupun ada mungkin hanya upacara kemerdekaan itupun jika mereka mengikutinya.

Ya, ane inget ketika ane kuliah dulu, seluruh mahasiswa diwajibkan ikut upacara untuk memperingati HUT RI pada tanggal 17 Agustus. Sekali setahun tuh, kayak lebaran. Semua mahasiswa, tanpa kecuali!!! Bahkan isu yang beredar, jika tidak hadir dalam upacara tersebut konsekuensinya adalah Drop Out (DO). Sejak kapan ada hukuman kayak gini. Di planet manapun belum ada kayaknya. “Seorang mahasiswa dikeluarkan secara tidak hormat dari kampusnya setelah sehari sebelumnya tidak ikut upacara”. Hari ini gak ikut upacara, besoknya kamu harus angkat kaki dari kampus. Dimana hati nurani kalian, pak bu om tante? Dimana HAM? Dimana? Dimana? Ku harus mencari dimana? Ah, tak tahu lah rimbanya dimana. Di hutan kali noh.

Ane yakin bahwa ini adalah ancaman yang konyol, dan hoax semata.

It’s a sophisticated joke, dude!

Dan ane membangkang bersama puluhan mahasiswa cadas lainnya. Kami gak ikut upacara. Eh tau-tau udah wisuda aja, udah lulus aja.

Dan sekarang udah kerja aja.

Yang ane lihat fakta yang ada di Indonesia bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, antusiasme untuk mengikuti upacara semakin rendah. Silakan usik kenangan anda pada jaman SD. Di jaman itu kita seakan bersemangat sekali kalo hari senin tiba untuk ikut upacara bendera. Jaman segitu panas matahari adalah teman. Mau berpanas-panasan berjam-jam pun gak akan berasa, biar mamamu tak suka, papamu juga melarang. Lah?

Seiring berjalannya waktu entah kenapa sengatan matahari kian hari kian memanas. Jaman SMP, antusias mengikuti upacara sedikit demi sedikit melemah. Alasannya gak mau panas-panasan entar kulitnya item. Itu kemudian berlanjut dan semakin parah ketika beranjak dewasa di SMA. Dikit-dikit panas, dikit-dikit panas. Mending ke goa aja sonoh! Adem. Kalo guru BK belum ngoprak-oprak ke kelas, gak akan keluar ke lapangan upacara deh kayaknya. Kalian gak inget dulu kalian bersahabat sekali dengan terik matahari?

Kebiasaan itu sedikit banyak akan berpengaruh juga pada saat terjun di dunia kerja.

Okeh. Mungkin di swasta gak akan ada kewajiban untuk melaksanakan upacara bendera. Nah kalo di instansi pemerintah di hari besar nasional pasti akan dilaksanakan upacara. Bahkan telah termaktub dalam surat resmi dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Biasanya diperuntukkan bagi perwakilannya saja.

Nah, kali ini ane kejatah untuk ikut upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei nanti. Perintah itu telah diturunkan dalam bentuk Surat Tugas. Bung, ini tugas negara. Beban berat ada dipundak ane. Di saat yang lain duduk di ruangan yang ber-AC, ane akan bermandikan sinar matahari. Jam 8 pagi sekarang udah kayak jam 11 rasanya. Matahari udah tinggi, gede lagi. Tapi kembali lagi, ini tugas negara. Nasionalisme ane diuji.

Dalam rangka mempersiapkan upacara tersebut, ada beberapa latihan yang akan dilaksanakan sebelumnya. Ada gladi kotor dan gladi bersih. Ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan kesempurnaan saat pelaksanaan upacara nanti.

Hari itu, langit memberi tanda bahwa hujan akan turun. Ya, ini yang ane harapkan. Hujan gede dan semuanya akan dibatalkan. Gladi kotor hanya bualan belaka. Ane akan tersenyum bangga. Potong tumpeng kemudian.

Tapi nampaknya harapan ane terlalu berlebihan. Air hanya menyerbuk saja. Sekecil butir-butir zat cair yang terhambur dari botol parfum ketek semprot. Sebentar saja lalu reda. Yang tersisa hanyalah mendung yang menggelayut di langit. PHP.

Ane bersama rekan-rekan kerja yang senasib melangkah gontai menuju lapangan upacara tempat gladi kotor akan dilangsungkan. Tidak jauh, di depan kantor. Dan untuk menugaskan pegawainya jalan ke depan kantor saja harus memakai Surat Tugas.

It’s a kingdom of formality.

Semakin dekat, kami menangkap suara dari speaker yang menggema dan memecah keheningan di sore itu. Suara itu berasal dari MC yang sedang berlatih membacakan susunan acara pada upacara nanti.

Di pinggir lapangan, ane mendapati sekerumun orang yang tengah luntang-lantung sambil menikmati makanan ringan yang telah disediakan. Yap, Itu lah golongan ane.

Saat ane mulai nyaman dengan kondisi ini, seseorang berbadan tegap memanggil tiga belas orang laki-laki termasuk ane. Kemudian membariskannya.

“Saya minta bantuan dari bapak-bapak sekalian untuk bisa mewakili menjadi pemimpin barisan.”

Ane senang sekali mendengar apa yang ia katakan. Akhirnya kami mendapatkan peran.

Kami satu per satu di minta untuk mengeluarkan suaranya. Ini mirip sama les vokal.

Siiyaaaaap grak!

Lencang depaaaaan grak!

Tegaaaaaak grak!

Istirahat di tempaaaat grak!

Ada kali sampai lebih dari lima kali kami melakukannya. Pita suara kami diuji.

We’re rooooockkkk!!!

Setelah itu kami diminta terjun ke lapangan. Gladi kotor akan dimulai. Kami menempati posisi kami masing-masing. Kami berdiri tegap dan kokoh, tak goyah di atas lapangan nan hijau melambai. hah?

Suara MC berkumandang bak singa yang mengaum di tengah hutan belantara.

1.  Masing-masing pemimpin barisan menyiapkan barisannya…nyaaa…nyaaa…nyaa…
Ane teriak sekencang-kencangnya, setegas-tegasnya…
Siyaaaap gaaaak!!! (sejenak bumi bergetar)

2.  Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara..ra..ra..ra…(gema)
3.  Penghormatan peserta upacara kepada pemimpin upacara..ra..ra..ra…
4.  Laporan masing-masing pemimpin barisan kepada pemimpin upacara..ra..ra..ra…
5.  Pembina upacara memasuki lapangan upacara, barisan disiapkan..kan..kan..kan…
6.  Penghormatan umum….mmm…
7.  Laporan pemimpin upacara kepada Pembina upacara..ra..ra..ra..
8.  Pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia raya oleh paduan suara..ra..ra..ra..
9.  Mengheningkan cipta dipimpin oleh Pembina upacarara..ra..ra..ra
10. Pembacaan naskah pancasila dan pembukaan undang-undang dasar tahun 1945 (Pre Memory)
11. Amanat Pembina upacara (Pre Memory)
12. Padamu Negeri (Pre Memory)
13. Pembacaan doa ( Pre Memory)
14. ANDIKA BHAYANGKARI
15. Laporan pemimpin upacara kepada Pembina upacara..ra..ra..ra..
16. Penghormatan umum…mmm…
17. Pembina upacara meninggalkan tempat upacara..ra..ra..ra..
18. Penghormatan peserta upacara kepada pemimpin upacara..ra…ra…ra…
19. Upacara selesai pemimpin upacara kembali ketempat semula
20. Masing-masing pemimpin barisan membubarkan barisannya.

Gladi kotor selesai dan kami dikumpulkan kembali.

“Terima kasih atas partisipasi dari bapak-bapak semua pada gladi kotor sore ini. Dan khusus untuk tiga belas orang tadi perlu kami sampaikan bahwa bapak-bapak tadi hanya mewakili saja. Petugas yang sebenarnya sudah dipilih. Namun karena ada halangan, mereka tidak hadir pada gladi kotor kali ini. Kami mengharapkan kedatangan bapak-bapak sekalian pada gladi bersih hari senin nanti. Terima kasih”

Yah, kenapa gak dari tadi ngomongnya bapak….

Kami merasa terpuruk.

Masing- masing pemimpin barisan menyiapkan barisannya. Pre Memory…!!!

Advertisements

8 thoughts on “Pre Memory : Gladi Kotor

  1. fasyaulia says:

    Terakhir kali upacara yaitu 4 tahun lalu pas SMA. Waktu SMA aja gak setiap senin upacara nya, tapi giliran sama anak SMP dan SMK (sekolah swasta).
    Saya sih kurang suka sama upacara, soalnya ujung-ujungnya cuma “berdiri aja” tanpa mendengarkan pidato dari kepsek, atau hal-hal yang lainnya. Iya, selama upcara gak dapet “feel” apa-apa.
    Kecuali waktu jaman sd, seneng upacara karena jadi pengibar bendera atau pembawa uud. Berasa keren gitu, haha.

    • Iqbal says:

      wow… Jaman SDmu gemilang yah. Pengibar bendera itu posisi paling keren. Prestisius banget itu…
      Kalau jaman SD sih posisi ane tetep gak berubah, di belakang sebelah kiri pembina upacara. Ane jadi pembawa naskah pancasila. Cuma bawa doang, trus ntar dikasihin ke pembina upacara. Udah. Sisanya berdiri mengikuti kemana pembina upacara melangkah. Menghapus jejakmu deh 😀

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s