Berlayar di Atas Garuda

Satu-satunya moda transportasi yang belum pernah ane naiki adalah pesawat. Dari kecil ane hanya bisa mengimajinasikannya dalam bentuk lipatan kertas. Kemudian menerbangkannya dan membayangkan seolah ane ada di dalamnya. Ane hanya bisa mendengarnya dari cerita orang-orang sekitar.
“Naik pesawat itu seru lho”.
Oke. Kisah-kisah menakjubkan yang mereka ceritakan hanya akan membuat ane tertidur lelap.

Notabene, naik pesawat itu diperuntukkan bagi orang yang mampu. Memang sih, jika dibanding dengan moda transportasi lain rasa-rasanya ongkos naik pesawat itu paling mahal. Benar saja, golongan-golongan kere seperti ane sangat susah mendapatkannya. Lah wong buat makan saja masih mikir-mikir kok. Heuheu

Namun, ane percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Entah kenapa ane sangat yakin jika suatu hari nanti pasti ane akan merasakannya. Naik pesawat.

28 November
Ane duduk di kursi sebuah maskapai penerbangan bintang lima milik Indonesia. Garuda Indonesia. Entah karena sugesti yang terlalu kuat atau apa, yang jelas ane berhasil mewujudkannya. Lengkap sudah sejarah ane dalam hal pertransportasian.

Ini adalah penerbangan pertama dalam sejarah hidup ane sebagai seorang kere. Berkaca dari cerita temen dan beberapa referensi film yang ane tonton, mental adalah hal utama yang harus dipersiapkan. Di umur segini, gak lucu kalau tiba-tiba pingsan di dalem pesawat gara-gara nervous. Gak keren juga kalo diem-diem mimisan. Beberapa orang mengalaminya jika berada dalam kondisi tertekan. Sempat sebelumnya ditawari untuk ikut latihan yoga, tapi ane menolak.

Sesaat sebelum take off, pikiran ane dihantui oleh bayang-bayang hitam kecelakaan-kecelakaan pesawat yang belakangan ini terjadi. Betapa mengerikannya jika pesawat tiba-tiba hilang layaknya pesawat MH 370 malaysia. Ane juga terbayang-bayang kecelakaan yang menimpa adam air yang terjatuh dan hilang ditelan ombak lautan. Dan di pikiran ane juga terbayang tergelincirnya pesawat Garuda Indonesia dulu tahun 2007, terbakar dan cukup banyak menelan korban. Dan sekarang pesawat yang ane tumpangi adalah Garuda Indonesia bray.

Namun beberapa teman bilang bahwa Garuda itu recommended banget. Profesional, pelayanan maksimal. Gak usah khawatir. Okeh. Itu sedikit banyak membuat ane tenang. Perlahan semua bayangan menyeramkan itu hilang.

Baru masuk pintu pesawat ane di sambut dengan salam pramugari dengan senyumnya yang ramah, cenderung manis. Okeh. Lidah ane kelu. Ane hanya bisa membalasnya dengan senyum canggung lalu berlalu. Ane berusaha meyakinkan diri lagi bahwa setelahnya ane gak mimisan. Gak lucu amat bray…

Setelah mendapatkan kursi sebagaimana yang tercantum di lembaran boarding pass yang ane bawa, ane mencoba duduk tenang. Merenung. Berusaha mengatur ritme. Beberapa orang melakukannya untuk menguasai keadaan sekitar.

Tak berselang lama dari layar yang terpampang di depan masing-masing kursi diputar sebuah video tutorial tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah naik pesawat. Diantaranya bagaimana cara mengenakan sabuk pengaman, dimana posisi pelampung, apa yang harus dilakukan ketika berada dalam kondisi darurat, dan hal-hal lain yang berguna bagi keselamatan penumpang. Dan kesemuanya itu dikemas dalam sebuah video, iya video….tidak diperagakan langsung oleh pramugari kayak cerita temen2 ane. Pehape..

Terdengar dari speaker instruksi untuk memakai sabuk pengaman. Ane langsung melakukannya. Demi keselamatan dunia. Mbak-mbak Pramugari memastikan satu per satu bahwa semua penumpang telah memasang sabuk dengan benar.

Saat pesawat mulai jalan ane merapal doa. Memohon keselamatan. Mesin berbunyi. Pesawat melaju pelan. Gak ada kejutan. Tak ubahnya naik bus AKAP.

Pesawat berhenti sejenak. Ternyata menunggu pesawat lain landing di sisi lain bandara. Tak lama pesawat berbelok. Berbalik arah. Berjalan perlahan lalu semakin cepat dan cepat. Adrenalin ane meninggi. Tak hentinya ane merapal doa memohon keselamatan, ane mencoba stabil. Laju pesawat semakin kencang saja hingga pada titik tertentu ane merasakan roda pesawat bagian depan terangkat. Posisi ane secara perlahan mendongak, 5..10..25…30..45 derajat…ya sekitar 45 derajat. Entah kenapa ane terpikir film armagedon. Berada dalam pesawat ulang-alik. Obsesi berlebih.

Terdengar suara mesin yg menderu mencoba memberi tenaga untuk mengangkat badan pesawat. Lindungi hambaMu ini,ya Allah. Dan… Terbang. Darah berdesir ke ubun-ubun….

Jiwa ane belum juga stabil. Sementara itu yang terlihat di luar jendela hanyalah cahaya putih. Cuaca saat itu cukup cerah cenderung berawan. Saat ane masih saja mencoba stabil posisi pesawat perlahan mendatar. Pada ketinggian tertentu pesawat tenang, seperti diam tak bergerak. Begitu pula jiwa ane. Di luar sana terlihat gumpalan awan yang seolah menyampaikan salam, “selamat datang di dunia kami. Dunia yang tenang
jauh dari kebisingan”.

Ane menengok ke bawah, keluar jendela. Yang ane lihat adalah air. Semuanya. Laut yang membentang luas. Sungguh apa yang ada di bumi adalah ciptaan Allah swt.

Beberapa saat terdengar anjuran untuk melepaskan sabuk pengaman. Ini menandakan bahwa kondisi sudah stabil. Jiwa ane mulai tenang. Namun perlu adaptasi beberapa saat. Untuk mengendurkan syaraf ane coba memanfaatkan fasilitas yang disediakan maskapai tersebut. Sebuah layar kecil yang terpasang di depan masing-masing kursi. Lalu ane pasang headset.

Awalnya ane sempat kesel,pasalnya gak ada video yang menarik untuk ditonton. Ada sih video tapi itu video konser java jazz. Video yang asik sendiri. Ada film, tapi ane gak tau sejak jaman apa film itu diproduksi. Mungkin ketika nyonya menir beranjak dewasa.

Ane sempat putus asa. Namun ketika masuk pada menu musik, ane menemukannya. Ya, musik yang berkualitas. Ane menemukan Sheila On 7 di atas Garuda. Ada beberapa pilihan album dan pilihan ane jatuh pada album “Berlayar”.

Ya, album itu menemani ane berlayar dari Jakarta ke Balikpapan.

Bukan di lautan melainkan berlayar menembus awan.
Bukan untuk mencari ikan, melainkan tugas negara yang diemban.

Terima kasih Garuda.
Terima kasih Indonesia.

Advertisements

14 thoughts on “Berlayar di Atas Garuda

  1. itsmearni says:

    Senyam senyum sendiri bacanya deh
    Hmm iya sih buat yang tinggal dipulau Jawa biasanta memang jarang naik pesawat karena antar propinsi bisa terhubung lewat darat, pengalaman teman-teman kantor saya dulu begitu. Sekalinya naik pesawat ya karena ada penugasan dinas ke daerah atau jalan2 deh keluar negeri
    Sementara buat kami yang tinggalnya nun jauh dipulau-pulau luar Jawa mau gak mau sering naik pesawat deh karena harus bepergian ke daerah lain yang mana moda transportasi daratnya gk memungkinkan

    Selamat ya mas, pertamakali naik peswat dapatnya garuda euy

  2. kekekenanga says:

    Alhamdulillah nggak mimisan kan hehehee..
    Tentang kecelakaan pesawat bagus atau nggak maskapainya semua kembali lagi pada takdir, bahkan daun jatuh pun sudah tercatat di lauful mahfuz 🙂

    • Iqbal says:

      wah pending lama banget ni komen. baru sempet di approve, hehe. Baru sempet buka.
      Bener, itu semua takdir. Semoga kita selalu mengimaninya, qada dan qadar 🙂

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s