Pulogadung Tak Bertabur Berlian, Pulanglah!

Sebagai ibukota Negara Indonesia, yang menjadi daya tarik para pencari kerja dari daerah, Jakarta tidak cukup ramah. Macet dan kondisi tata ruang yang sebegitu semrawutnya bukanlah tempat yang nyaman bagi siapa saja yang berniat untuk hidup lama menghabiskan sisa umur di sana. Memang dibanding dengan kota besar lainnya, Jakarta sudah terlampau padat. Atap rumah sambung menyambung antara rumah yang satu dengan yang lainnya, begitu pula dengan temboknya, satu tembok untuk semua. Jalan masuk perkampungan pun hanya setapak saja, hingga sepeda motorpun harus antre giliran lewat ketika berpapasan. Tak ada lagi lahan kosong. Pertumbuhan rumah itu ke atas, gak ke samping.

Jakarta keras!

Jakarta cadas!

Namun rasanya seseorang belum bisa merasakan cadasnya Jakarta yang sesungguhnya kalau belum pernah masuk ke terminal busnya. Hey kalian yang ingin tau betapa keras dan cadasnya kehidupan Jakarta,  datanglah ke terminal busnya. Maka kalian akan melihat miniatur cadasnya metropolitan. Terminal senen, tanjung priok, lebak bulus, kampung rambutan, atau bahkan terminal pulogadung. Ya, yang terakhir ane sebut mungkin patut dicoba. Tapi hey jangan sekali-kali sendirian mencobanya kalau belum pernah datang sebelumnya.

Mungkin sebenarnya terminal di Jakarta tidak semenakutkan yang dibayangkan. Namun percayalah, tiap kali memasuki kawasan tersebut, adrenalin kita sedikit atau banyak akan terpacu lebih cepat. Kemudian tempat itu akan berubah menyerupai sarang penyamun. Ini sudah menjadi topik yang paling sering diceritakan di kalangan para perantau di Jakarta.

Sebagian besar dari mereka yang berasal dari daerah lain di pulau jawa biasanya menggunakan bus untuk mondar-mandir ke Jakarta. Muara dari perjalanan itu tentulah sebuah terminal. Di situ lah cerita itu berkembang dari mulut ke mulut. Dan ane sendiri pernah mengalaminya. Bahwa terminal di Jakarta telah seperti sebuah sarang penyamun.

Bisa jadi sebenarnya ane saja yang terlalu cupu menghadapi situasi di terminal. Dulu ketika jaman kuliah, ane pulang pergi ke kampung-Jakarta naik bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi). Tiap kali ane ngobrol dengan penumpang yang naik bus, ane selalu bertanya,” Mas kerja apa di Jakarta?”. Jawabannya beragam :

Kuli bangunan, mas…

Montir di bengkel, dek…

Bongkar muat barang…

Angkat-angkat di pasar…

Tambal ban, ban truk tronton…

Gak tentu, kadang jualan di pasar, kadang tukang jagal. Jagal sapi..

Ane seolah menjadi orang tercupu di dunia saat berada di tengah-tengah mereka. Barangkali orang-orang dengan pekerjaan seperti mereka sudah akrab dengan kondisi terminal dan menganggapnya biasa saja. Beda dengan ane. Status ane yang dulu masih sebagai mahasiswa seolah tidak ada baunya sama sekali di tengah-tengah mereka. Anak kemarin sore, anak masih bau kencur. Ane merasa ciut. Ane merasa kecil. Dan kondisi itu terus berlanjut ketika ane sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan di Jakarta sekarang. Iklim terminal memang tidak cukup bersahabat dengan pegawai kantoran.

Dilihat dari tingkat kecadasannya, ane harus mengakui bahwa ada satu terminal yang memang hanya orang-orang terpilih saja yang kuat masuk ke dalamnya, orang yang cadas. Terminal itu adalah terminal Pulogadung, Jakarta Timur.  Dan celakanya, pulogadunglah terminal terdekat yang dapat dijangkau dari tempat tinggal ane di Jakarta, yang melayani perjalanan ke daerah dengan bus AKAP. Ketika tiket kereta api tak mungkin didapatkan maka tinggallah ane berharap, semoga Allah masih memberi kesempatan ane hidup setelahnya. Ya, setelah ane masuk terminal bus.

Sebenarnya bukannya tidak pernah sama sekali masuk ke terminal pulogadung. Ane sudah beberapa kali datang ke tempat itu. Tentunya karena gak ada pilihan lain. Dari yang kesekian kali itu, ane berhasil  mengumpulkan informasi  yang patut menjadi perhatian bagi calon penumpang di terminal pulogadung.

  1. Calo Tiket

Sebagian besar terdiri dari kumpulan orang dari etnis tertentu. Mereka masing-masing tersebar di pintu masuk dan pintu keluar terminal. Ada juga yang menunggu di pintu keluar halte busway yang terhubung ke dalam terminal. Ada pula yang ngetem di sekitar bus yang baru datang atau hendak pergi.

Satu hal yang patut diwaspadai adalah mereka tidak segan melakukan kontak fisik dengan penumpang yang membandel. Bisa dalam bentuk dorongan, tarikan tangan, atau bahkan sebuah tonjokan. Pernah bapak ane ditonjok perutnya karena gak mau nurutin kata si calo. Temen ane juga banyak yang dipaksa-paksa ditarik tangannya supaya menuruti apa yang mereka katakan.  Dari beberapa kondisi yang telah ane alami, ane punya beberapa cara yang sebaiknya dilakukan ketika berhadapan dengan calo:

  • Kenalilah kondisi terminal yang meliputi tata letak dimana bus yang akan kita tumpangi berada dan atribut seragam petugas resmi PO tujuan anda. Biasanya satu PO akan berkumpul, berkelompok di suatu area tertentu.
  • Ketika ditanya tujuannya mau kemana, jangan langsung dijawab. Aturlah tempo terlebih dahulu dengan langkah kaki biasa tak usah terlalu cepat sambil menuju ke arah PO tujuan kita. Setelah beberapa saat, jawablah dengan sebenarnya tujuan kita dengan menunjuk ke bus yang akan kita tumpangi.
  • Jawab setiap pertanyaan dengan intonasi yang rendah/datar. Intonasi yang meninggi akan semakin menyulut amarah abang calo.
  • Jika calo memaksa mengarahkan anda ke tempat tertentu, usahakan tempat itu tidak jauh dari bus yang anda tuju ngetem. Turuti mereka sambil mencari petugas PO resmi. Setelah ketemu, jangan ragu untuk berpaling ke arah petugas PO resmi tersebut. Mereka akan membantu anda.
  • Pasang muka penuh percaya diri. Tak usah tengil.
  • Berbusanalah biasa saja, tak perlu terlalu mewah. Pakaian kumal dianjurkan. Ini sedikit banyak akan mengaburkan pandangan abang calo.
  • Bawalah barang bawaan seminimal mungkin. Barang bawaan yang banyak akan mempersulit pergerakan anda.
  • Jangan terlalu banyak mencari-cari arah. Seseorang yang bingung akan arah mata angin, tengak-tengok, tolah-toleh, celingak-celinguk, akan menjadi sasaran empuk abang calo. Mereka akan mendiskreditkan anda.
  • Cekatan
  • Teguh pendirian dan sabar.
  1. Pedagang Asongan

Merupakan salah satu jenis pedagang dengan sistem jemput bola. Mereka akan menghampiri calon pembeli seraya menawarkan barang dagangan yang dibawanya dalam sebuah kotak. Biasanya mereka akan melontarkan kalimat-kalimat persuasif agar penumpang membeli dagangannya . Teknik marketing seperti ini sudah mereka jalankan sejak lama.

Jadi, tak usah heran ketika anda sedang duduk manis di dalam bus sembari menunggu keberangkatan, tiba-tiba ada yang menawari anda berbagai macam jenis barang atau makanan. Yang perlu diperhatikan, barang atau makanan itu tidak disediakan secara cuma-cuma. Mereka bukan sedang bagi-bagi sedekah. Bagi anda yang memiliki daya beli dan memang butuh barang atau apapun yang mereka tawarkan, belilah secukupnya saja. Tidak usah dibeli semuanya sampai kotak asongannya. Itu modal bagi mereka untuk hidup. Dan satu hal yang harus diperhatikan, tidak usah menawar harga. Ini bukan di pasar. Dianjurkan membayar dengan uang pas atau uang kecil karena mereka akan kesulitan mencari uang kembalian kalau kita membeli dengan uang gede.

Bagi anda yang memang tidak membutuhkan barang yang mereka tawarkan dan memang tidak ada keinginan untuk membeli, tolaklah dengan halus. Mereka perlahan akan meninggalkan anda untuk kemudian beralih ke calon pembeli lain yang lebih menjanjikan. Jangan heran kalau pedagang yang lain di belakangnya akan kembali menawarkan barang dagangannya kepada anda. Teguhkan pendirian dan bersabarlah.

  1. Pengamen

Tak lengkap rasanya jika di terminal tak ada pengamen. Biasanya mereka membawa alat musik berupa gitar. Yang agak bermodal akan dilengkapi dengan drum. Ada pula yang hanya bermodal kecrekan dari tutup botol atau botol air mineral yang diisi dengan beras sebagai alat musik. Semakin lengkap alat musiknya, penumpang yang mendengar akan semakin segan akan keberadaan mereka di dalam bus. Apalagi jika suaranya enak didengar ditambah dengan penampilan yang enak dipandang. Pengamen yang niat seperti ini biasanya akan memperoleh uang lebih banyak karena apresiasi penumpang yang baik terhadap mereka. Beda dengan pengamen yang hanya mengandalkan belas kasihan.

Namun tak jarang ada pengamen dengan penampilan urakan. Mereka memaksa penumpang agar memberikan imbalan atas suara mereka. Yang gak ngasih akan disumpah-sumpahin dan didoakan yang jelek-jelek. Pun dengan yang cuma ngasih dikit. Mereka tak ubahnya pemeras. Ya, pemeras bergitar.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, maka sediakanlah uang receh khusus untuk pengamen. Perihal itu diberikan atau tidak kepada mereka, itu adalah hak anda.

  1. Peminta-minta

Usianya bervariasi dari anak kecil sampai nini-nini dan aki-aki. Sebagaimana umumnya peminta-minta, penampilan mereka terkesan kumal. Entah dikumal-kumalin atau memang beneran kumal dari sananya. Dengan penampilannya itu mereka akan berusaha membujuk penumpang untuk memberikan sebagian rizkinya kepada mereka. Dengan doa-doa yang menakjubkan mereka berusaha mengajak penumpang untuk beramal yaitu dengan memberikan sedekah kepada mereka dalam bentuk uang. Tak berharap banyak, uang receh pun tak apa.

Perihal memberi atau tidak, tanyakanlah pada hati nurani.

  1. Pedagang Batu Akik

Maraknya fenomena batu akik belakangan ini membuat sebaran pedagang batu akik semakin luas. Kini pedagang batu akik hadir di terminal bus. Menghampiri tiap penumpang di dalam bus dengan batu akik yang tersusun rapi di kotak asonganya. Namun waspadalah dengan pedagang batu akik yang ada di bus-bus. Ini berdasarkan pengalaman ane beberapa bulan lalu ketika naik bus di terminal pulogadung.

Seorang pedagang batu akik yang kira-kira umurnya masih sepantaran anak SMP, menawarkan batu akik kepada ane yang lagi duduk di dalam bus sembari menunggu keberangkatan. Awalnya ane menganggap pedagang akik itu biasa saja seperti pedagang asongan yang lain. Namun semakin lama, dia menawarkan batu akik dengan meninggikan nada bicaranya. Lama kelamaan ia memaksa ane untuk membelinya. Ane dengan halus menolaknya berkali-kali karena memang tidak gemar dengan bebatuan. Namun anak itu tetap memaksa ane untuk membelinya. Dia berdalih bahwa uang yang ia dapat akan ia gunakan untuk makan. Yang ane heran, dia menawarkan cincin akik entah asli atau palsu dengan harga Rp3000 saja. Ya, cuma Rp3000 untuk sebuah cincin akik.

Karena terus memaksa akhirnya ane kasih Rp3000 untuk satu cincin akik yang lebih terlihat seperti permen Fox’s yang dipasangkan di sebuah cincin. Entah kenapa anak itu enggan beranjak walaupun sudah ane beli cincinnya. Anak itu malah menyuruh ane untuk membuka label yang terpasang di cincin itu. Ane sempet curiga, namun kecurigaan ane cuma berlalu saja. Ane melepaskan label itu dari cincinnya dan seketika itu juga si penjual akik itu bilang bahwa label itu adalah semacam potongan harga. Kalau rusak atau dibuka maka harganya menjadi lebih dari Rp100.000,00. Dan ane harus membayarnya waktu itu juga. Ane pun tertawa. Namun tawa ane disambut dengan bentakan dan pukulan ke lengan ane.

Dia mengancam kalau tidak mau bayar maka dia akan memanggil seluruh abang-abang yang ada di terminal pulogadung ini. Entah abang-abang yang mana yang dimaksud. Sebenarnya ane tidak takut akan ancaman anak itu tapi ane gak mau cari ribut, sehingga ane coba tawar harganya jadi Rp75000 . Anak itu sempat bersikukuh gak mau, namun karena ane tawar terus menerus maka setuju lah ia dibayar dengan Rp75000.

Berkaca dari kejadian itu, maka berhati-hatilah dengan modus pemerasan yang tergolong baru ini. Tak usah segan untuk menolak tawaran-tawaran yang aneh dan abaikanlah rasa belas kasihan anda terlebih dahulu. Belas kasihanilah orang yang tepat.

Seperti itulah kira-kira kondisi terminal pulogadung yang sebenarnya, berdasarkan pengalaman ane. Mudah-mudahan informasi yang sudah ane sampaikan bermanfaat bagi anda yang memang ingin datang ke terminal pulogadung baik dalam keadaan terpaksa ataupun tidak. Tetaplah waspada dan mawas diri selama di sana. Pikirkan masak-masak sebelum memutuskan pergi ke sana. Karena Pulogadung bukan untuk orang-orang cupu. Bukan pula untuk orang-orang yang kecil nyali.

Pulogadung tak bertabur berlian, Pulanglah!

Advertisements

8 thoughts on “Pulogadung Tak Bertabur Berlian, Pulanglah!

  1. izzawa says:

    Mengerikan sekali…kebetulan adik saya juga igin mencoba peruntungan ke jakarta dalm wktu dekt ini….Lama kelamaan saya jd mikir apa begtu tmbh sedikitnya lap kerja d negara kita ini? Atau msh bgtu maraknya nepotisme

  2. itsmearni says:

    Huaduh agak-agak horor ya reviewnya
    Bertahun-tahun tinggal di Jakarta, jujur aja saya hampir tak pernah menginjak terminal
    Selain memang tak ada keperluan kesana, cerita horor kayak gini cukup menciutkan nyali sebelim melangkahkan kaki ke terminal

    • Iqbal says:

      Tapi mungkin itu cuma di pulogadung doang sih mba yang lebay. Apa tulisanku yang membuatnya jadi lebih lebay, hehehe. Tapi memang sih pulogadung terkenal kyk gitu. Jangan takut mba terminal-terminal lain mungkin lebih bersahabat.

  3. anislotus says:

    Kalo ke terminal yang baru pertama di datangi, sy selalu “macak” orang lama… jalan dengan pede nya seakan-akan sudah lama mengenali terminal itu. Padahal ngga tau arah tujuannya ke mana… :mrgreen: yang penting nggak keliatan bingung

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s