Bukan Salah Tukang Cukur: Pangkas Rambut Cinta Remaja (AC) dan Bahagia

Jarang-jarang ane pergi ke tukang cukur di tengah pekan. Biasanya sih akhir pekan. Kalo gak sabtu ya minggu. Triggernya sebenernya berawal dari komentar teman sekantor ane.

Entah mengapa tiba-tiba temen sekantor ane bilang,”Mas, jangan lupa bahagia ya”.
“Kenapa?”, sahut ane.
Namun tak sepatah katapun keluar dari mulut temen ane. Tersenyum lalu berlalu. Temen yang gak jelas.

Indikator pertama yang digunakan untuk menilai kebahagiaan seseorang adalah raut wajahnya. Dan ane berasumsi bahwa wajah ane tidak mencerminkan orang yang sedang bahagia. Berangkat dari situlah ane bergegas menuju ke ruang sebelah. Di situ ada cermin.

Apa yang ane lakukan?

Ya, berdiri didepannya dan mematung beberapa saat. Ane coba tersenyum. Okeh, mungkin ini tindakan yang konyol. Orang boleh bilang ane gila.
Setelah ane lihat dengan seksama, yang tampak di cermin adalah sosok manusia dengan penampilan yang menyedihkan, tak terawat, kumal, dan terkesan jarang mandi. Sumber dari segala sumber permasalahan itu ada pada rambut ane. Beberapa orang memang terlihat keren dengan rambut panjang. Ane? Busuk…

Baik, sudah terkumpul cukup alasan mengapa temen ane berkata seperti itu. Memang beberapa minggu terakhir, pekerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya, menggunung. Gak ada waktu untuk mengurus penampilan. Dan memang inilah yang membuat ane sering garuk-garuk kepala di tengah pekerjaan. Mungkin beberapa kecoa tengah bermain. Cukup mengganggu.

Menunggu akhir pekan? Tidak, ane harus pangkas rambut sore itu juga.

Hal pertama yang harus ane lakukan sore itu adalah pulang cepet alias tenggo! Itu adalah menjadi mitos beberapa bulan terakhir.
Baiklah, untuk pulang cepet bararti harus minta izin dulu ke bu bos. Supaya gak sendirian dan kalo dimarahin juga ada temennya ane mengajak temen seruangan ane buat temen pulang tenggo.

Apa yang terjadi sore itu? Ya, kami berhasil tenggo, dengan tambahan sindiran pedas bu bos. Tak mengapa. Namun bukankah tenggo adalah hak? Kami menuntut hak setelah menjalankan kewajiban seharian. Turunkan BBM!Hidup! 😦

Setelah sampai di kosan dengan perasaan yang sungguh gak enak karena sindiran bu bos tadi, ane merebahkan badan guna melepas lelah sejenak. Pangkas rambut menjelang maghrib bukanlah waktu yang nyantai. Ane memutuskan untuk pergi potong rambut selepas maghrib.

Sudah tiba waktunya, ane bergegas ke tukang cukur deket kosan. Memang tempat pangkas rambut yang ane tuju bukan langganan ane seperti biasanya. Sehubungan dengan tutupnya tempat pangkas rambut langganan ane yang gak tau kenapa sebabnya, ane berpaling ke tempat pangkas rambut yang lain. Pangkas Rambut Cinta Remaja (AC).

Dilihat dari penamaannya, pangkas rambut ini cocok untuk kawula muda. Tempat ini sepertinya menampung aspirasi jiwa muda yang tengah meledak-ledak. Label AC, menambah daya tarik tempat ini. Potong rambut di ruangan berAC akan terasa menyenangkan. Mungkin ini alternatif tempat pangkas rambut yang tepat.

Benar saja, baru sampai di depan pintu, langkah ane harus terhenti. Nampak dari luar, kursi tunggu yang hampir penuh. Cukup banyak orang di dalam. Entah mengantre untuk potong rambut atau hanya sekedar mengantar saja. Perlahan pintu ane buka dan udara sejuk langsung menyapa wajah ane. Belum sempat separuh tubuh masuk, si tukang cukur langsung bertanya,”Mas, nunggu banyak gak apa-apa? Paling enggak setengah delapan. Habis solat isya.”
“Ya mas, gak papa”, jawab ane penuh pengertian.

Ane duduk dan menanti….

Sekali lagi ane diberi kesempatan untuk bercermin. Sembari duduk di kursi tunggu, ane sesekali melihat ke cermin yang terpampang di depan. Memang terlihat kelelahan dari wajah ane. Benar juga apa yang dikatakan temen ane tadi. Ane seperti orang yang lupa bagaimana caranya bahagia.

Selama waktu menunggu, seseorang akan diberi kebebasan untuk menerka-nerka kemungkinan- kemungkinan. Itu hanya berlangsung di pikirannya saja. Gak jarang ini menimbulkan konflik batin. Sehingga banyak yang berpaling dari tujuan. Banyak yang pergi. Karena menunggu hanya untuk orang yang punya keyakinan teguh. Tidak mudah…

Adzan Isya berkumandang…

Aktivitas pangkas rambut dihentikan. Ya, ini adalah contoh yang harus jadi panutan. Si tukang cukur tak gila akan dunia. Ia meminta maaf kepada orang-orang yang tengah menunggu lama, termasuk kepada ane. Ia pamit untuk pergi ke masjid untuk menunaikan solat Isya. Melihat tindakan tukang cukur itu ane lalu berpikir. Jika ane tetap tak beranjak dari kursi tunggu ini, waktu akan sia-sia terbuang. Gak ada hasil yang berarti. Ane hanya akan nyaman dengan sejuknya udara AC yang hanya sesaat saja. Selebihnya? Ane akan nyaman dengan kesia-siaan.

Ane segera keluar dari tempat pangkas rambut dan bergegas ke sumber panggilan adzan berasal. Solat Isya.

Kembalinya dari solat isya, badan ane terasa segar dan rasa kantuk hilang. Ane lalu kembali ke tempat pangkas rambut tadi. Ya, kalau bukan karena keyakinan yang kuat, ane gak akan kembali lagi. Menunggu lagi. Sekarang dengan dua orang tambahan antrean orang lagi. Seharusnya ane dicukur setelah bapak-bapak yang membawa anaknya tadi. Semoga si tukang cukur mengerti bahwa ane telah menunggu sedari tadi.

Setelah selesai mencukur bapak-bapak dengan anak kecilnya, abang tukang cukur duduk sejenak sambil meneguk air mineral yang memang sudah disediakannya. Terlihat salah seorang dari pendatang baru bersiap-siap berdiri menuju ke kursi tempat cukur. Ane woles aja bray. Apa yang terjadi terjadilah..
Namun ternyata, si abang tukang cukur mempersilakan ane untuk menempati kursi itu. Ini buah dari kesabaran menunggu. Ini terjadi tak lain karena ane punya keyakinan kuat bahwa ane akan dicukur pada waktu yang tepat dan indah. Dan waktu itu telah tiba.

Dengan percaya diri ane berdiri dan melangkah menuju singgasana yang telah dipersiapkan. Lalu duduk dengan berwibawa sambil melempar senyum ke pendatang baru tadi sambil bergumam dalam hati,”woles aja bray, menunggu adalah pekerjaan orang yang punya keyakinan. Itu…”.

“Dicukur model apa mas?”, tanya abang tukang cukur.
“Biasa bang. Standar,” jawab ane penuh harap. Seluruh tukang cukur di penjuru negeri ini akan mengerti jika pelanggannya minta dicukur dengan model “standar”.

“Pendek atau sedang?,”lanjut abang tukang cukur.
“sedeng aja bang. Gak usah disasak,” jawab ane mencoba mengarahkan abang tukang cukur agar tidak menciptakan model rambut layaknya model sasak para istri pejabat.

Setelah cukup mendapat keterangan, si abang langsung menyalakan mesin cukurnya, memasang mata pisau cukur yang pas untuk model rambut sesuai permitaan ane, dan mengeksekusinya. Kombinasi antara gunting cukur manual dan mesin pencukur rambut meyakinkan ane bahwa model standar akan menjadi favorit ane. Kombinasi keduanya menghasilkan potongan yang gak berlebihan dan menciptakan citra yang kalem kepada orang yang dicukur. Ini yang ane butuhkan. Potongan rambut yang tidak sombong. Setiap yang melihatnya pasti akan memperlihatkan kesan bahagia.

Dari rangkaian proses itu ane menyadari bahwa bahagia memiliki makna penting. Bahagia tak cukup hanya mengembang di dalam hati. Bahagia juga milik orang lain. Ketika orang lain bahagia karena melihat kita penuh kebahagiaan maka adakah ini sebuah kesalahan? Bahwa berbagi kebahagiaan dapat diciptakan dimulai dari hal kecil seperti mencukur rambut.

Seperti virus, bahagia bisa ditularkan. Jangan biarkan diri kita, orang-orang di sekitar kita, yang kita cintai, lupa bagaimana caranya bahagia.

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Salah Tukang Cukur: Pangkas Rambut Cinta Remaja (AC) dan Bahagia

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s