Sebut Saja Bunga

Bekerja di kantor dengan frekuensi mutasi pegawai yang cukup sering, ada senang ada juga sedihnya. Senangnya, kita kaya akan kompetensi karena banyak menguasai hal-hal baru yang bahkan sebelumnya belum pernah kita kuasai. Relasi pun akan bertambah banyak. Tidak melulu dengan orang-orang itu saja partnernya.

Nah sedihnya, kita akan terasa berat meninggalkan semua yang ada di tempat lama. Atasan, kawan, ruang kerja, lengkap dengan suasananya dan tentu saja kita akan meninggalkan kenyamanan. Okelah untuk yang dimutasi ke bagian lain namun masih dalam satu kantor dan masih di pusat mungkin gak akan begitu berat. Namun, kantor ane punya kantor vertikal di 5 daerah di Indonesia. Ya masih kota besar sih.

Tidak menutup kemungkinan setiap pegawai kena mutasi dan dipindah ke daerah. Gak masalah juga sih kalau balik ke homebasenya. Nah kalau dipindah ke daerah yang bukan homebase gimana ceritanya? Oleh karena itu, isu mutasi pegawai merupakan salah satu isu yang paling banyak mendapatkan perhatian semua pegawai di kantor ane.

Dan pada bulan april 2015 pun ane kebagian jatah…

Ya, pindah ke ruang seberang. Masih satu kantor, satu lantai. Semua nampak baik-baik saja.

Selama hampir setahun bekerja di bagian yang baru, ane merasa menjadi manusia yang lebih berguna. Banyak pekerjaan yang berhubungan langsung dengan  pegawai. Ane ditempatkan di bagian kepegawaian. Kalo istilah kerennya HRD. Human Resource and Development.

Tenaga ane serasa lebih bermanfaat daripada dulu di tempat yang lama. Dulu ane lebih merasa seperti free-rider. Paling banter dapet undangan rapat. Datang dengan muka kosong, duduk, dengerin orang ngomong, kemudian ngantuk. Tau-tau dapet snack, melek, balik, hidup sejahtera. Ya, penuh dengan kenyamanan. Saking nyamannya, begitu dapet SK mutasi dunia ane seakan gelap. Kebahagiaan ane terusik. Memang berat meninggalkan sebuah kenyamanan.

Saking bergunanya tenaga ane di tempat yang baru, segala pekerjaan yang belum selesai, masih nggantung yang tadinya dikerjakan orang lain, ane pun diminta membantu menyelesaikannya. Bu bos memang pandai sekali memberdayakan bawahannya. Tidak hanya urusan yang berhubungan dengan tugas dan fungsi kantor namun juga yang tidak ada kaitannya. Baru-baru ini ane dapet limpahan kerjaan untuk mengurus koperasi. Sebelumnya kerjaan itu ditangani oleh senior ane. Bukan senior sih, sesepuh lebih tepatnya. Mengapa ane bilang sesepuh? Ya, beliau sudah akan masuk masa pensiun. Awal tahun 2016 beliau akan pensiun PNS. Satu alasan yang membuat Bu Bos memilih ane adalah biar kontrolnya mudah. Urusan koperasi adalah urusan yang sedikit banyak berhubungan dengan uang. Dan itu uang milik orang banyak. Jika pengurusannya diserahkan ke sembarang orang yang belum jelas latar belakangnya, akan menjadi tidak jelas kontrol dan pertanggungjawabannya. Dan entah kenapa doi memilih ane. Padahal masih banyak anggota lain yang lebih berpengalaman. Mungkin ane terlalu polos. Sayang kalo gak diberdayakan.

Bu Bos belum tau aja siapa yang ngasih racun sianida ke Mirneng

Doi juga belum tau siapa yang jadi dalang teror Sapinah. nyahaha

Ya, setidaknya perilaku ane terlihat baik menurut sudut pandang Bu Bos. Penyamaran ane berhasil.

Seperti kerjaan-kerjaan sebelumnya, ane gak bisa nolak. Ane terima gitu aja walaupun gak tau sebenarnya kayak apa sih kerjaan itu. Dipikir karo mlaku.

Sebenarnya ane janggal dengan urusan perkoperasian itu. Beberapa teman mengatakan bahwa di dalamnya ada praktek yang tidak diperkenankan menurut islam. Ane cuma bilang “ah masa sih?apa-apa diharamin”. Dan berhenti sampai di situ tanpa mencari tahu lebih mendalam tentang perkara tersebut. Di awal keanggotaannya dulupun ane hanya ikut-ikutan temen saja. Temen banyak yang daftar jadi anggota koperasi, ane ikut daftar. Ada salah satu temen ane yang baru daftar kemudian beberapa hari kemudian memutuskan untuk keluar dari keanggotaan. Ketika ane tanya apa sebabnya. Dia menjawab bahwa di dalam prakteknya koperasi itu memperoleh pendapatan dari bunga. Apa artinya? Ya, di situ ada praktek riba yang menurut islam haram. Namun ane takmelakukan tindakan apapun mendengar apa yang dikatakan temen ane itu, hanya mengambang saja. Berlarut-larut ane membiarkannya.

Hingga tiba pada suatu hari, tugas pengurusan koperasi anggota luar biasa diserahterimakan dari sesepuh ane ke diri ane sendiri. Ane dijelaskan bagaimana caranya mengelola administrasi koperasi tersebut. Dari mulai menerima setoran dari para peminjam uang sampai memberikan pinjaman bagi para anggota yang sudah diperkenankan untuk meminjam sejumlah uang dari koperasi. Dari penjelasan yang ane dapatkan ane menemukan beberapa yang janggal. Ada seseorang meminjam orang Rp2.000.000,00. Uang itu dibayarkan dengan cara mengangsurnya Selama periode waktu tertentu dan ketika seluruh uang angsuran yang telah dibayarkan itu dijumlah ternyata jumlahnya menjadi Rp2.400.000,00. Ada kelebihan sejumlah Rp400.000,00.

“Kenapa si peminjam harus bayar lebih pak?”, tanya ane.

“Ya, itu namanya uang jasa, dek. Tiap yang pinjam pasti kita kenakan 400.000. Buat uang jasalah istilahnya. Uangnya bukan buat kita, tapi buat pemasukan koperasi.”

Okeh. Ane sedikit demi sedikit mendapat keterangan. Uang jasa, sejumlah uang yang harus dibayarkan seseorang ke koperasi setelah koperasi memberi pinjaman uang kepadanya. Untuk menambah keyakinan, ane mencoba untuk membaca artikel tentang koperasi, riba, dan kaitannya. Ane juga coba cari video ceramah tentang riba. Berikut yang ane berhasil temukan.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc

Dosa yang paling ringan dari riba saja setara dengan laki-laki yang berzina dengan ibunya sendiri. Naudzubillah…

 

Ustadz Dr Erwandi Tarmidzi

Solusinya dengan jual-beli

 

Ustadz Aris Munandar

 

Ane semakin yakin bahwa di koperasi yang ada di kantor tempat ane bekerja, telah melakukan praktek riba. Niat awalnya sih baik, ingin menumbuhkan nilai sosial yaitu membantu orang lain yang sedang kesulitan dalam hal finansial. Namun ane rasa nilai-nilai sosial seharusnya tidak dicampuradukkan dengan upaya untuk memetik keuntungan duniawi. Ketika ada orang meminjam sekian rupiah yang dikembalikan ya sejumlah uang yang dipinjam. Mengapa harus ditambah kelebihan sejumlah rupiah tertentu? Ada upaya yang memang dilakukan untuk mengambil keuntungan yaitu berasal dari kelebihan pengembalian tersebut. Pendapatan yang berasal dari bunga pinjaman kepada anggota jelas merupakan salah satu bentuk riba. Jelaslah sudah.

Berbekal dari keyakinan yang kuat itu, untuk pertama kalinya ane berani menolak pekerjaan yang diberikan atasan. Ane bilang sejujurnya kepada doi bahwa ini gak pas sama apa yang agama saya ajarkan. Bahwa praktek-praktek ribawi seperti itu gak ane sukai. Ane takut sekali dengan tanggung jawab kelak di akhirat. Berusaha membantu orang namun ditempuh dengan jalan yang salah. Bukankah masih ada cara yang lain yang lebih mulia?

Setelah ane jelaskan, Alhamdulillah bu bos bisa menerimanya dengan baik. Beban yang selama ini terus menggantung di dalam hati seakan hilang. Lega rasanya.

Pembaca yang budiman, yang senantiasa dalam lindungan Allah swt semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita yang ane alami di atas. Bahwa jelas, riba adalah haram dan termasuk salah satu dari dosa besar.

Apapun bentuknya, seindah apapun namanya.

Ya….sebut saja uang administrasi, uang jasa, uang sukarela,

Atau sebut saja dengan nama bunga,

Seolah-olah indah, menawan, dan harum semerbak.

Namun hakikatnya adalah tetap riba,

Nama tidak bisa mengubah hakikat.

Advertisements

One thought on “Sebut Saja Bunga

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s