Bubur Ayam Tuk Sekeping Cinta

Beberapa waktu yang lalu dunia dihebohkan dengan isu bubur. Bukan, bukan tentang sinetron Tukang Bubur Naik haji yang melegenda itu. Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat dihebohkan dengan golongan-golongan orang yang memakan bubur. Katanya di dunia ini cuma ada dua golongan. Golongan bubur diaduk dan golongan bubur tidak diaduk.

Sebagai orang yang cukup sering menikmati bubur ayam, ane tentunya tertarik dengan segala isu yang berkaitan dengan perbuburayaman. Dengan tegas ane mempertahankan filosofi bahwa bubur ayam akan lebih enak dinikmati tanpa mengaduknya terlebih dahulu. Anda bisa membayangkan ketika bubur dan semua komposisi yang menyusunnya sehingga dapat disebut sebagai suatu bubur itu kemudian diaduk, dibolak-balik hingga tercampur secara merata. Percayalah, tiap-tiap bahan tersebut akan mengalami perubahan wujud menjadi bentuk lain yang kemudian menghilangkan sifat aslinya. Tidak berbentuk.

Ane tidak akan tega memakannya. Ane lebih merasa iba dan kasihan kepada jatidiri si bubur ayam tadi. Tidakkah engkau mengerti? Bubur ayam tidak harus diaduk dulu layaknya makanan-makanan yang lain. Okeh baiklah. Lupakan topik itu karena gak akan ada ujungnya.

Memang bubur ayam adalah menu yang pas sekali untuk menu di pagi hari. Sarapan dengan bubur memang menjadi favorit di semua kalangan.  Untuk beberapa orang, sarapan dengan nasi akan sangat megenyangkan sekali dan taukah kamu kondisi perut di pagi hari? Dia ada diantara keadaan kosong tapi gak segan untuk diisi. Lapar sih lapar, tapi gak lapar banget. Dilema sekali ketika ingin mengisi perut atau tidak. Dan bubur ayam menjadi jawaban atas kebimbangan itu. Ia hadir dengan porsi dan takaran yang pas di perut untuk ukuran sarapan pagi. Tidak terlalu berat.

Memang ane tidak melakukannya tiap pagi. Biasanya ane memilih waktu tertentu untuk sarapan dengan bubur ayam. Beberapa makanan akan terasa lebih nikmat saat dikonsumsi pada waktu yang tepat. Weekend. Ane rasa akhir pekanlah waktu yang tepat. Ane akan sangat menikmati pagi ketika weekend datang. Tidak ada keterburu-buruan sehingga tiap detik yang kita lewati akan semakin nikmat. Tentunya dengan menikmati semangkuk bubur ayam di pagi hari.

Biasanya ane keluar dari kosan sekitar pukul 9 pagi untuk mencari abang pedagang bubur ayam. Dia mangkal di gang sebelah kosan. Jam segitu biasanya udah mau habis aja buburnya. Tinggal seperempat panci mungkin. Terlihat begitu favoritnya makanan ini untuk dijadikan menu sarapan di pagi hari.

Dan percayalah, untuk mendapatkan sajian bubur ayam yang nikmat itu butuh perjuangan tak kenal lelah. Jangan berharap deh langsung dilayani oleh si abang. Kamu akan melewati suatu antrean panjang dan tahuka engkau apa yang perlu dicemaskan?

Di antara antrean itu sebagian besar didominasi oleh kaum ibu-ibu. Tak mengertikah engkau ketika engkau berada di belakang antrean ibu-ibu?

Ya, adalah suatu apes yang nyata.

Akhir-akhir ini banyak yang membahas ibu-ibu yang menciptakan kecemasan di jalan raya. Ya, ketika kita naik motor di belakang ibu-ibu. Kita gak akan tau pada saat kapan ibu-ibu akan belok kanan, belok kiri, lurus atau bahkan berhenti. Karena lampu sen motor tak bisa menyesuaikan kemauan ibu-ibu. Ketika lampu sen kanan menyala belum tentu dia belok kanan. Bisa jadi ia belok kiri, lurus, atau bahkan puter balik. Kita patut cemas ketika ada di belakangnya.

Kecemasan yang lain adalah ketika kita mendapat antrean beli bubur ayam di belakang ibu-ibu. Kita gak tahu akan seberapa lama waktu yang dibutuhkan oleh si abang bubur ayam untuk menyelesaikan satu saja pesanan ibu-ibu itu. Kita benar-benar berada dalam suatu keapesan yang nyata. Ane bilang begini karena ane selalu mengalaminya.

Ane gak akan cemas ketika yang ngantre di depan ane adalah bapak-bapak, laki-laki seumuran ane atau lebih muda dikit. Kami para laki-laki adalah makhluk yang simple.

“bang, bungkus satu, yak”.

Selesai…

Atau mungkin para perempuan. Mereka adalah golongan yang tidak terlalu ribet. Kalaupun meminta pesanan dengan syarat tertentu, masih bisa dipenuhi dengan masuk akal.

“Bang, bungkus satu yak. Sambelnya di pisah aja.”

Dalam beberapa menit pesanan selesai.

Akan lain ceritanya ketika para perempuan itu kemudian berevolusi menjadi seorang ibu-ibu. Bagi kalian yang berada di belakangnya, maka ingat lah Allah. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Dalam keadaan perut kosong apapun akan menimbulkan kemarahan. Meskipun hati kalian dongkol dan dikuasai amarah. Beristifhgfar lah.

Perlua ane sampaikan bahwa suatu makhluk bernama ibu-ibu memiliki sifat yang teliti dan detil dalam memilih sesuatu. Termasuk ketika memesan bubur ayam. Biasanya dia pintar sekali membuka pembicaraan. Lihai sekali dalam membuat suasana pembicaraan menjadi akrab. Ya, tentunya dengan si abang bubur ayam.

Kemaren gak jualan ya bang, saya cariin kagak ada.”

“Et… semalem ujan gede banget yak, dingin. Enak banget tidurnya, jadi kesiangan dah ini.”

Dan dalam hitungan detik, si abang sudah berada dalam genggamannya

Saya lima deh bang, dibungkus yak.”

 “Yang 2 pake sterofoam, yang 3 bungkus plastik. Bubur sama bumbu juga kerupuknya di pisah aja, yak”.

Perlu ane sampaikan, selama pengamatan dalam waktu hampir mencapai tiga tahun tinggal di Jakarta, komposisi bubur ayam di Jakarta adalah sebagai berikut:

  1. Bubur;
  2. Bumbu (minyak) asin;
  3. Kecap manis;
  4. Potongan cakwe;
  5. Suwiran daging ayam;
  6. Taburan Kerupuk;
  7. Potongan daun seledri;
  8. Kacang kedelai (jika ada);
  9. Sambal;
  10. Potongan sayap ayam (jika beruntung).

Apa yang akan terjadi ketika komponen itu masing-masing dipisahkan? Ane tidak habis pikir pesanan dengan syarat semacam itu. Apa makannya mau digado gitu. Buburnya dihabisin dulu. Baru diminum kecapnya. Hidangan penutupnya sambel. Kan gak mungkin. Pasti nantinya akan dicampur juga kan ibu-ibu yang manis. Dan satu hal yang ane heran, si abang seperti orang kena hipnotis gitu, ketika melayani pesanan ibu-ibu itu. Nurut aja gitu.

Ya iyalah ya nurut. Kalo gak nurut mana laku dagangannya.

Ane sebenernya kasihan sama si abang ini. Udah jam-jam segitu sinar mataharinya udah putih banget, panas, belum lagi kalo nemu ibu-ibu yang menuntut waktu. Dikit-dikit nanya pesanannya udah apa belum. Mungkin benak si abang tukang bubur meronta-ronta dan ingin berkata

“ Bu, Ibu gak lihat apa… ini lagi dibikinin, udah bawel minta cepet lagi. Jualan sendiri aja nih. Saya resign aja!!!”

Lhah?

Dari apa yang dilakukan sebagian besar ibu-ibu itu, ane kemudian memiliki pertanyaan besar. Kenapa ibu-ibu bisa sedetail itu dalam memesan sesuatu. Apa memang Allah menciptakan sifat dan watak ibu-ibu seperti itu?detil dan rigid. Tetapi kenapa tidak semuanya seperti itu?kadang ane nemuin yang gak ribet2 amat.

Ane kembali berpikir, jangan-jangan dia melakukan itu semua bukan untuk kepentingannya sendiri. Dari contoh di atas mana mungkin lima bungkus dimakan sendiri. Pasti untuk orang lain. Bisa jadi anaknya, suaminya, orang tuanya atau bahkan mertuanya.

Hah? buat ane. Kita…

Ya…

Keluarga.

Boleh jadi detil permintaan itu datang dari mereka keluarganya, bisa jadi tidak. Mereka hanya terima jadi saja. Soal prosesnya diserahkan pada makhluk bernama ibu-ibu. Yang terpenting mereka mendapatkan bubur ayam yang enak. Di situ ada rasa nyaman yang ingin diciptakannya. Ya, gak habis pikir ane. Ternyata….

Ibu-ibu adalah makhluk yang detil.

Detil memperhatikan keceriaan anaknya,

Detil atas apa yang diperlukan suaminya,

Detil dengan kebahagiaan orang tua atau pun mertuanya.

Dan sadarkah kita bahwa pangkal dari kedetilan ibu-ibu itu ada pada satu kata,

“Nyaman”.

Advertisements

8 thoughts on “Bubur Ayam Tuk Sekeping Cinta

  1. apemcomal says:

    Yang lebih keren abang buburnya, bisa ingat semua pesanan aneh aneh dari semua antrian Ibu Ibu..

    Dan closingnya keren, jadi bikin pengen makan bubur ayam, eh salah maksudnya jadi pengen bikin nyaman

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s