Masker Iler

Semakin ke sini ternyata penggunaan masker mengalami perkembangan cukup pesat. Masker kini tidak hanya berfungsi menyaring udara kotor dan mikroorganisme yang masuk ke tubuh. Masker juga tidak hanya diperuntukkan bagi para pengendara motor, penderita flu, atau para pekerja kesehatan dan para pekerja di pabrik. Bagi anda yang sering bepergian menggunakan kereta api jarak jauh pasti akan tahu bahwa masker mempunyai faedah yang begitu luar biasa.

Awalnya, ane bingung kenapa tiap kali naik kereta, ane selalu mendapati beberapa orang menutupi mulut dan hidungnya menggunakan masker. Percaya atau tidak, sebagian besar yang memakai masker adalah perempuan. Ane menebak-nebak bahwa mereka memakainya dengan tujuan untuk menghindari bau-bau yang tajam (bau ketek misalnya) ataupun menghindari polusi udara yang biasanya tercemar karena asap rokok. Beberapa penumpang di angkutan darat lain punya problem semacam itu.

Namun perlu ane luruskan bahwa gerbong penumpang di kereta saat ini, walaupun  itu kelas ekonomi sekali pun, sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan. Layaknya ruangan berAC lainnya, untuk menjaga ruangan tetap dingin maka gerbong penumpang di kereta didesain dengan model ruangan yang tertutup rapat. Jadi bisa dibayangkan jika sedikit saja ada bau-bau tajam yang beredar, maka baunya akan disitu-situ saja. Jika ada asap rokok, ya asapnya akan mbulet di situ-situ saja. Itulah kenapa penumpang dilarang merokok dan membawa benda-benda yang berbau tajam ke dalam kereta. Karena bau-bau tajam sangatlah subyektif. Disukai sebagian orang namun sangat mengganggu bahkan bisa jadi membahayakan sebagian yang lain.

Dengan adanya larangan tersebut bisa dipastikan bahwa ruangan dalam gerbong penumpang tidak akan bau rokok, dan bebas dari benda-benda berbau tajam lainnya.

Dan perlu ane kasih tau bahwa di dalam gerbong kereta, Polsus KA akan mondar-mandir. Siap merenggut kebahagiaan para pecinta bau-bau tajam yang melalaikan.

Pernah suatu ketika temen ane membawa durian dari kampung, katanya enak banget rasanya, lembut, manis, dan dagingnya tebal. Durian itu dimasukkan ke dalam kardus yang tertutup rapat. Tetap saja, yang namanya durian, baunya gak bisa disembunyikan. Pada saat petugas memeriksa gerbong satu per satu tetap saja petugas tersebut dapat mencium aroma durian itu. Ketika petugas mendapatinya, temen ane diminta untuk menurunkan durian itu di stasiun berikutnya untuk diambil oleh saudara atau temennya. Jika memang tidak mau, mereka akan menyitanya. Kebahagiaan penumpang pembawa durian telah terenggut. Kau telah memutus nikmat kami pak.

Percayalah, polsus KA terlatih untuk melakukan hal-hal seperti ini. Merazia bau-bau tajam.

Jadi, bisa dipastikan bahwa gerbong penumpang kereta akan selalu steril dari benda berbau tajam ataupun benda yang menimbulkan polusi. Lalu apa faedahnya pake masker gitu bu, mbak, dek?

Satu dua kali naik kereta, ane masih bingung apa sebetulnya tujuan penggunaan masker itu. Ane mengumpulkan keterangan-keterangan apa saja yang bisa menjawab pertanyaan besar itu. Tiap kali ane naik kereta jarak jauh, ane selalu mengamati tingkah laku para perempuan-perempuan pemakai masker itu. Sering sekali ane bergumam dalam hati dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Ini pada kenapa yak? Flu masal? Ada bangkai orang? Perasaan gak ada bau apa-apa, kok pada pake masker gitu. Mayoritas perempuan lagi. Kan aneh. Daripada penasaran, bisa sih tanya langsung kepada yang bersangkutan. Kelar deh hidup lo. Namun, ane sarankan urungkan dahulu niatmu itu. Pertanyaan “apa motivasi mbak pake masker?” adalah pertanyaan yang tidak penting dan tidak cukup cerdas. Sebagian besar perempuan di kereta memakai masker. Alih-alih dijawab, kamu akan dibilang tidak peka bray, percayalah.

Dari perjalanan-perjalanan dengan kereta yang ane alami, perlahan ane menemukan suatu tindakan yang terstruktur dari para perempuan itu. Saat pertama masuk ke gerbong kereta dan duduk di kursi ane sedikit sekali menemukan orang yang memakai masker. Jarang sekali. Bahkan untuk kereta siang ane hampir tidak menemukannya. Beberapa jam kemudian, ketika malam tiba, satu per satu orang, terutama perempuan, mengeluarkan masker dari tasnya lalu memakainya menutupi mulut dan hidungnya kemudian mengaitkan talinya ke belakang. Beberapa menit kemudian mereka terlelap. Tidur.

Pandangan ane gelap. Ane juga ikut tidur ternyata.

Ketika bangun ane selalu merasakan dahaga yang teramat. Kering banget ini tenggorokan. Ane selalu membawa persediaan air untuk mengatasi masalah-masalah seperti ini. Dan sadarkah apa yang membuat kita haus ketika kita terbangun? Secara gak sadar, mulut kita akan terbuka ketika tidur dalam kondisi duduk di kursi kereta dengan posisi kepala sedikit mendongak ke atas. Mungkin kita gak sadar melakukannya tapi coba perhatikan deh penumpang lain. Mulut mereka akan dibiarkan nganga, atau bahasa kerennya ngowoh. Komponen air yang ada di mulut, perlahan akan menguap terbawa desir-desir udara AC yang semakin malam akan semakin dingin. Akibatnya dehidrasi lokal akan terjadi di dalam mulut. Pada saat itu kita membutuhkan asupan cairan dari luar.

Hmmm, jangan-jangan itu tujuan mereka memakai masker, untuk melindungi mulut mereka dari kekeringan akibat dehidrasi yang ditimbulkan oleh mulut yang terbuka dan berinteraksi langsung dengan udara. Keberadaan masker mengurangi proses penguapan air yang ada di mulut ketika kita tidur. Kelembaban mulut akan terjaga ketika tidur. Barangkali itu tujuan mereka memakai masker.

Oke. Risiko dehidrasi lokal terjadi ketika posisi kepala mendongak ke atas dengan posisi mulut ngowoh. Pada kenyataannya, seseorang bisa saja menunduk ketika tidur di kereta, baik itu miring ke kanan atau ke kiri. Hanya satu risiko terburuk yang mungkin terjadi pada posisi itu.

Yap, ngiler.

Ini seolah-olah merupakan perbuatan terhina yang akan selalu dihindari seluruh perempuan. Dan tau apa imbalan terburuk atas perbuatan itu?

Kamu akan dikucilkan oleh orang-orang sekitarmu. Minimal sepanjang perjalanan dari stasiun ke stasiun sampai akhirnya kamu harus turun di tujuan akhir dengan membawa rasa malu yang masih saja membekas. Orang memandangmu sebelah mata. Kamu akan dianggap perempuan kotor. Kotor karena iler.

Dengan munculnya risiko itu, maka masker hadir untuk memberikan solusinya. Sekarang masker telah hadir dengan bahan katun. Tau keunggulan bahan katun? Dengan bahan yang berasal dari serat kapas, katun akan lembut di kulit dan nyaman untuk dipakai. Bahan ini memiliki keunggulan dalam menyerap cairan seperti, air, keringat dan iler. Masker memberikan solusi bagi para pengiler di kereta. Ia akan menyerap iler secara maksimal sehingga meminimalisasi kemungkinan iler menetes kemana-mana. Yak, busuk sekali taktikmu mbak. Memakai masker untuk menutupi iler.

Ane berhasil menyimpulkan bahwa masker yang dipakai mbak-mbak itu mempunyai fungsi untuk melindungi mulut dari benda-benda asing dari luar masuk ke dalam mulut yang terbuka ketika mereka tidur di dalam kereta. Masker memberikan perlindungan ampuh terhadap mulut dari interaksi langsung dengan udara AC, sehingga kelembaban di dalamnya tetap terjaga. Selain itu, masker juga berfungsi untuk menutupi mulut-mulut beriler dari orang-orang yang tidur di kereta. Masker menyerap iler dengan baik dan mencegahnya tidak ndlewer kemana-mana. Cakep.

Eh tunggu bentar,hmmm…tapi apa ya yang membuat pengguna masker perempuan lebih banyak dari laki-laki?

Ane pribadi sih gak akan pake masker kalo memang gak bener-bener untuk tujuan penting. Lagian pake masker itu gak ada enak-enaknya. Satu yang pasti ketika memakai masker adalah jumlah udara yang dihirup menjadi terbatas. Seolah-olah kamu berada di planet lain yang miskin akan oksigen. Satu lagi yang perlu ane tekankan bahwa ketika pake masker kita akan menghirup bau napas kita sendiri. Bau napas kita yang keluar dari mulut akan terperangkap oleh serat-serat yang ada di masker. Apa yang terjadi? Ya, kita akan menghirupnya kembali lewat hidung. Begitu seterusnya, siklus itu akan kembali berulang. Itu sadis banget. Kelamaan memakai masker, ane bisa terkontaminasi bau napas ane sendiri. Otak ane bisa-bisa teracuni. Dari sini lah ane sadar bahwasanya udara yang kita hirup sehari-hari itu merupakan suatu nikmat yang amat besar dari sang pencipta. Kenapa kamu mendustakannya dengan memakai masker?

Mengenai ngiler, para lelaki adalah makhluk yang cuek. Ngiler ya ngiler aja gitu. Gak bakal ditutup-tutupi. Ya kalo gak ada tisu ya dilap aja gitu pake tangan. Ntar juga kering sendiri. Beres dah hidup.

Memang sih itu kembali kepada hakikat perempuan yang senantiasa harus menjaga tiap tingkah lakunya. Ini bukan berarti laki-laki tidak ya. Tapi perempuan memang diciptakan dengan segala kelembutan dan keanggunannya untuk selalu dijaga. Semua perempuan akan melakukannya. Ya, menjaga kelembutan, kecantikan, dan keanggunannya pada saat kapan pun dan dimanapun. Bahkan sampai pada hal kecil seperti ngowoh dan ngiler di kereta. Mereka berusaha menjaganya agar tetap terlihat anggun.

Ngowoh dan ngiler dengan anggun.

Dibalik sebuah masker.

Sebutlah masker iler.

Advertisements

14 thoughts on “Masker Iler

  1. fasyaulia says:

    Anjay! Masker iler lah :))))

    Aku kalau pake masker biar gak kena polusi aja sih pas naik motor. Ya lumayan juga biar ga kena sinar matahari. Tapi kalau di angkutan umum ya gak pake, tidur mah tidur aja 😦

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s