Memaknai Sepakbola Melalui Jersey KW

Kita harus mengakui bahwasanya kepopuleran sepakbola tumbuh sangat pesat dari tahun ke tahun. Hampir seluruh penduduk bumi ane pikir sepakat bahwa sepakbola merupakan olahraga paling digemari. Persebarannya merata ke semua strata dan usia. Mulai dari masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, menengah ke samping sampai ekonomi menengah ke atas. Mulai dari balita beranjak dewasa hingga aki-aki baru akil baliq pun fanatik dan cinta dengan olahraga yang satu ini. Ya begitulah kenyataannya, sepakbola menjelma menjadi olahraga yang paling populer di seluruh lini masyarakat di dunia tanpa mengenal batasan strata dan usia, bahkan gender sekali pun.

Semakin majunya teknologi informasi dari tahun ke tahun digadang-gadang menjadi salah satu faktor yang turut mendukung persebaran sepakbola hingga seperti sekarang. Saat ini orang-orang dimanjakan dengan tayangan pertandingan klub-klub sepakbola top dunia di berbagai media. Semua orang bisa mengakses dengan mudah pertandingan-pertandingan tersebut. Dengan teknologi bedebah bernama streaming, seseorang bisa menikmati pertandingan klub sepakbola manapun tanpa harus mengutuk televisi nasional yang tak mampu membayar mahalnya hak siar untuk pertandingan big match liga-liga eropa. Memang untuk menikmati sesuatu yang lebih,terkadang harus ada yang dikorbankan. Kuota internet misalnya.

Semakin pesatnya kepopuleran sepakbola kemudian menjadi lahan empuk bagi manusia untuk menjadikannya sebuah peluang bisnis. Kondisi yang terjadi saat ini, sepakbola sudah dikomersialkan untuk kepentingan pihak tertentu.  Memang dasarnya kapitalis, peluang sekecil apapun akan dimanfaatkan untuk mencari untung. Ya, sepakbola bukan hanya dikenal sebagai olahraga saja, melainkan sudah menjadi industri yang sangat menjanjikan keuntungan.

Ane rasa komersialisasi jersey suatu klub sepakbola sudah bukan rahasia lagi, bahkan sudah menjadi primadona untuk mencari untung. Anda tahu jersey? Iya, kaos tim. Kostum yang dipakai pemain sebuah klub sepakbola untuk membedakannya dengan tim lain di suatu pertandingan.

Melalui jersey, sebuah klub sebenarnya ingin menunjukkan ciri identitas mereka. Pemilihan paduan warnanya bahkan mempunyai filosofi tersendiri, bersumber pada nilai-nilai luhur dan historis klub tersebut.

Jauh berkembang, jersey bertransformasi menjadi media bagi jiwa-jiwa kapitalis untuk sebanyak-banyaknya mencari keuntungan. Dengan semakin mahalnya pembiayaan klub atas aset-aset yang dimilikinya dari mulai biaya mendatangkan pemain sampai biaya gajinya yang selangit, sebuah klub sepakbola harus memutar otak guna menjaga stabilitas keuangannya dengan mencari sumber pemasukan. Jersey klub memiliki kontribusi besar untuk itu. Mari kita bedah!

Sebuah klub sepakbola bisa memanfaatkan kepopuleran yang dimilikinya untuk menarik uang dari berbagai macam sumber. Beberapa sumber yang ditengarai memiliki kontribusi terhadap pembiayaan klub antara lain sebagai berikut :

  1. Hasil penjualan tiket pertandingan;
  2. Pemasukan dari hak siar televise;
  3. Pemasukan komersial (Sponsorship dan penjualan merchandise klub)

Dari ketiga jenis pemasukan klub tersebut, pemasukan komersial menjadi sumber yang cukup menonjol. Baru-baru ini kita mendengar berita bahwa kedatangan Ibrahimovic ke Manchester United menjadi berkah tersendiri bagi klub tersebut. Kenapa?Bukan hanya karena skilnya yang mumpuni melainkan karena penjualan jersey atas namanya yang laris bak kacang goreng. Pembelian Paul Pogba yang memecahkan rekor transfer pemain termahal di jagad sepakbola kabarnya dibiayai dari hasil penjualan jersey Ibrahimovic. Bukankah ini hahinguk sekali? Jika memang berita tersebut benar, maka penjualan jersey dan merchandise klub bukan sekedar ecek-ecek belaka. Ada begitu banyak uang yang berputar di dalamnya.

Untuk memproduksi suatu jersey, klub sepakbola melakukan kerjasama dengan perusahaan apparel, seperti Adidas, Nike, Puma,dll. Klub dan apparel terikat dalam sebuah perjanjian kontrak selama beberapa tahun dengan nilai yang telah disepakati. Ya, perusahaan apparel tersebut membayar sekian jumlah uang yang disepakati di dalam kontrak kepada klub tersebut. Selain itu, di setiap pertandingan apparel juga akan menyediakan jersey untuk pemain yang bertanding di lapangan. Sebagai timbal baliknya apparel berhak memproduksi merchandise jersey replika klub tersebut untuk kemudian dijual di toko merchandise resmi klub tersebut. Dari situlah apparel meraup keuntungan. Tentang pembagian keuntungannya dengan klub, itu tergantung perjanjian kontrak masing-masing.

Dalam perkembangannya, ternyata jersey tidak hanya diperjualbelikan saja. Jersey juga menjadi media iklan bagi berbagai perusahaan. Ini bentuk lain dari pemanfaatan kepopuleran sebuah klub sepakbola. Ketenarannya menjadi daya tarik bagi berbagai perusahaan untuk berlomba mengikat kerjasama dengan klub tersebut. Mekanisme sederhananya adalah seperti ini, perusahaan membayar sejumlah nilai uang sebagaimana disepakati dalam sebuah kontrak untuk beberapa tahun kepada klub, lalu klub menyediakan ruang kosong di jersey dan memasang nama perusahaan tersebut di sana. Kemanapun dan dimanapun klub bertanding, nama perusahaan sponsor akan mengikuti. Pada klub-klub eropa, sebagian besar sponsor yang ditempel di jersey klub hanya satu perusahaan saja. Di Indonesia, sebuah jersey bisa ditempeli lebih dari satu sponsorship sehingga jersey terlihat seperti spanduk iklan yang berjalan. Terlihat raut-raut wajah penuh beban pada setiap pemain yang memakainya.

Salah satu timbal balik yang diperoleh perusahaan sponsor atas perjanjian kerjasama itu adalah perusahaannya akan lebih dikenal oleh orang-orang di seluruh penjuru dunia. Strategi pemasaran ini cukup jitu jika memang tujuannya adalah agar brandingnya dikenal oleh orang-orang. Namun jika tujuannya untuk menarik orang supaya membeli produk atau menggunakan jasanya maka cara ini tidak cukup efektif. Anda memiliki jersey Chelsea dan tau betul bahwa sponsornya adalah sebuah perusahaan ban dari Jepang? Jika Ban mobil anda sudah usang dan butuh diganti, apakah anda akan menggantinya dengan ban buatan Yokohama Tyres sebagai bentuk kecintaan terhadap klub? Anda fans fanatik Arsenal dan punya jerseynya, ori lagi, apa anda begitu tertarik untuk menggunakan jasa Fly Emirates, terbang bersamanya?kalau gratis sih iya mungkin. Atau anda fans garis keras everton yang bangga telah memiliki jerseynya, apa anda tertarik untuk bermabuk-mabukan bersama Chang, perusahaan bir asal Thailand? Kan belum tentu. Cukstau aja kan.

Bagi penggemar fanatik sepakbola, memiliki dan mengenakan jersey klub favoritnya memang suatu kebanggaan, hukumnya Fardhu ‘ain. Ini salah satu cara untuk memberi dukungan yang nyata kepada klub kesayangan. Selain dukungan moril, dengan membeli jersey klub juga dapat membantu kondisi finansial klub. Tentunya jika jersey yang dibeli adalah asli produksi apparel klub tersebut. Memang dengan harga yang terhitung mahal, fans akan banyak menimbang sebelum membeli jersey original dari toko merchandise resmi klub kesayangannya. Hanya ada dua pilihan: lebih peduli keuangan klub atau keuangan sendiri. Ane cek jersey Manchester United (Home) 2016-2017 di MU Store, harganya $90.00. Jika dikonversikan ke Rupiah dengan kurs Rp13.000 maka harganya menjadi Rp1.170.000,- belum termasuk ongkir dari luar negeri. Kapitalis bedebah!

Meski sudah berpenghasilan pun ane kira anda akan menimbang beratus-ratus kali dan sholat istikharah berpuluh-puluh malam sebelum ujung-ujungnya memutuskan tidak membeli jersey Ori tersebut. Bukan bermaksud untuk mempengaruhi, tapi kita realistis saja lah sama keadaan keuangan kita. Klubnya kaya, anda sengsara. Jujurlah pada diri sendiri, jangan dikit-dikit gengsi.

Memang selalu ada yang dikorbankan dari sebuah sistem kapitalisme. Dalam kasus penjualan jersey ini, fans lah yang jadi korban. Kecintaan dan kebanggaan terhadap klub harus rela ditukar dengan tingginya nilai materi.

Tetapi tunggu! Tahukah anda?

Selalu saja ada orang-orang yang berhati peri. Mereka menawarkan solusi. Sebenarnya mereka lebih melihat ini sebagai peluang sih. Entah siapa yang dahulu menciptakan, yang jelas teknologi ini bisa menjadi alternatif fans sepakbola yang tak mau menggadaikan kecintaannya pada klub oleh jerat-jerat kapitalisme. Yap, memproduksi jersey dengan teknologi bernama “KW”. Dasar peri berhati busuk.

Fokus utama produksi jersey KW adalah membuat jersey tiruan semirip mungkin dengan aslinya, dengan harga semurah mungkin. Dari model potongan kainnya, warnanya, cetakan sablonnya, hingga detailnya berusaha dibuat semirip mungkin. Dari segi kualitas pasti ada perbedaan yang cukup signifikan. Lha wong namanya barang tiruan. Dari segi teknologi fungsional jerseynya sendiri pun akan sulit untuk ditiru. Dri-FIT yang dimiliki Nike dan Climacool pada Adidas contohnya. Keduanya merupakan teknologi inovasi yang didesain agar tubuh orang yang mengenakan terasa sejuk sehingga tidak banyak keringat yang keluar. Tentu sulit untuk menyamakannya karena dalam produksinya, teknologi tersebut juga memerlukan alat canggih. Sedangkan pembuatan jersey KW mau tidak mau harus menekan biaya produksi dan meminimalkan penggunaan alat-alat yang berbiaya tinggi untuk mendapatkan harga jual semurah mungkin.

Layaknya jersey Ori, jersey KW juga mempunyai segmentasi pasar tersendiri. Orang-orang kalangan ekonomi menengah ke bawah adalah target para penjual jersey KW. Produsen jersey KW seolah menangkap peluang yang timbul akibat adanya kesenjangan dalam jual beli jersey original. Mereka seolah memangkas jarak antara produsen dan konsumen.

Dengan melihat keberagaman daya beli masyarakat, jersey KW pun dibedakan lagi menjadi beberapa kelas. Beberapa yang bisa ane sebutkan antara lain KW Player issued, Grade Ori, Grade AAA, dan  Grade AA (ini mirip ukuran batu baterai sih). Produsennya pun beragam ada yang berasal dari luar negeri (Thailand, China), ada yang dari dalam negeri/ KW lokal. Harganya bersahabat sekali, di bawah 200 ribu. Bahkan untuk jerey KW lokal, harganya hanya 70 ribuan saja. Menggiurkan sekali bukan?

Satu pertanyaan yang kemudian timbul yaitu jika semua jersey KW yang diproduksi adalah tiruan maka untungnya lari kemana?

Jangan harap keuntungan yang didapat akan diroyaltikan kepada pihak apparel dari produk aslinya. Jangan harap ada pundi-pundi uang yang mengalir ke adidas atau Nike atas hasil penjualan jersey produk KW. Apalagi ke klub sepakbolanya. Makanya tidak perlu terlalu berbangga karena telah merasa berkontribusi langsung terhadap keadaan finansial klub setelah membeli jersey KW. Biasa saja. Tak ada uang sepeserpun yang diterima klub atas sumbangsih anda dalam rangka keikutsertaan anda membeli jersey KW. Jika ditelusuri, jalur sanadnya adalah lewat reseller/dropshipper/retailer kemudian ke Agen, lanjut ke Distributor, hingga sampai ke Produsen jersey KW. Terputus sampai situ saja. Ke pihak-pihak itulah larinya keuntungan dari penjualan jersey KW. Ya paling banter perusahaan apparel aslinya jadi lebih dikenal saja oleh masyarakat.

Oh ya, ada satu lagi yang akan mendapat keuntungan dari penjualan jersey KW. Perusahaan yang menyeponsori klub. Karena jersey KW dibuat semirip mungkin dengan jersey Ori, maka sesablon-sablon sponsornya pun harus tertempel di jersey. Sponsor klub tersebut secara tidak langsung dapat gratis biaya iklan tanpa harus ada usaha yang berarti. Tanpa harus keluar uang lagi.

Ane tidak menyalahkan bagaimana komersialisasi jersey original yang membunuh fans secara perlahan. Bukan kapasitas ane pula untuk membenarkan produksi jersey KW dimana ada usaha untuk membuat replika kaos original tanpa seizin perusahaan apparel aslinya. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana fans memaknai semua itu. Baik lewat jersey ori atau bahkan jersey KW sekalipun, semua itu merupakan cara orang-orang untuk lebih memaknai sepakbola. Bahwa jersey bukan sekadar simbol belaka. Lebih jauh lagi, mengenakannya pada setiap momen adalah suatu kebanggaan dan bentuk kecintaan mereka terhadap sepakbola. Karena tanpa dukungan fans baik moril maupun materil, sepakbola akan mati. Baik sebagai olahraga, maupun sebagai industri komersial.

Anyway, ada yang belum pernah ke Pasar Tanah Abang?

Advertisements

3 thoughts on “Memaknai Sepakbola Melalui Jersey KW

Komentar mereka

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s